Tampilkan postingan dengan label budaya daerah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label budaya daerah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 Desember 2008

Rumah “Si Pitung” Tinggal Kenangan


Rumah tua berarsitektur China-Belanda yang diperkirakan dibangun pada awal abad 18 oleh Letnan China Oey Djie San yang saat itu menguasai perkebunan di Karawaci–Cilongok, seperti rumah yang tidak bertuan. Namun jejak sejarah cikal bakal masyarakat China Benteng Tangerang serta keberadaan tuan tanah yang menguasai separuh perkebunan karet di Tangerang dapat terekam jejaknya.
Jejak rumah bernilai sejarah di Jalan Imam Bonjol, RT 04/03, No 142, Kecamatan Karawaci, Kota Tangerang, kini akan tinggal kenangan dan mungkin sirna selamanya. Selain sudah lama tanpa perawatan dari sang ahli waris, beberapa hari terakhir ini mulai dibongkar. Pembongkaran atap rumah yang terbuat dari kayu jati dan tembok yang terbuat dari batu bara merah menunjukkan bangunan ini akan rata dengan tanah.
Mahandis Yoanata, dari Warga Peduli Bangunan Tua (Walibatu) mengungkapkan kekecewaannya terhadap pembongkaran rumah tua yang memiliki nilai sejarah tersebut.
“Saya pernah membaca di situs Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang, rumah tua yang dimaksud, termasuk salah satu situs bersejarah bagi terbentuknya kota Tangerang. Tetapi mengapa kini di saat bangunan bersejarah tersebut hendak diruntuhkan dan dibongkar, tidak ada upaya pemkot Tangerang untuk mencegah bangunan bersejarah itu,” desak Yoanata.
Berdasarkan UU No 5 tahun 1992 tentang Benda Purbakala dan Cagar Budaya, seharusnya pembongkaran rumah bersejarah tersebut dapat dihentikan, karena bagaimanapun fisik sejarah, selama masih dapat diselamatkan haruslah dilakukan.
“Seharusnya bangunan tua bersejarah, seperti rumah tua tuan tanah perkebunan karet di masa tempo dulu itu otomatis bisa jadi cagar budaya, yang harus dan wajib dilindungi baik oleh pemerintah atau pun masyarakatnya,” terangnya lagi.
Pembuatan film Si Pitung yang sempat mempergunakan rumah tersebut, seharusnya jadi saksi sejarah bagi penerus bangsa Indonesia nantinya. Karena realita dan fisik akan lebih mengena dijabarkan selain cerita-cerita belaka. Di mana rumah megah tersebut merupakan awal muasal berkembangnya masyarakat China Benteng di Kota Tangerang.
“Pemkot harus bisa berbuat sesuatu dan menghentikan pembongkaran, bila pernah mengklaim bahwa rumah tersebut adalah bagian sejarah Kota Tangerang,” harap Yoanata.
Di saat bangunan bersejarah yang kini terancam hilang, Pemkot Tangerang belum dapat memberikan jawaban pasti pemberlakuan status rumah yang dibangun pada abad 18 tersebut sebagai salah satu cagar budaya kota Tangerang.
“Hingga saat ini belum ada ketetapan bahwa rumah yang berada di Karawaci tersebut adalah cagar budaya, karena belum ada perda yang mengaturnya,” jelas Kabag Infokom, Saeful Rohman. (Tangerang Tribun)

Senin, 03 November 2008

Bugar Bersama Archiperobic


Olahraga senam yang satu ini mungkin masih asing terdengar di telinga anda. Aerobik, senam kesegaran jasmani mungkin sudah biasa anda lihat dan lakukan. Tapi senam yang satu ini mungkin anda belum pernah melihat atau melakukannya.
Bagaimana jika kegiatan senam yang anda lakukan dipadukan dengan gerakan tari-tarian. Aneh memang kedengarannya, namun bagi mereka yang sudah terbiasa, senam dengan sekaligus menari ini punya nilai plus tersendiri.
Bahkan para anggota senam tersebut menilai, gerakan senam yang sering mereka lakukan lebih bagus ketimbang senam lainnya. Mereka yang tergabung dalam Manan Foundation Team memang berupaya memasyarakatkan senam yang dikombinasikan dengan tari-tarian.
Berbagai macam tarian nusantara mereka gabungkan dan disebut namanya archiperobic. “Kreasi ini ada karena pada saat itu kita berpikiran kalau Indonesia ini kaya akan tari-tarian, tetapi itu semua bisa kita nikmati dalam bentuk show atau pentas. Lalu ada pemikiran dari kita saat itu untuk bisa menyatukan antara aerobik dengan tarian,” ujar Sutrisno, Vice President Manan Foundation seperti yang dikutip koran harian Tangerang Tribun.
Selain badan sehat dan bugar, dengan bergabung di Manan Foundation Team, anda juga bisa lebih mengenal budaya bangsa Indonesia terutama yang menyangkut tari-tarian. Punya nilai seni dan budaya sendiri tentunya.
Archiperobic ini sebenarnya berasal dari kegiatan yang memang hanya perpaduan berbagai macam jenis tarian yang berasal dari ujung Sabang sampai Merauke. Dan kegiatan gabungan tari-tarian ini bernama Archipelago Line Dance (ALD). Atas dasar gabungan tari-tarian tersebutlah, senam archperobic muncul. Di mana, kegiatan yang hanya tari-tarian ini bisa juga untuk membugarkan tubuh yang memang harus beraktivitas selam asatu pekan.
“Kalau untuk awalnya sih, archiperobic ini berasal dari ALD di tahun 2006 lalu. Yang merupakan perpaduan koreographi rangkaian 17 tarian daerah,” tutur Sutrisno.
Ada tiga unsur yang tertanam pada senam archiperobic ini, yaitu unsur fitness yang memang untuk kesehatan, unsur fun berupa keceriaan dan unsur dance yang berupa gerakan-gerakan tari.
Mungkin bisa dibayangkan juga, betapa menariknya serta uniknya kegiatan yang satu ini untuk bisa menjadi kegiatan sehari-hari sebelum kita melakukan aktivitas pada umumnya. Artinya, tiga manfaat bisa didapat dalam satu kegiatan, dan kegiatan ini juga bisa dilakukan secara personal.
“Walaupun banyak perpaduannya, dan semua gerakannya berasal dari tarian, tetapi archiperobic ini lebih kepada senamnya. Jadi, tetap banyak manfaat yang ada dari kegiatan ini,” tukasnya.
Manan Foundation Team yang ada di Tangerang ini biasa melakukan kegiatannya setiap hari Minggu di kawasan Taman Sari Lippo Karawaci. Peserta yang tertarik bersenam sekaligus menari ini bisa mencapai 150 orang. “Kita memang bukan komunitas, tetapi banyak komunitas yang hadir untuk mengikuti archiperobic ini,” timpal Sutrisno.(*)

Rabu, 29 Oktober 2008

Kota Tangerang Selatan Disahkan


Oleh: Khomsurizal

Rapat paripurna DPR RI di Gedung DPR Senayan, Jakarta, Rabu (29/10) pukul 09.00 WIB, mengesahkan Rancangan Undang-undang menjadi Undang-undang Daerah Otonomi Baru Kota Tangerang Selatan (Tangsel).
Dengan demikian warga Ciputat, Serpong, Pamulang, Setu, Pondok Aren dan sekitarnya dalam waktu dekat akan memiliki pemerintah daerah tersendiri dan terpisah dari Pemerintahan Kabupaten Tangerang.
Menteri Dalam Negeri RI Mardiyanto, saat memberikan sambutan dalam rapat paripurna yang dipimpin Ketua DPR Agung Laksono tersebut mengatakan, pemerintah telah merespon aspirasi masyarakat secara proporsional untuk meningkatkan pelayanan dan pembangunan pada daerah yang dimekarkan tersebut. “Terbentuknya daerah otonom baru ini dapat meningkatkan efisiensi dan efektifitas pembangunan di wilayah itu,” kata Mardiyanto.
Di hadapan sidang paripurna DPR yang juga nampak disaksikan unsur pemerintah pusat hingga daerah yaitu Bupati Tangerang H Ismet Iskandar, Ketua Presidium Pembentukan Kota Tangsel Zarkasih Noer dan ribuan masyarakat Tangsel yang sejak malam hari mendatangi gedung DPR, Mardiyanto menegaskan 12 kota/kabupaten termasuk Kota Tangsel sudah layak dan memenuhi segala persayaratan untuk disahkan menjadi kota otonom baru.
Di bagian lain, Direktur Otonomi Daerah Departemen Dalam Negeri (Depdagri) Abdul Fatah, menyatakan segala persyaratan tentang pembentukan daerah otonom baru telah lulus dan dan tidak memiliki kendala apapun. Setelah disahkan DPR, langkah pertama yang akan dilakukan Depdagri segera menyerahkan berkas tersebut kepada Presiden Republik Indonesia untuk ditandatangani secara sah dan juga diberikan nomor urut sebagai Undang-undang baru.
“Selambat-lambatnya satu bulan ditandatangi Presiden,” ungkapnya.
Asisten Daerah (Asda) 1 Pemerintah Kabupaten Tangerang H Mas Iman Kusnandar yang juga Ketua Tim Pembentukan Kota Tangerang Selatan mengatakan, setelah beberapa hari lalu, Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah (DPOD) membahas draft RUU dari sudut pandang PP 78 Tahun 2007, dan hasilnya dinyatakan lulus sebagai kota otonom baru dan hari ini (29/10) disahkan. Ia mengatakan, disahkannya Kota Tangerang Selatan, bukan saja peristiwa penting dan kebahagiaan bagi segelintir orang saja, tapi adalah kebahagiaan semua kalangan di Kabupaten Tangerang.
Sebelumnya ditegaskan Bupati Tangerang H Ismet Iskandar, pembentukan Kota Tangsel ini dibarengi komitmen daerah induk yaitu Pemkab Tangerang. Selain memberikan dukungan administrasi untuk mengawal pengesahan UU Kota Tangsel hingga ke Senayan, Pemkab Tangerang diantaranya memberikan dukungan bantuan aset baik berupa tanah, gedung peralatan dan infrastruktur dengan nilai Rp 600 miliar. Sedangkan pelepasan aset sesuai dengan keputusan Bupati Tangerang Nomor 130/kep.149.huk/2007 tentang pembentukan Kota Tangerang Selatan.
Pemerintah Kabupaten Tangerang, sambung Ismet Iskandar, juga akan memberikan hibah mencapai Rp 53,18 miliar untuk kelancaran operasionalisasi kota baru Kota Tangsel.
Sekadar dikatahui luas wilayah Kota Tangsel yang ditetapkan Pemkab Tangerang mencapai 164.54 kilometer dengan meliputi Kecamatan Serpong, Kecamatan Serpong Utara, Kecamatan Pondok Aren, Kecamatan Pamulang, Kecamatan Setu, Kecamatan Ciputat dan Kecamatan Ciputat Timur.
Kota Tangerang Selatan dimekarkan bersama dengan 11 daerah lainnya yaitu Kab Tambrauw (Papua Barat), Kab Pulau Morotai (Maluku Utara), Kab Intan Jaya (Papua), Kab Deiyai (Papua), Kab Sabu Raijua (NTT), Kab Pringsewu (Lampung), Kota Gunung Sitoli (Sumut), Kab Nias Utara (Sumut), Kab Tulang Bawang Barat (Lampung), Kab Nias Barat (Sumut), dan Kab Mesuji (Lampung).

Senin, 15 September 2008

Pementasan Teater Perempuan Gerabah


"Teror Menakutkan dari Sang Tanah Liat… "

Suasana lengang yang sudah berlangsung selama kira-kira 15 menit, tiba-tiba pecah menjadi histeris, atau persisnya setengah menjerit, yang keluar dari ratusan mulut yang tengah menyaksikan pementasan teater dengan lakon Perempuan Gerabah.
Dari atas panggung, empat aktor yang hanya mengenakan kain putih untuk menutupi sebatas pinggang hingga paha dan seorang aktris, berpakaian bak pendekar dalam film silat, terus bergerak nyaris tanpa henti. Mereka meliuk, meloncat, berlari, berputar, merangkak, merunduk, menjengking, dalam ritme yang teratur satu sama lain, hingga sampai pada tahap seperti ekstase atau mungkin juga lelah.
Para aktor yang kelelahan itu terjuntai di bibir panggung. Tubuh telanjang para aktor yang sudah dipenuhi peluh itu kemudian satu-persatu dibaluri menggunakan tanah liat encer nyaris seperti lumpur tadi oleh sang aktris. Gerakan seniwati nampak artistik bahkan mungkin nyaris erotis.
Bagaimana tidak, tubuh telanjang para aktor itu disusuri oleh telapak tangan lembut sang aktris yang memegang lumpur, sejak kepala, turun ke leher, dada, punggung hingga pinggang, untuk kemudian meloncat menyusuri bagian kaki.
Pertunjukan sepanjang satu setengah jam dalam temaram sinar lampu itu diakhiri dengan naiknya seorang perempuan tua ke atas panggung yang dalam hitungan menit berhasil membuat gerabah dari tanah liat, setinggi 15 Cm.
Kedua tangan tuanya yang tampak sibuk mengarahkan gerak naik lumpur, kaki sebelah kirinya juga tak kalah sibuknya memancal alat tradisional pembuat gerabah agar terus berputar tanpa berhenti. Bila pemancal itu berhenti, berarti harus menanggung resiko.
Perempuan tua itu berdiri dan mengusung gerabah hasil karyanya yang masih basah. Dia Nampak bangga dengan gerabah hasil karyanya. Dia memutar-mutar gerabah itu mengelilingi panggung. Tepuk tangan penontonpun membahana.
Beberapa penonton bahkan bangkit dari duduknya dan pindah mencari tempat duduk lain yang lebih aman. Beberapa lagi tampak berusaha melindungi wajah atau badan mereka dari cipratan lumpur yang tengah dilempar-bantingkan para seniman di atas panggung.
Teror tanah liat liat tidak berhenti sampai di situ. Pada bagian berikutnya, para seniman teater bermanuver dengan mengusung masing-masing satu buah gerabah di tangan. Gerabah atau benda yang biasa digunakan sebagai peralatan dapur dari tanah liat itu diputar-putar, dilempar untuk kemudian ditabrakan satu sama lain dan braaak! Pecah berantakan.
Jeritan penonton semakin menjadi. Pecahan-pecahan gerabah yang berserakan di lantai panggung itu lalu diraup oleh para aktor untuk kemudian dihambur-hamburkan. Tak pelak meski tidak banyak, ada juga pecahan-pecahan gerbah itu yang berhasil menerjang penonton.
Konstruksi panggung kayu berbentuk bundar setinggi setengah meter itu memang hanya berjarak tidak lebih dari satu meter dari tempat duduk penonton terdepan yang sengaja dibuat melingkari panggung.
Bagi penonton yang berada dibelakang tempat duduk terdepan diposisikan lebih tinggi, dan begitu seterusnya sehingga berundak-undak layaknya menonton di istana olahraga (Istora). Tapi tentu saja, ukurannya jauh lebih kecil. Kapasitasnya pun paling banter cuma akan bisa menampung kurang dari seratus penonton.
Layaknya pementasan teater genre visual yang tidak menghadirkan dialog verbal dalam kisahnya, pementasan Perempuan Gerabah karya Sutradara Nandang Aradea di Cafe Oregano, Serang, malam itu juga nyaris tanpa kata. Yang ada hanya gerakan tubuh empat aktor bertelanjang dada dan seorang aktris berbusana ala pendekar silat yang berpendar ditimpa redup sinar lampu panggung.
Bunyi-bunyian hanya yang berasal dari derap kaki aktor dan aktris saat menjejak papan lantai panggung atau dari ditabrakannya gerabah-gerabah hingga pecah berantakan. Bagi penonton awam, teater bukan pertunjukan menarik, diantaranya pulang dengan menyisakan kebingungan.
Namun bagi yang gandrung teater, pertunjukan gerak tubuh itu pun berakhir menyisakan pesan. Nandang menyebut, masyarakat Desa Bumijaya, Kecamatan Ciruas yang umumnya bermatapencaharian pengrajin gerabah selama puluhan tahun, hingga hari ini tetap miskin dan terbelakang.
"Saya yakin penonton teater kita sudah pada cerdas. Mereka memang tidak perlu memiliki pemahaman tentang apa yang ditontonnya. Biarkan menyimpukan sendiri. Saya ingin penonton pulang membawa ingatan tentang bagaimana mereka begitu terteror sepanjang pertunjukan," kata Nandang.(Banten Tribun)

Selasa, 09 September 2008

Parade Bedug "Rame-rame"


Sampoerna Hijau akan kembali menggelar parade bedug yang melintasi berbagai kota di Indonesia. Sedikitnya 19 kota dengan total jarak 10.000 KM menjadi perlintasan parade musik terpanjang ini.
Rencananya pesta rakyat melalui rute Pulau Jawa dan Pulau Sumatera tersebut mencatatkan rekor jarah tempuh terpanjang pada Museum Rekor Indonesia (MURI).
“Penyelenggaraan ini sudah yang kesebelas kali diadakan, mengingat kegiatan ini digelar tahunan dan terjadi hanya pada bulan Ramadhan. Tahun ini kami hadir dengan dua rute yang berbeda,” ungkap Brand Manager Sampoerna Hijau dan selaku Ketua Panitia Parade Beduk Suminto Alexander Hermawanto kepada, Senin (8/9).
Dalam parade bedug yang juga akan melintasi Provinsi Banten yaitu Kota Serang hingga Kota/Kabupaten Tangerang ditujukan untuk pelestarian budaya lokal Indonesia yang dilakukan hanya pada bulan Ramadhan.
Parade bedug yang mengambil tema “Budaya milik rame-rame” akan diawali dari Sumenep (P. Jawa) dan rute Sumatra bertolak dari Padang dan berakhir di Jakarta yaitu Depok pada, Minggu (21/9). Acara tersebut juga dimeriahkan para artis Ibukota antara lain, Nidji, Gigi, Andra and The Backbone, Ungu, Ari Laso, Pingkan Mambo, Agnita dan D’massive.

Jumat, 22 Agustus 2008

Pagelaran Seni 36 Jam Nonstop


Sedikitnya 16 cabang seni dan budaya yang ada di Kabupaten Tangerang mulai dipentaskan selama 36 jam nonstop, sejak Jumat (22/8) hingga Minggu (24/8) di area Parkir Mal WTC Serpong. Pagelaran spektakuler itu oleh pemerintah setempat ditargetkan meraih rekor MURI (Museum Rekor Indonesia).
Wakil Bupati H Rano Karno, saat membuka pagelaran tersebut mengaku optimis kegiatan ini mampu mencatatkan pagelaran seni dan budaya ini menjadi terbesar yang berlangsung 36 jam nonstop di Indonesia melalui MURI.
Lebih dari itu, pagelan ini dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat dan daerah lain untuk senantiasa melestarikan seni dan budaya ditengah pluralitas serta kemajuan nasional. Bahkan kegiatan semacam ini merupakan salah satu bentuk dalam upaya mengembangkan nilai-nilai budaya masyarakat. “Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 pasal 32 ayat 1, negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia ditengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya,” ucap Wakil Bupati Tangerang H Rano Karno, Jum’at (22/8).
Diinformasikan, pementasan seni budaya Kabupaten Tangerang selama 36 jam nonstop menampilkan 16 cabang diantaranya ialah Rampak Bedug, calung, Angkung, Degung, Gambang Kromong, Adat Perkawinan Cina benteng, Barongsai, Liong, Lenong, Jaipongan dan lain-lain.
Sementara pagelaran melibat puluhan sanggar serta didukung oleh Pemkab Tangerang, Komunitas Pelestarian Kesenian Tradisional (KPKT), Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Tangerang dan Mall WTC Matahari Serpong.
Panggung pagelaran terdapat dua buah dan untuk pagelaran yang pertama kali ditampilkan serta menjadi pagelaran unggulan adalah Pagelaran Adat Perkawinan Cina Benteng dan Pagelaran wayang kulit khas Kabupaten Tangerang.
Acara pembukaan dimilai pada pukul 16.00 WIB, kemarin, yang dihadiri para seniman dan budayawan hingga perwakilan dari MURI.
“Pagelaran seni budaya seperti ini merupakan salah satu wahana untuk mempertahankan dan mewujudkan begitu beragam dan indahnya seni budaya yang kita miliki,” papar Rano.
Dalam kesempatan lain, Bupati Tangerang H Ismet Iskandar memberikan dukungan penuh terlaksananya pagelaran pentas seni budaya 36 jam nonstop. Pasalnya, kata Ismet, sangat berdampak positif bagi aspek budaya bangsa atau warisan leluhur dan ekonomi kreatif masyarakat. “Acara ini merupakan wahana untuk mempertahankan dan menujukan begitu beragam dan indahnya seni budaya yang kita miliki,” jelasnya.
Dia menambahkan, hendaknya semua dapat belajar dan mengetahui makna dari setiap kesenian maupun budaya yang ditampilkan. “Harapan saya supaya kegiatan seperti ini dapat terus dilaksanakan agar dapat menumbuh kembangkan rasa cinta masyarakat kepada seni budaya yang ada di Kabupaten Tangerang,” tandasnya.

Selasa, 12 Agustus 2008

Tangerang Lestarikan Batik Pesisir



Blog: Khomsurizal

Kota Solo, Pekalongan dan Jogja kerap dikenal sebagai daerah terdepan dalam melestarikan Batik di Indonesia. Setiap kota itu, memiliki tradisi membatik yang khas dan hasil karyanya sudah cukup disegani hingga pasaran mancanegara.
Namun seiring geliat mengembangkan potensi daerah, setiap kota dengan berbagai warisan budayanya menyimpan tradisi batik yang tidak kalah bersaing dengan ketiga asal “Batik Jawa” itu. Sebut saja Batik asal Banten dan Aceh, yang juga telah memiliki pasaran tersendiri di kelas global. Pasalnya, Batik Banten lebih dikenal oleh masyarakat Brunei Darussalam dan Batik Aceh sudah diterima di Spanyol.
Tak ketinggalan, Kabupaten Tangerang juga tengah mencanangkan pengembangan Batik khas masyarakat setempat.
Corak batik khas daerah “Kota Benteng” ini cukup unik, karena menggambarkan kultur masyarakat yang kebanyakan berada di pesisir pantai utara (Pantura) dengan polanya menyiratkan kehidupan masyarakat pesisir.
Pewarnaannya juga diambil dari sepajarah panjang perjalanan masyarakat yang plural, seperti warna biru menggambarkan laut atau langit. Motif ayam wareng, topi bambu terdapat di Kecamatan Panongan, Tanjung Pasir dan Pulau Cengkir. Bahkan juga badak bercula yang menggambarkan Provinsi Banten serta motif-motif lain.
Wakil Bupati Tangerang H Rano Karno berharap masyarakat, khususnya pengrajin batik untuk terus berkarya dalam melestarikan warisan budaya yang merupakan nilai-nilai luhur daerah. “Batik khas Tangerang ini bisa menjadi ikon daerah yang patut dikembangkan,” terang Rano.
Pihaknya, lanjut pemeran “Si Doel Anak Sekolahan” ini, melalui dinas terkait melakukan pembinaan agar Batik khas Tangerang dapat menjadi brand image daerah yang mampu go internasional.
Sementara Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Tangerang, Mahdiar mebgungkapkan program melestarikan batik sebagai warisan budaya sudah dilakukan.
Dia optimis, akan mensejajarkan Batik khas Tangerang yang selama ini didominasi daerah Solo, Pekalongan dan Jogja.
“Jadi nanti kalau orang menyebut batik bukan hanya Solo, Jogja atau Pekalongan, tetapi bertambah batik Tangerang, karena tradisi membatik bagi masyarakat Tangerang tengah bergeliat,” tegas Machdiar.(poto aen/tribun)

Minggu, 27 Juli 2008

Syukuran Nelayan Cituis

Siang itu, Matahari terasa membakar kulit. Iskandar (23), nelayan Cituis, Kecamatan Pakuhaji, Kabupaten Tangerang bersama puluhan nelayan lainnya terus berusaha keras menggapai perahu berisi sesaji berisi bekakak ayam, ikan, telur serta lauk pauk lainnya di tengah laut lepas Laut Jawa. Meski harus berpeluh, Iskandar dan juga sejumlah nelayan lainnya berhasil meraih sesaji yang diyakini dapat memberikan keselamatan dan keberuntungan ketika nelayan sedang melaut.

Upacara ritual melarung kepala kerbau dan beraneka sesaji merupakan simbol ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan karunia hasil laut dan keselamatan masyarakat pesisir utara Kabupaten Tangerang, tepatnya di pantai Surya Bahari, Desa Surya Bahari, Kecamatan Pakuhaji, yang digelar secara tidak menentu.
Tahun ini, Pesta Laut kembali digelar pada Minggu (27/7). Mulai pukul 08.00 WIB hingga hampir pukul 14.00 WIB, berbagai macam sesaji yang dibawa satu perahu dengan berbagai interior dikawal para pendekar yang dituakan oleh warga sekitar. Sementara puluhan perahu nelayan lainnya yang ambil bagian dan mengikuti perahu yang mengangkut sesaji dan kepala kerbau yang akan dilepas di tengah laut bergerombol mengikuti untuk memperebutkan sesaji sebanyak mungkin. Sebelum kapal-kapal diberangkatkan, para nelayan tak lupa menyiramkan kapal mereka dengan air laut di sana. Sebagai simbol kapal yang akan mereka pakai untuk melaut dapat hasil tangkapan yang berlimpah dan dilindungi dari mara bahaya.
Dengan acara selamatan dan syukuran ini bagi para nelayan dan masyarakat luas, secara batin memberikan rasa tenang ketika mereka melaut untuk mencari nafkah. Namun dibalik itu semua, tidak ada kesan sakral dalam pelarungan atau upacara adat yang dilangsungkan di pesisir utara. Bahkan, oleh nelayan pelarungan lebih mirip pesta dan ungkapan rasa syukur semata.
Pesta Laut 2008 tersebut adalah pesta yang ke delapan sejak pertama kali diadakan tahun 2000 lalu. Tidak ada waktu yang khusus dalam pelaksanaan Pesta Nelayan di Desa Cituis, atau tepatnya di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Cituis ini. Namun pada pesta Nelayan 14, 26 hingga 29 Juli 2008 nanti, dirayakan dengan beraneka kegiatan. Mulai dari acara hiburan sampai aksi bakti sosial bagi warga usia lanjut dan anak yatim piatu. Setiap malam diselenggarakan pagelaran seni dan budaya, khusus acara hiburan disajikan musik dangdut. Ada pula pertunjukan budaya berupa wayang golek dan beragam seni budaya lainnya.
"Pada tanggal 14 kemarin, kami melaksanakan lomba rancang bangun perahu dan tanggal 26, kami mengadakan kegiatan menanam 1.000 pohon bakau di pesisir pantai, dekat Sekolah Pelayaran," kata Penanggung Jawab kegiatan Pesta Nelayan yang juga Ketua KUD Mina Samudra Cituis, Muhamad Nasyirudin kepada Tengerang Tribun di ruang kerjanya, kemarin seraya mengatakan, puncak acara Pesta Laut ini dilangsungkan pada tanggal 29 Juli 2008.
Ketua Panitia Pesta Laut, Sukma Jaya SE mengatakan, terselenggaranya kegiatan tersebut merupakan salah satu upaya masyarakat nelayan yang tergabung di TPI Cituis. Tidak ada bantuan sedikit pun dari pemerintah.
"Biaya ini dari para nelayan yang jumlahnya hampir ribuan orang ini. Mereka rela mengeluarkan biaya karena beraggapan pesta atau larung laut merupakan salah satu kewajiban sebagai rasa syukur nelayan kepada laut," paparnya.(Tangerang Tribun)

Minggu, 13 Juli 2008

Kang dan Nong Aktif Lestarikan Budaya dan Pariwisata



Beragam budaya dari nilai-nilai etis masyarakat telah berabad tahun lamanya berkembang di Kabupaten Tangerang. Namun sebagian diantaranya mulai pudar digerus arus globalisasi dan ditinggalkan para generasi selanjutnya.
Demikian menjadi perhatian salah satu finalis Kang dan Nong Kabupaten Tangerang 2008, Rani Anggorowati (19).
Ia bertekad melalui momen Pemilihan Kang dan Nong ini, bisa berpartisipasi mengembangkan budaya dan sektor pariwisata di Kabupaten Tangerang. Pasalnya, putra dan putri daerah merupakan sebagaian generasi masyarakat yang memiliki peran penting menggerakkan kembali nilai-nilai budaya, tradisi dan pengembangan pariwisata.
Diantara peninggalan budaya yang perlu dikembangkan, ungkap Rani, ialah batik khas Tangerang. Menurut Rani, kekhasan batik asal Tangerang terletak pada ragam ornamen, guratan corak dan dibuat dengan oleh warga dipinggiran. “Ini (batik) perlu ditetapkan dan diperkenalkan kepada masyarakat bahwa Kabupaten Tangerang memang kaya sekali dengan potensi budaya,” kata Rani.
Oleh karenanya, dirinya mengaku tengah memperdalam pengetahuan dengan cara menelusuri sejarah batik Kabupaten Tangerang dan mempelajari peluang pengembangan batik tersebut ke kancah nasional. “Saya bertekad untuk dapat menjadi duta budaya dan pariwisata yang mempunyai instuisi dan kepandaian mempromosikan dan mensosialisasikan produk khas Kabupaten Tangerang,” tandas Rani
Berbeda dengan Rani, Bunaya Sari (22) mengungkapkan, banyak peninggalan sejarah dan kebudayaan harus dilestarikan. Dengan mengetahui karakter sejarah, Kabupaten Tangerang akan lebih maju dengan daerah lain.
Kolaborasi kebudayaan masyarakat Tangerang dengan Tionghoa, misalnya, perlu tetap dilestarikan. Termasuk melestarikan hasil sejarah percampuran kedua kebudayaan ini seperti Klenteng Teluknaga di pesisir pantai utara, wayang potehi, gambang kromong, tarian cokek dan lainnya. “Sebagai calon duta budaya dan pariwisata adalah suatu tugas, dan bagai mana caranya aset tersebut menjadi sebuah ikon daerah nantinya. Kelestarian budaya adalah tanggung jawab kita semua,” kata Naya.
Ketua Komisi A DPRD Kabupaten Tangerang sekaligus Pembina Paguyuban Kang dan Nong Kabupaten Tangerang, Intan Nurul Hikmah mengapresisasi pandangan pelestarian budaya yang dimiliki para finalis. Menurutnya duta daerah tidak harus cantik, tetapi memiliki visi melestarikan dan memajukan kebudayaan masyarakat. “Para Kontestan finalis kang dan nong harus memiliki suatu instuisi dan kepandaian menyusun strategi promosi dan sosialisasi agar budaya dan pariwisata dapat cepat familiar di masyarakat,” ucap Intan kepada Tangerang Tribun.
Sementara Wakil Bupati H Rano Karno berpesan agar Kang dan Nong memiliki strategi kedepan untuk mempromosikan budaya dan pariwisata asli Tangerang. “Mereka akan menjadi duta budaya dan pariwisata yang sesungguhnya,” tandasnya.(poto blog ini oleh M Jakwan and Surya Sumirat/Tibun)

Selasa, 08 Juli 2008

Tari Cukin, Sisi Lain Kesenian Cokek


Bila diperhatikan secara seksama, seni Tari Cukin tidak jauh berbeda dengan tari Cokek yang sudah lebih awal dikenal dan representasi sebuah kebudayaan asli masyarakat Tangerang. Hanya yang membedakannya, Tari Cukin sejenis drama tarian yang menceritakan para remaja putra dan putri yang sedang bersenda gurau pada pada suatu malam yang cukup cerah dan menggunakan tema ungkapan keceriaan para remaja dengan gerak tari yang cukup indah sehingga membuat kaum laki-laki tergerak untuk ikut serta didalamnya. Kesan pornoaksi dalam tarian Cukin sudah ditinggalkan oleh para penarinya.
Tarian ini pertama kali dipentaskan pada saat resepsi HUT Republik Indonesia (RI) ke-62. Di sela-sela sambutan Bupati Tangerang H Ismet Iskandar ketika itu, setelah menyaksikan pertunjukan spontan tersebut langsung memberikan nama tarian tersebut menjadi Tarian Cukin. Istilah Cukin merupakan bahasa asli masyarakat Tangerang yang mengandung artian selendang biasa dipakai para penari yang berarti juga kain yang dipakai untuk menggendong anak.
Tarian ini merupakan implementasi hasil workshop pengembangan kreasi seni daerah Kabupaten Tangerang yang diadakan pada tanggal 1 Agustus 2006 lalu. Sebagai maestronya adalah Nani Mulyani yang mengadopsi gerak tari Cokek yang sejak zaman Belanda telah berkembang. Hanya dalam ketentuan tari Cukin ini, rambu-rambu yang diamanatkan seniman mengacu pada norma-norma agama dan paradigma masyarakat Kabupaten Tangerang yang religius.
Hadirnya seni tari Cukin karena adanya tari Cokek yang sering kali dipandang negatif. Representasi kehadiran tari Cokek yang berkembang di Tangerang lebih berintonasi pada musik Betawi, China (Tionghoa). Selain itu, kaidah gerakannya pun belum memiliki aturan yang jelas.
Sebagai sesepuh tari Cokek adalah Masnah yang telah renta dan berumur lebih dari 60 tahun dan bertempat tinggal di Teluk Naga. Tari Cokek untuk saat ini sangat tabu dan hanya dihadirkan pada acara-acar tertentu seperti hajatan warga-warga keturunan Tionghoa untuk menghibur sekaligus pelepas syahwat. Karena tarian tersebut sangat gerakannya bersentuhan langsung secara fisik antar laki-laki dan perempuan dalam satu sarung.
“Pada zaman penjajahan dahulu, tari Cokek adalah tarian penghibur dan pelepas syahwat para petinggi Belanda yang juga dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai aksi untuk mengelabui para penjajah Belanda,” jelas Nani kepada Tangerang Tribun, Senin (7/7).
Hasil dari pengembangan, kolaborasi dan workshop kreasi seni daerah Kabupaten Tangerang dapat tercipta suatu tarian yang mencerminkan seni budaya khas Kabupaten Tangerang.
“Karena dengan terciptanya suatu kesenian daerah, maka hal tersebut akan berdampak pada kemajuan dan akan memperkuat jati diri serta kepribadian pada suatu daerah tersebut,” lanjutnya.
Konflik dalam tari Cukin dikemas secara humor dan dimainkan oleh 5 orang nong dan I orang kang. Sedangkan para pangrawit atau biasa disebut nagaya berjumlah 10 orang yang masing-masing memegang satu buah alat musik.
“Dan diakhir cerita, para penari wanita meninggalkan penari laki-laki yang sedang terhanyut oleh tarian dan alat musik. Ketika penari laki-laki menyadari dia akan mengejar dan memegang selendang, maka terjadilah tarik menarik antara keduanya, dan membuat kang jatuh ditelapak kaki nong,” pungkasnya.
Waditra/ alatmusik terdiri dari bonang, te khian, rebab, angklung gubrag, kendang, gong, kecrek, rebana marawis dan terompet pencak silat dengan alunan musik pengiring perpaduan dari jenis musik tradisional yang dipadukan sehingga menghasilkan musik yang dinamis. “Terbagi dua sesi, yang pertama musik instrumental dan yang kedua lagu yang langsung dinyanyikan seperti, nong manis, Ati sayang, kenong batok, nu ngibing dan nong darenok,” tandasnya.
Sementara Kepala Dinas Pemuda Olah raga Budaya dan Pariwisata Kabupaten Tangerang HM Komarudin menambahkan, tari Cukin adalah tarian yang bermetamorfosis dari tari Cokek dan sebagai budaya asli Kabupaten Tangerang untuk menambah khasanah dan menampilkan ciri dan warna budaya asli masyarakat Tangerang.(credit foto: AEN/ Tangerang Tribun)

Kamis, 12 Juni 2008

Pemilihan Kang-Nong Tangerang Dimulai


Pemilihan Kang dan Nong Kabupaten Tangerang Tahun 2008 segera dimulai. Sedangkan pembukaan pendaftaran peserta audisi akan dimulai pada tanggal 16 Juni 2008 dan grand final digelar pada tanggal 5 Juli 2008.
Pemilihan Kang dan Nong Kabupaten Tangerang adalah kegiatan rutin yang dilaksanakan setiap satu tahun sekali. Pada saat Kabupaten Tangerang masih bergabung dengan Propinsi Jawa Barat, kegiatan ini bertajuk Pemilihan Mojang Jajaka dan telah diselenggarakan sejak tahun 1987 yang kini dilanjutkan dengan nama Pemilihan Kang dan Nong terkait dengan nomenclature Propinsi Banten.
Acara ini akan dikemas menjadi sebuah seni pertunjukan yang menarik dan enak ditonton serta menggugah minat generasi muda untuk mencintai budaya daerahnya dan bangga menjadi anak bangsa. “Young, beautiful, cheerful, sporty dan intelligent semboyan yang kami angkat dalam ajang ini,” ungkap Ketua Pelaksana tahun ini, Hendri Siswanto (Kang Propinsi Banten tahun 2002).
Pemilihan Kang Nong Kabupaten Tangerang adalah pemilihan yang bisa dibilang paling meriah Se-Propinsi Banten untuk daerah tingkat II, bahkan di tingkat Propinsi Banten sendiri.
Pergelaran pemilihan ini ditujukan untuk kalangan remaja putra maupun putri, pelajar/mahasiswa/umum yang berdomisili di Kabupaten Tangerang berusia 16-23 tahun.
Dengan terselenggaranya Pemilihan Kang dan Nong Kabupaten Tangerang Tahun 2008, diharapkan pemahaman serta pelestarian budaya dikalangan generasi muda akan terus tumbuh dan berkembang.