Tampilkan postingan dengan label duta pariwisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label duta pariwisata. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 September 2008

Gerakan Bersih Bandara


Putri Indonesia Zivanna Letisha beserta Miss Tourism Indonesia ketika mendampingi Menteri Pariwisata Jero Wacik dan Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah meninjau fasilitas bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Selasa (23/9).
Kunjungan tersebut sekaligus meresmikan fasilitas baru berupa toilet dalam “Gerakan Bandara Bersih” (Clean Airport Action) yang merupakan bagian dari program untuk meningkatkan pelayanan pariwisata di Indonesia.

Senin, 15 September 2008

Pementasan Teater Perempuan Gerabah


"Teror Menakutkan dari Sang Tanah Liat… "

Suasana lengang yang sudah berlangsung selama kira-kira 15 menit, tiba-tiba pecah menjadi histeris, atau persisnya setengah menjerit, yang keluar dari ratusan mulut yang tengah menyaksikan pementasan teater dengan lakon Perempuan Gerabah.
Dari atas panggung, empat aktor yang hanya mengenakan kain putih untuk menutupi sebatas pinggang hingga paha dan seorang aktris, berpakaian bak pendekar dalam film silat, terus bergerak nyaris tanpa henti. Mereka meliuk, meloncat, berlari, berputar, merangkak, merunduk, menjengking, dalam ritme yang teratur satu sama lain, hingga sampai pada tahap seperti ekstase atau mungkin juga lelah.
Para aktor yang kelelahan itu terjuntai di bibir panggung. Tubuh telanjang para aktor yang sudah dipenuhi peluh itu kemudian satu-persatu dibaluri menggunakan tanah liat encer nyaris seperti lumpur tadi oleh sang aktris. Gerakan seniwati nampak artistik bahkan mungkin nyaris erotis.
Bagaimana tidak, tubuh telanjang para aktor itu disusuri oleh telapak tangan lembut sang aktris yang memegang lumpur, sejak kepala, turun ke leher, dada, punggung hingga pinggang, untuk kemudian meloncat menyusuri bagian kaki.
Pertunjukan sepanjang satu setengah jam dalam temaram sinar lampu itu diakhiri dengan naiknya seorang perempuan tua ke atas panggung yang dalam hitungan menit berhasil membuat gerabah dari tanah liat, setinggi 15 Cm.
Kedua tangan tuanya yang tampak sibuk mengarahkan gerak naik lumpur, kaki sebelah kirinya juga tak kalah sibuknya memancal alat tradisional pembuat gerabah agar terus berputar tanpa berhenti. Bila pemancal itu berhenti, berarti harus menanggung resiko.
Perempuan tua itu berdiri dan mengusung gerabah hasil karyanya yang masih basah. Dia Nampak bangga dengan gerabah hasil karyanya. Dia memutar-mutar gerabah itu mengelilingi panggung. Tepuk tangan penontonpun membahana.
Beberapa penonton bahkan bangkit dari duduknya dan pindah mencari tempat duduk lain yang lebih aman. Beberapa lagi tampak berusaha melindungi wajah atau badan mereka dari cipratan lumpur yang tengah dilempar-bantingkan para seniman di atas panggung.
Teror tanah liat liat tidak berhenti sampai di situ. Pada bagian berikutnya, para seniman teater bermanuver dengan mengusung masing-masing satu buah gerabah di tangan. Gerabah atau benda yang biasa digunakan sebagai peralatan dapur dari tanah liat itu diputar-putar, dilempar untuk kemudian ditabrakan satu sama lain dan braaak! Pecah berantakan.
Jeritan penonton semakin menjadi. Pecahan-pecahan gerabah yang berserakan di lantai panggung itu lalu diraup oleh para aktor untuk kemudian dihambur-hamburkan. Tak pelak meski tidak banyak, ada juga pecahan-pecahan gerbah itu yang berhasil menerjang penonton.
Konstruksi panggung kayu berbentuk bundar setinggi setengah meter itu memang hanya berjarak tidak lebih dari satu meter dari tempat duduk penonton terdepan yang sengaja dibuat melingkari panggung.
Bagi penonton yang berada dibelakang tempat duduk terdepan diposisikan lebih tinggi, dan begitu seterusnya sehingga berundak-undak layaknya menonton di istana olahraga (Istora). Tapi tentu saja, ukurannya jauh lebih kecil. Kapasitasnya pun paling banter cuma akan bisa menampung kurang dari seratus penonton.
Layaknya pementasan teater genre visual yang tidak menghadirkan dialog verbal dalam kisahnya, pementasan Perempuan Gerabah karya Sutradara Nandang Aradea di Cafe Oregano, Serang, malam itu juga nyaris tanpa kata. Yang ada hanya gerakan tubuh empat aktor bertelanjang dada dan seorang aktris berbusana ala pendekar silat yang berpendar ditimpa redup sinar lampu panggung.
Bunyi-bunyian hanya yang berasal dari derap kaki aktor dan aktris saat menjejak papan lantai panggung atau dari ditabrakannya gerabah-gerabah hingga pecah berantakan. Bagi penonton awam, teater bukan pertunjukan menarik, diantaranya pulang dengan menyisakan kebingungan.
Namun bagi yang gandrung teater, pertunjukan gerak tubuh itu pun berakhir menyisakan pesan. Nandang menyebut, masyarakat Desa Bumijaya, Kecamatan Ciruas yang umumnya bermatapencaharian pengrajin gerabah selama puluhan tahun, hingga hari ini tetap miskin dan terbelakang.
"Saya yakin penonton teater kita sudah pada cerdas. Mereka memang tidak perlu memiliki pemahaman tentang apa yang ditontonnya. Biarkan menyimpukan sendiri. Saya ingin penonton pulang membawa ingatan tentang bagaimana mereka begitu terteror sepanjang pertunjukan," kata Nandang.(Banten Tribun)

Rabu, 27 Agustus 2008

Obor Nusantara Masuki Merak


Dalam rangka memperingati 100 tahun hari kebangkitan bangsa Indonesia, sejumlah perwakilan Karang Taruna se-Indonesia melakukan Kirab Obor Nusantara dari Sabang sampai Merauke. Kirab Obor Nusantara itu dimulai dari Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD).
Setelah menempuh perjalanan selama tiga bulan dengan melampaui kabupaten dan kota di Pulau Sumatera, Selasa (26/8) kemarin, Kirab Obor Nusantara tiba di Pelabuhan Merak sebagai penerimaan obor untuk Pulau Jawa. Penerimaan tersebut, diwakili oleh Gubernur Banten, Hj Ratu Atut Chosiyah, karena tiba di wilayah Banten.
Diketahui, dalam iring-iringan kirab pembawa obor Nusantara tersebut, terdapat sosok lelaki gagah mewakili Banten yang ikut menjadi peserta kirab. Dia adalah Andika Hazrumy sebagai anggota Karang Taruna Adhiya Karya Mahata Yodha (AKMY) Provinsi Banten.
Andika merupakan salah satu yang bisa dibanggakan, karena ia berhasil membawa obor Nusantara ke Banten atau Pulau Jawa setelah berhasil menempuh perjalanan tiga bulan di Pulau Sumatera. Rencananya, ia akan terus berupaya mengikuti kirab hingga kemampuan maksimalnya.
Sebelum Kirab Obor Nusantara itu sampai ke DKI Jakarta pada tanggal 31 Agustus nanti, wilayah kabupaten dan kota di Banten juga akan dilalui. Diawali di Kota Cilegon pada tanggal 26 Agustus, lalu dilanjutkan ke Kabupaten Serang 27 Agustus, Pandeglang 28 Agustus, Lebak 29 Agustus, Kabupaten Tangerang 30 Agustus dan Kota Tangerang 31 Agustus kemudian langsung berlanjut ke DKI Jakarta.
“Di masing-masing kabupaten dan kota di Banten, tim panitia pelaksana akan menggelar bakti sosial seperti khitanan massal, pemberdayaan LPM dan lainnya,” kata Andika saat melaporkan kegiatan dalam upacara yang digelar langsung di halaman PT ASDP Merak setelah beberapa waktu tiba dari Lampung.
Dalam upacara, Gubernur Banten sempat membacakan Deklarasi Kirab Obor Nusantara di Hari peringatan 100 tahun Kebangkitan Bangsa Indonesia yang ditandatangani langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Gubernur Banten, Hj Ratu Atut Chosiyah berpesan, masyarakat dan para generasi penerus bangsa tetap mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) hingga titik darah penghabisan. “NKRI sudah menjadi harga mati, di mana kita harus lebih kuat untuk mempertahankannya. Saya mendoakan kirab ini dapat menumbuhkan rasa nasionalisme rakyat Indonesia,” tegasnya.
Usai melakukan upacara, secara resmi Atut melepas kembali pasukan Kirab Obor Nusatara. Menurut rencana, Kirab Obor Nusantara akan singgah di rumah dinas Walikota Cilegon, Tb H Aat Safa'at. Setelah itu, akan dilanjutkan ke Kabupaten Serang.

Jumat, 25 Juli 2008

Duta Pemilihan Putri Indonesia Temui Gubernur


Sebanyak dua puluh finalis putri asal Provinsi Banten yang akan dipilih menjadi duta pemilihan Putri Indonesia 2008, Jum'at (25/7), mengunjungi Kantor Gubernur Banten.
Kunjungan kandidat duta Provinsi Banten ini, disambut Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata-Ranta Soeharta dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah(BKPMD) Eneng Nurcahyati. Sayangnya, Gubernur Banten Hj Ratu Atut Chosiyah yang diharapkan bisa ditemui mereka tengah tidak di tempat. Namun antusias mereka tetap terlihat, meski Gubernur Atut hanya menyapa para dara cantik ini melalui Short Massage Service (SMS).
Dalam pesan singkat yang disampaikan Kadisbudpar Ranta Soeharta, Gubernur Banten mengaku mendukung kegiatan Putri Banten serta memperhatikan peran perempuan dalam memajukan daerah di kancah nasional. "Menurut pengamatan Ibu Gubernur, Pemerintah Provinsi Banten sangat perhatian untuk menyampaikan materi wawasan dan sejarah Banten kepada siapa pun yang ingin belajar tentang Banten. Bahkan, ia juga mengamanatkan tidak hanya wawasan dari sisi budaya, tapi para finalis harus juga belajar tentang potensi wisata, pendidikan dan kesehatan," kata Ranta Soeharta saat menyampaikan pesan Gubernur.
Lebih lanjut, Ranta juga mengatakan, para finalis harus tahu program kerja Pemerintah Provinsi Banten terutama dalam pengentasan buta aksara dan wajar Dikdas serta belajar mengenai kesehatan masyarakat dan lingkungan, kesehatan perempuan dan Banten Sehat 2008.
Rencananya, Sabtu (26/7) malam, mereka akan kembali mengikuti uji wawasan dan etika di Hotel Le Dian Serang dan akan menjaring 7 juara calon Putri Indonesia asal Banten. Setelah itu, dari ke-7 akan dipilih hanya satu orang untuk mewakili Banten dalam kontes Putri Indonesia di Jakarta.
Pelaksana Pemilihan Putri Indonesia di Banten, Revly menyatakan, dara cantik tersebut sebelumnya telah melalui tahap uji audisi yang diselenggarakan 16-18 Juli 2008 di Sumarecon Mall Serpong Kabupaten Tangerang.(Tangerang Tribun)

Minggu, 13 Juli 2008

Kang dan Nong Aktif Lestarikan Budaya dan Pariwisata



Beragam budaya dari nilai-nilai etis masyarakat telah berabad tahun lamanya berkembang di Kabupaten Tangerang. Namun sebagian diantaranya mulai pudar digerus arus globalisasi dan ditinggalkan para generasi selanjutnya.
Demikian menjadi perhatian salah satu finalis Kang dan Nong Kabupaten Tangerang 2008, Rani Anggorowati (19).
Ia bertekad melalui momen Pemilihan Kang dan Nong ini, bisa berpartisipasi mengembangkan budaya dan sektor pariwisata di Kabupaten Tangerang. Pasalnya, putra dan putri daerah merupakan sebagaian generasi masyarakat yang memiliki peran penting menggerakkan kembali nilai-nilai budaya, tradisi dan pengembangan pariwisata.
Diantara peninggalan budaya yang perlu dikembangkan, ungkap Rani, ialah batik khas Tangerang. Menurut Rani, kekhasan batik asal Tangerang terletak pada ragam ornamen, guratan corak dan dibuat dengan oleh warga dipinggiran. “Ini (batik) perlu ditetapkan dan diperkenalkan kepada masyarakat bahwa Kabupaten Tangerang memang kaya sekali dengan potensi budaya,” kata Rani.
Oleh karenanya, dirinya mengaku tengah memperdalam pengetahuan dengan cara menelusuri sejarah batik Kabupaten Tangerang dan mempelajari peluang pengembangan batik tersebut ke kancah nasional. “Saya bertekad untuk dapat menjadi duta budaya dan pariwisata yang mempunyai instuisi dan kepandaian mempromosikan dan mensosialisasikan produk khas Kabupaten Tangerang,” tandas Rani
Berbeda dengan Rani, Bunaya Sari (22) mengungkapkan, banyak peninggalan sejarah dan kebudayaan harus dilestarikan. Dengan mengetahui karakter sejarah, Kabupaten Tangerang akan lebih maju dengan daerah lain.
Kolaborasi kebudayaan masyarakat Tangerang dengan Tionghoa, misalnya, perlu tetap dilestarikan. Termasuk melestarikan hasil sejarah percampuran kedua kebudayaan ini seperti Klenteng Teluknaga di pesisir pantai utara, wayang potehi, gambang kromong, tarian cokek dan lainnya. “Sebagai calon duta budaya dan pariwisata adalah suatu tugas, dan bagai mana caranya aset tersebut menjadi sebuah ikon daerah nantinya. Kelestarian budaya adalah tanggung jawab kita semua,” kata Naya.
Ketua Komisi A DPRD Kabupaten Tangerang sekaligus Pembina Paguyuban Kang dan Nong Kabupaten Tangerang, Intan Nurul Hikmah mengapresisasi pandangan pelestarian budaya yang dimiliki para finalis. Menurutnya duta daerah tidak harus cantik, tetapi memiliki visi melestarikan dan memajukan kebudayaan masyarakat. “Para Kontestan finalis kang dan nong harus memiliki suatu instuisi dan kepandaian menyusun strategi promosi dan sosialisasi agar budaya dan pariwisata dapat cepat familiar di masyarakat,” ucap Intan kepada Tangerang Tribun.
Sementara Wakil Bupati H Rano Karno berpesan agar Kang dan Nong memiliki strategi kedepan untuk mempromosikan budaya dan pariwisata asli Tangerang. “Mereka akan menjadi duta budaya dan pariwisata yang sesungguhnya,” tandasnya.(poto blog ini oleh M Jakwan and Surya Sumirat/Tibun)

Minggu, 06 Juli 2008

Duta Daerah


24 Finalis Ikuti Grand Final Kang Nong

SERPONG, TRIBUN
Sebanyak 24 peserta audisi Kang dan Nong Kabupaten Tangerang tahun 2008 yang berasal dari 36 kecamatan berhasil mendapatkan tiket untuk maju dalam babak Grand Final Pemilihan Kang dan Nong pada 24 Agustus mendatang.
Mereka menyisikan ratusan peserta audisi lainnya yang digelar di Summarecon mall Serpong, Sabtu (5/7).
Dari pantauan Tangerang Tribun, ratusan kalangan remaja baik putra dan putri antusias mengikuti sejumah tahapan audisi yang dimulai pukul 08.00 WIB. Terlihat diantara mereka cukup serius dan tak jarang orang tua ikut mengantar sembari memberikan support kepada anaknya. Ditengah sesi tes tertulis, sejumlah hiburanpun seperti penampilan vokalis Tere dan modern dance ikut memeriahkan suasana ajang bergengsi bagi remaja di daerah “Kota Seribu Industri” ini. Selanjutnya, satu per satu peserta memperagakan kemahirannya dihadapan dewan juri. Mulai berlenggak-lenggok bak peragawati hingga menjawab beberapa pertanyaan juri seputar wawasan umum, pariwisata, pengetahuan daerah serta kepribadian.
Sedangkan dewan juri audisi terdiri dari Pembina Kang dan Nong Kabupaten Tangerang sekaligus Ketua Komisi A DPRD Kabupaten Tangerang Intan Nurul Hikmah, Ketua KNPI Kabupaten Tangerang Januar M.Si, serta unsur Paguyuban Kang dan Nong (Hendri Siswanto, Ade Komarudin SE dan TB Didi Hamidi).
Kepala Dinas Pemuda Olah Raga Budaya dan Parawisata Kabupaten Tangerang HM Komarudin menyambut baik perhelatan tersebut. Menurutnya, even pemilihan Kong dan Nong Kabupaten Tangerang 2008 atas kerja bareng pihaknya dengan Paguyuban Kang dan Nong, Sumareccon Mal Serpong dan Tangerang Tribun ini bukan sekedar ajang kontes kecantikan, tetapi merupakan pemilihan remaja berbakat yang smart dan memiliki wawasan luas. Kang Nong terpilih bertugas membantu pemerintah daerah dalam memperkenalkan, mempromosikan dan mensosilaisasikan sektor budaya dan pariwisata Kabupaten Tangerang kepada masyarakat umum. “Selama ini sektor budaya kian tergerus zaman dan kurang terekplorasi untuk diberdayakan secara optimal, sama halnya dengan pariwisata yang kurang dipromosikan dan disosialisasikan kepada masyarakat,” ucap Komarudin.
Komarudin pun menambahkan ajang seperti ini tidak sekedar pemanis setiap acara kepemerintahan yang bersifat protokoler, sebaliknya memberdayakan sumber daya remaja dalam bidangnya masing-masing.
Sementara Pembina Kang dan Nong Kabupaten Tangerang Intan Nurul Hikmah, menambahkan, kriteria penilaian adalah empat aspek yang sangat fundamental bagi para peserta yang akan dijadikan duta budaya dan pariwisata Kabupaten Tangerang. “Peserta harus mengerti sektor pariwisata dan kebudayaan Kabupaten Tangerang, memiliki pengetahuan umum, kepribadian dan bakat. Kang dan Nong tidak hanya cantik, tapi juga pintar,” tukasnya.(Sumber: Tangerang Tribun)

Kamis, 12 Juni 2008

Pemilihan Kang-Nong Tangerang Dimulai


Pemilihan Kang dan Nong Kabupaten Tangerang Tahun 2008 segera dimulai. Sedangkan pembukaan pendaftaran peserta audisi akan dimulai pada tanggal 16 Juni 2008 dan grand final digelar pada tanggal 5 Juli 2008.
Pemilihan Kang dan Nong Kabupaten Tangerang adalah kegiatan rutin yang dilaksanakan setiap satu tahun sekali. Pada saat Kabupaten Tangerang masih bergabung dengan Propinsi Jawa Barat, kegiatan ini bertajuk Pemilihan Mojang Jajaka dan telah diselenggarakan sejak tahun 1987 yang kini dilanjutkan dengan nama Pemilihan Kang dan Nong terkait dengan nomenclature Propinsi Banten.
Acara ini akan dikemas menjadi sebuah seni pertunjukan yang menarik dan enak ditonton serta menggugah minat generasi muda untuk mencintai budaya daerahnya dan bangga menjadi anak bangsa. “Young, beautiful, cheerful, sporty dan intelligent semboyan yang kami angkat dalam ajang ini,” ungkap Ketua Pelaksana tahun ini, Hendri Siswanto (Kang Propinsi Banten tahun 2002).
Pemilihan Kang Nong Kabupaten Tangerang adalah pemilihan yang bisa dibilang paling meriah Se-Propinsi Banten untuk daerah tingkat II, bahkan di tingkat Propinsi Banten sendiri.
Pergelaran pemilihan ini ditujukan untuk kalangan remaja putra maupun putri, pelajar/mahasiswa/umum yang berdomisili di Kabupaten Tangerang berusia 16-23 tahun.
Dengan terselenggaranya Pemilihan Kang dan Nong Kabupaten Tangerang Tahun 2008, diharapkan pemahaman serta pelestarian budaya dikalangan generasi muda akan terus tumbuh dan berkembang.