Tampilkan postingan dengan label Cokek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cokek. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 Agustus 2008

TNI Gelar Bakti Sosial



Markas Tentara Nasional Indonesia (TNI) Komando Rayon Militer (Makorem) 052/ Wijayakrama bekerja sama dengan Yayasan Basilea Community Services Manistry (CSM) dan Lions Club melakukan Bakti Sosial (Baksos) di dekat Danau Cihuni, Desa Cihuni, Kecamatan Pagedangan, Kabupaten Tangerang, Rabu (27/8).
Acara Bakti sosial yang bertemakan “Bersatulah Indonesiaku” diadakan untuk memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) RI yang ke-63 dengan menerjunkan 32 orang dokter untuk menangani pengobatan masal, perawatan gigi dan mata, sunatan masal dan donor darah. Selain itu, bakti sosial dengan memberikan satunan paket sembako kepada sekitar 3.000 keluarga miskin.
Sedangkan untuk memeriahkan kegiatan, sejumlah penampilan dan hiburan rakyat turut disajikan seperti atraksi marching band, tarian Persit, tarian cokek dan orgen tunggal.
“TNI tidak tinggal diam dan masih tetap eksis dalam melayani masyarakat. Hal tersebut terbukti dengan diadakannya acara bakti sosial ini,” kata Pangdam Jaya Mayjen Darpito Pudyastungkoro usai sambutan pada acara yang juga dihadiri Bupati Tangerang H Ismet Iskandar ini.

Minggu, 24 Agustus 2008

Tangerang di Bawah Bendera Multi Budaya


Di tengah pudarnya identitas kesenian dan kebudayaan yang tidak lagi menjadi kebanggaan masyarakat Tangerang, kehadiran pementasan seni dan budaya yang dilakukan selama 36 jam nonstop sudah sepatutnya menjadi tonggak membangkitkan kembali pudarnya identitas.
Pagelaran 16 macam seni dan budaya yang di antaranya menampilkan adat perkawinan China Benteng, barongsai dan long, rampak bedug, kabaret, calung, topeng poles putra tolay, angklung, sendra tari perjuangan Nyi Mas Ageng Serang, degung, gambang kromong, qasidah, pop dangdut, lenong, pagelaran nassyid dan tari jaipongan telah berhasil memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) yang ke-3.441.
Digelarnya pagelaran seni dan budaya yang mulai pudar di tengah masyarakat Tangerang merupakan era kebangkitan seni dan budaya. Selain dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan (HUT) Republik Indonesia yang ke-63. Seni budaya yang digelar merupakan suatu wahana untuk mempertahankan dan menunjukan begitu beragam dan indahnya seni budaya yang ada di Kabupaten Tangerang. Juga sebagai bahan pelajaran untuk mengetahui makna dari setiap kesenian maupun budaya yang ditampilkan.
Selama pertunjukan dilangsungkan mulai 22-24 Agustus itu dipantau MURI. Untuk menilainya pun terus dijaga secara bergiliran, karena perolehan gelar MURI harus sesuai dengan kesepakatan pihak penyelenggara dan pelaksanaannya pun harus konsisten dengan apa yang telah ditetapkan.
“Bila kesepakatannya selama 36 jam ditampilkannya kesenian dan kebudayaan itu, ya harus seperti yang disepakati dan dilakukan tanpa ada jeda. Para pemantau pun harus tetap memantau dan tidak sampai terlewatkan walau sedetik,” ujar salah satu pemantau MURI Ig Awang Rahargo kepada Tangerang Tribun disela-sela pemantauannya, Minggu (24/8).
Pagelarang dari 16 jenis kesenian dan kebudayaan yang berada di wilayah Kabupaten Tangerang dikemas dalam 2 panggung dengan ukuran yang sama. Panggung tersebut berada tepat pada sebelahnya.
Kesenian dan kebudayaan yang pertama kali digelar adalah perkawinan cina benteng dengan durasi penampilan selama satu jam. Kemudian disusul penampilan barongsai dan wayang kulit. Dalam penyelenggaraan acara pagelaran seni budaya 36 jam non stop tersebut mampu menjaring 3.000 penonton setiap harinya.
“Tidak semua pagelaran yang ditampilkan berdurasi satu jam, tetapi bervaruatif sesuai dengan jenis kesenian dan kebudayaan itu sendiri,” paparnya.
Ketua Panitia Penyelenggara Acara 36 Jam Nonstop Rekor MURI Dauri Darma Budiman mengatakan, acara pagelaran rekor Muri seni budaya 36 jam non stop mendapat dukungan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) dan berbagai organisasi kepemudaan yang konsen dalam seni budaya. Kesenian dan kebudayaan yang mendapat sorotan dan atusias dari para pemantau adalah adat pernikahan China Benteng dan topeng poles putra tolay. Penampilan terakhir yang disuguhkan sebagai penutup adalah penampilan pagelaran seni tari jaipongan. “Topeng putra tolay disuguhkan dengan budaya yang sangat kental dan disuguhi dengan unsur yang humoris,” pungkasnya.(Sumber: Tangerang Tribun, Foto: M Jakwan/Tribun)

Selasa, 08 Juli 2008

Tari Cukin, Sisi Lain Kesenian Cokek


Bila diperhatikan secara seksama, seni Tari Cukin tidak jauh berbeda dengan tari Cokek yang sudah lebih awal dikenal dan representasi sebuah kebudayaan asli masyarakat Tangerang. Hanya yang membedakannya, Tari Cukin sejenis drama tarian yang menceritakan para remaja putra dan putri yang sedang bersenda gurau pada pada suatu malam yang cukup cerah dan menggunakan tema ungkapan keceriaan para remaja dengan gerak tari yang cukup indah sehingga membuat kaum laki-laki tergerak untuk ikut serta didalamnya. Kesan pornoaksi dalam tarian Cukin sudah ditinggalkan oleh para penarinya.
Tarian ini pertama kali dipentaskan pada saat resepsi HUT Republik Indonesia (RI) ke-62. Di sela-sela sambutan Bupati Tangerang H Ismet Iskandar ketika itu, setelah menyaksikan pertunjukan spontan tersebut langsung memberikan nama tarian tersebut menjadi Tarian Cukin. Istilah Cukin merupakan bahasa asli masyarakat Tangerang yang mengandung artian selendang biasa dipakai para penari yang berarti juga kain yang dipakai untuk menggendong anak.
Tarian ini merupakan implementasi hasil workshop pengembangan kreasi seni daerah Kabupaten Tangerang yang diadakan pada tanggal 1 Agustus 2006 lalu. Sebagai maestronya adalah Nani Mulyani yang mengadopsi gerak tari Cokek yang sejak zaman Belanda telah berkembang. Hanya dalam ketentuan tari Cukin ini, rambu-rambu yang diamanatkan seniman mengacu pada norma-norma agama dan paradigma masyarakat Kabupaten Tangerang yang religius.
Hadirnya seni tari Cukin karena adanya tari Cokek yang sering kali dipandang negatif. Representasi kehadiran tari Cokek yang berkembang di Tangerang lebih berintonasi pada musik Betawi, China (Tionghoa). Selain itu, kaidah gerakannya pun belum memiliki aturan yang jelas.
Sebagai sesepuh tari Cokek adalah Masnah yang telah renta dan berumur lebih dari 60 tahun dan bertempat tinggal di Teluk Naga. Tari Cokek untuk saat ini sangat tabu dan hanya dihadirkan pada acara-acar tertentu seperti hajatan warga-warga keturunan Tionghoa untuk menghibur sekaligus pelepas syahwat. Karena tarian tersebut sangat gerakannya bersentuhan langsung secara fisik antar laki-laki dan perempuan dalam satu sarung.
“Pada zaman penjajahan dahulu, tari Cokek adalah tarian penghibur dan pelepas syahwat para petinggi Belanda yang juga dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai aksi untuk mengelabui para penjajah Belanda,” jelas Nani kepada Tangerang Tribun, Senin (7/7).
Hasil dari pengembangan, kolaborasi dan workshop kreasi seni daerah Kabupaten Tangerang dapat tercipta suatu tarian yang mencerminkan seni budaya khas Kabupaten Tangerang.
“Karena dengan terciptanya suatu kesenian daerah, maka hal tersebut akan berdampak pada kemajuan dan akan memperkuat jati diri serta kepribadian pada suatu daerah tersebut,” lanjutnya.
Konflik dalam tari Cukin dikemas secara humor dan dimainkan oleh 5 orang nong dan I orang kang. Sedangkan para pangrawit atau biasa disebut nagaya berjumlah 10 orang yang masing-masing memegang satu buah alat musik.
“Dan diakhir cerita, para penari wanita meninggalkan penari laki-laki yang sedang terhanyut oleh tarian dan alat musik. Ketika penari laki-laki menyadari dia akan mengejar dan memegang selendang, maka terjadilah tarik menarik antara keduanya, dan membuat kang jatuh ditelapak kaki nong,” pungkasnya.
Waditra/ alatmusik terdiri dari bonang, te khian, rebab, angklung gubrag, kendang, gong, kecrek, rebana marawis dan terompet pencak silat dengan alunan musik pengiring perpaduan dari jenis musik tradisional yang dipadukan sehingga menghasilkan musik yang dinamis. “Terbagi dua sesi, yang pertama musik instrumental dan yang kedua lagu yang langsung dinyanyikan seperti, nong manis, Ati sayang, kenong batok, nu ngibing dan nong darenok,” tandasnya.
Sementara Kepala Dinas Pemuda Olah raga Budaya dan Pariwisata Kabupaten Tangerang HM Komarudin menambahkan, tari Cukin adalah tarian yang bermetamorfosis dari tari Cokek dan sebagai budaya asli Kabupaten Tangerang untuk menambah khasanah dan menampilkan ciri dan warna budaya asli masyarakat Tangerang.(credit foto: AEN/ Tangerang Tribun)