Tampilkan postingan dengan label pariwisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pariwisata. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Februari 2009

Kontes Speed Modification



Sedikitnya 138 mobil dan motor mengikuti kontes modifikasi yang digelar oleh VINNTAMA Production selama 2 hari sejak, Sabtu (31/1) hingga Minggu (1/2) di Ocean Park BSD City, Kecamatan Serpong, Kota Tangerang Selatan.
Tujuan dari kontes tersebut untuk merangsang para pehoby modifikasi kendaraan bermotor di Tangerang untuk membentuk suatu wadah.
Acara kontes tersebut berlangsung. Susunan acara terdiri dari kontes kendaraan roda empat, kontes kendaraan roda dua, modern dance dan sexy dencer.
“Peserta kontes berasal dari Jakarta dan Tangerang. Untuk kontes kendaraan bermotor berjumlah 47 peserta dengan perbandingan 50 persen Tangerang dan 50 persen Jakarta,” ujar Manajer Event Orginizer VINNTAMA Production, Yoyok Agus Priono.
Sedangkan, sambung Yoyok, peserta kontes untuk kendaraan roda empat sebanyak 91 peserta. Perbandingan peserta sebanyak 80 persen dari Jakarta dan 30 persen dari Tangerang. “Padahal target kami untuk motor sebanyak 50 peserta dan untuk mobil 125 peserta. Akan tetapi hasilnya sudah hampir mendekati target,” paparnya.
Untuk dewan juri yang akan menilai para kontestan, lanjutnya, khusus didatangkan dari berbagai daerah dan mereka lebih ahli dan berkompeten dibidang otomotif. “Jumlah juri kami datangkan 23 orang juri yang terbagi untuk kendaraan bermotor sebanyak 8 orang dan sisanya untuk mobil,” tutur laki-laki berambut gondrong itu.
Dia menambahkan, maksud yang lebih utama dari kontes tersebut adalah untuk merealisasikan sebuah kraesi yang saat ini telah menjadi trendsetter dikalangan para pecinta modifikasi otomotif. “Jadi kontes ini bukan sekedar tontonan melainkan jadi show of yang mempunyai bobot dan memang nyata-nyata memang layak untuk di pertunjukan,” beber Yoyok.
Hal tersebut dibenarkan oleh Ketua Panitia Acara Speed Modification, Azhar Theodorus. Dia mengatakan, mengenai kategori trophy yang diperebutkan adalah 8 kategori yang terbagi sebanyak 88 trophy. “Sedangkan untuk motor sebanyak 23 kategori,” tandasnya.
Ketika disinggung item-item apa saja yang menjadi criteria penilaian kendaraan yang mengikuti kontes. Dia menjawab, hal tersebut adalah kewenangan para dewan juri, sedangkan panitia tidak berhak untuk menentukan standar apa saja yang menjadi penilaian. “Kami telah mempercayakan kepada para juri yang berkaliber nasional dan berpengalaman. Jadi biarkan mereka yang menilai,” ungkap Azhar.
Sementara salah satu peserta kontes kendaraan roda empat, Didi Chandra (26) mengatakan, keikut sertaan dirinya dalam kontes tersebut ingin menampilkan hasil kreasinya terhadap mobil Grand Civic miliknya ang dimodifikasi sejak 2006 lalu. “Menang atau tidak itu adalah hal yang biasa, yang penting hasil kreasi saya dilihat dan dapat ditampilkan. Sehingga memiliki kepuasan tersendiri,” tukasnya.

Rabu, 26 November 2008

Indonesia Proyeksikan 7,5 Juta Wisman

Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Depbudpar) memproyeksikan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) sebanyak 7,5 juta orang pada 2009.
"Untuk 2009, paling tidak kita proyeksikan wisman sebanyak 7,5 juta orang. Tapi ini baru proyeksi, belum target," kata Sekretaris Jenderal Depbudpar Wardiyatmo, Selasa (25/11).
Depbudpar, katanya, masih terus menghitung tingkat kunjungan wisman dan wisnus serta penerimaan devisa dari sektor pariwisata yang dikumpulkan dari data para pemangku kepentingan pariwisata, termasuk dari badan PBB untuk pariwisata (UN-WTO/United Nations World Tourism Organization).
Sebelumnya, Menbudpar Jero Wacik pada dialog di studio RRI di Jakarta, Kamis (6/11) mengatakan tetap optimistis dapat meraih kunjungan tujuh juta wisman sesuai target pemerintah, meski BPS memprediksi hanya sekitar 6,4 juta wisman.
Menbudpar mengatakan, bila melihat angka-angka statistik, perkiraan sementara capaian target tersebut antara 6,4 juta-6,6 juta wisman, mengingat perhitungan kumulatif kunjungan wisman dari Januari hingga September 2008 sudah mencapai 4,57 juta atau dengan pertumbuhan 12,19 persen dibanding periode yang sama tahun 2007.
"Bila rata-rata per bulan kunjungan wisman mencapai 600 ribu orang, tiga bulan ke depan akan mencapai 1,8 juta wisman, sehingga pada akhir tahun diperkirakan akan dicapai kunjungan 6,4 juta wisman. Angka ini akan menjadi rekor baru, karena rekor lama tahun 2007 sebesar 5,5 juta wisman," katanya.
Menbudpar mengatakan, target tujuh juta kunjungan wisman yang ditetapkan dalam program (Visit Indonesia Year - VIY) merupakan target optimistis atau target tinggi, sedangkan target moderat (sedang) adalah 6,5 juta, sementara target rendah (pesimistis) adalah enam juta kunjungan wisman.
Sedangkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada Senin (6/10) memprediksikan jumlah kunjungan wisman sampai akhir 2008 hanya mencapai 6,4 juta orang setelah melihat data jumlah wisman Januari hingga Agustus 2008 yang hanya mencapai 4,07 juta wisman.
Visit Indonesia 2009
Wardiyatmo pada bagian lain mengatakan, Depbudpar akan melanjutkan program tahun kunjungan wisata Indonesia, dan untuk 2009 telah ditetapkan dengan tema wisata MICE (Meeting, Incentive Convension and Exhibition) serta wisata bahari."Kita ingin tetap melanjutkan program tahun kunjungan wisata karena koordinasi antara stakeholder sudah kondusif," katanya.
Pada kesempatan sebelumnya, Wardiyatmo mengatakan, Depbudpar memilih wisata MICE dan wisata bahari sebagai VIY 2009 karena dua bidang wisata tersebut merupakan sektor wisata yang tidak terpengaruh oleh kondisi keamanan suatu negara.
Wisata pertemuan (Meeting), kata Wardiyatmo dalam acara diskusi kepariwisataan di Jakarta beberapa waktu lalu, tidak terpengaruh oleh situasi macam apapun.
Untuk mengkoordinasikan dan memadukan program pemasaran kegiatan pariwisata selama 2009, Depbudpar menyelenggarakan Rapat Kerja Pemasaran Pariwisata bersama dengan seluruh pemangku kegiatan pariwisata pada tanggal 26 -27 November 2008.(sumber Humas Depbudpar RI)

Kamis, 18 September 2008

Gunung Krakatau Tetap Mempesona


Bersama Ujung Kulon, Sunset di Selat Sunda, Pulau Sanghyang, Pulau Sebesi, Suku Baduy dan Situs Arkeologi Banten Lama, Gunung Krakatau dijuluki sebagai Seven Wonders of Banten. Ya, Krakatau menjadi sesuatu yang menarik namun mengerikan. Krakatau menarik dengan keindahan yang ditampakannya saat ini, namun sangat mengerikan jika kita mendengar atau membaca cerita kedahsyatannya saat mengamuk dan melantakkan daratan Banten dan Lampung.

Pada musim kemarau, antara Mei hingga September, gelombang dan arus laut tidak begitu liar. Cuaca juga bersih benderang. Perjalanan dengan kapal di Selat Sunda menjadi nyaman. Dari kejauhan, keanggunan gunung yang pernah menggemparkan dunia karena letusannya pada 27 Agustus 1883 itu juga sudah kelihatan.
Apalagi bila perjalanan dilakukan sesaat sebelum matahari tenggelam. Aneka warna sinar yang tercurah membuat suasana benar-benar berubah. Sangat menyentuh perasaan. Selain berpanorama indah, di sekitar Krakatau juga dimungkinkan untuk melakukan berbagai kegiatan rekreasi. Selam, renang, snorkling bisa dilakukan sambil menikmati matahari terbenam.
Secara administratif, pulau bergunung api di Selat Sunda ini sebenarnya masuk dalam wilayah Provinsi Lampung. Gunung ini telah dikenal dengan baik dan tercatat dalam sejarah sejak abad 16. Saat itu Selat Sunda telah menjadi jalur lalulintas bisnis yang ramai dari Eropa menuju Hindia Barat (Indonesia). Kini Selat Sunda juga memegang peranan penting sebagai jalur lalu lintas bisnis dan lapangan penelitian ilmu geologi dan kelautan.
Krakatau, dulu diperkirakan memiliki ketinggian 2.000 meter dengan radius 9 km2. Ledakan dahsyat pernah terjadi pada tahun 416, sebagaimana tercatat dalam buku jawa kuno Pustaka Raja, dan menyisakan 3 buah pulau yakni pulau Rakata, Sertung dan Panjang.
Dalam perkembangannya Rakata memunculkan puncak-puncak Danan dan Perbuatan. Ledakan yang lebih dahsyat pada tangal 27 Agustus 1883 telah menghancurkan 3/4 bagian tubuhnya dan menyebabkan gelombang besar dengan ketinggian 40 meter.
Konon sebuah bagian kapal di Pelabuhan Teluk Betung sampai terlempar sejauh 2,5 km akibat letusan itu. Hujan abu dan batunya mencapai areal seluas 483 km2 dalam radius 150 km2. Pada waktu itu Jakarta dan daerah sekitar Selat Sunda, seperti Anyer, Merak, Labuan, Kalianda, Teluk Betung dan Kota Agung menjadi gelap gulita. Suara ledakannya terdengar dari Pilipina hingga Madagaskar. Kekuatan ledakannya diperkirakan mencapai 21.547,6 kali ledakan bom atom.
Lalu setelah beristirahat selama 44 tahun, Anak Krakatau muncul pada Bulan Desember 1927 dan terus berkembang hingga kini. Saat ini, Anda bisa menapakkan kaki di anak gunung itu untuk melakukan penelitian ilmiah atau pun sekedar rekreasi.
Perjalanan rekreasi bisa Anda mulai dengan mendirikan tenda di kaki gunung Anak Krakatau atau biasa pula disebut pulau Rakata. Dari situ Anda bila memili kegiatan di laut seperti berenang, menyelam atau snorkeling. Sementara untuk kegiatan darat, Anda bisa melakukan tracking mengelilingi pulau Rakata.
Untuk kegiatan tracking ini sebaiknya dilakukan jangan sampai melewati matahari terbenam. Ini semata untuk menghindari air pasang sehingga Anda tidak terjebak di suatu tempat dan tidak bisa kembali ke tempat Anda mendirikan tenda. Karena sangat berbahaya, bila Anda memilih acara pendakian menuju puncak Krakatau, Anda perlu ijin khusus dari Dirjen Perlindungan dan Pelestarian Alam (PPA), Departemen Kehutanan, supaya bisa mendapatkan pendamping dan penunjuk jalan yang bisa diandalkan.
Sekarang, Anak Krakatau telah mencapai ketinggian 200 meter di atas permukaan laut dengan diameter 2 km. Untuk mengunjunginya Anda bisa berangkat dari Pelabuhan Tanjung Priuk dengan naik Jet-Foil atau Kapal Phinisi Nusantara. Jalur kedua adalah dari Pelabuhan Labuan, Banten. Dari sini Anda dapat menyewa kapal motor atau kapal nelayan yang berkapasitas antara 5 sampai 20 orang.
Jalur ketiga bisa ditempuh melalui Pelabuhan Canti, Kalianda-Lampung. Di pelabuhan ini Anda juga dapat menyewa kapal motor atau kapal nelayan yang akan menempuh Krakatau melalui P. Sebuku dan P. Sebesi. Pada bulan Juli saat Pemda Provinsi Lampung menggelar Festival Krakatau, Anda bahkan bisa ikut menyeberang ke pulau itu. Sedang dari kawasan Anyer dan Carita, sejumlah hotel juga punya paket mengunjungi Krakatau. Silakan pilih cara sesuai kemampuan.(lim/berbagai sumber)

Selasa, 09 September 2008

Lumba-Lumba Lily akan Melahirkan


Salah satu lumba-lumba hidung botol yang diberi nama Lily berusia sekitar 17 tahun di Gelanggang Samudera Ancol (GSA) diperkirakan sedang hamil.
Tanda-tanda kehamilan Lily diketahui dari bentuk fisik maupun hasil dari analisa laboratorium. Pada bentuk fisik, adanya kehamilan bisa dilihat dari pembesaran pada bagian perut dan gerakan renang yang tidak selincah saat tidak hamil. Sedangkan pada hasil uji laboratorium, dari sampel darah yang diambil terlihat adanya peningkatan kadar hormon progesteron yang biasa ditemukan pada lumba-lumba yang sedang hamil.
Namun berbeda dengan lumba-lumba yang ada di alam liar, Lily terkesan tidak terlalu sensitif akan kehadiran manusia di sekitarnya. Hal ini tentu saja dapat terjadi, karena Lily adalah lumba-lumba yang lahir di GSA yang sejak kecil sudah terbiasa dengan kehadiran manusia.
Keadaan tersebut juga mempermudah tim dokter hewan GSA untuk melakukan pemeriksaan dan pemantauan kondisi Lily dari hari ke hari. Bahkan tim dokter hewan GSA memperkirakan usia kehamilan Lily sudah menginjak usia 6 bulan, sehingga diperkirakan pada awal tahun depan Lily akan melahirkan.
Kelahiran bayi dolpin ini ini tidak hanya dinantikan oleh tim dokter hewan, karena proses kehamilan dan kelahiran lumba-lumba di dalam akuarium adalah hal yang sangat langka terjadi di Indonesia.
Selanjutnya pihak GSA berencana untuk menampilkan Lily dan beberapa lumba-lumba hidung botol lainnya dalam sebuah akuarium khusus yang merupakan akuarium terbesar dan satu-satunya di Indonesia yang diberi nama Fantasea Dolphin agar masyarakat luas bisa melihat kehidupan dolpin.
Sekedar diketahui, GSA sejak pendiriannya pada tahun 1974, telah merawat dan menampilkan keunikan serta kecerdasan dari lumba-lumba yang dapat dinikmati oleh pengunjung di pentas lumba-lumba. Sampai saat ini, sudah beberapa ekor lumba-lumba yang lahir di GSA di antaranya ialah Lily, Puput, Pipit, Rio, Hidros dan Juliet. Sesuai dengan misi GSA yang merupakan tempat konservasi ikut berkontribusi dalam menjaga kelestarian lumba-lumba melalui pemeliharaan dan pengembangbiakan spesies ini. Selain sebagai tempat konservasi, GSA juga mengemban misi pendidikan.
Jenis lumba-lumba yang dipelihara di GSA adalah jenis lumba-lumba hidung botol/Indo Pacific bottlenose dolphin (tursiops aduncus). Jenis lumba-lumba ini adalah salah satu jenis lumba-lumba yang dapat ditemukan di perairan Indonesia. Lumba-lumba ini dapat mencapai panjang tubuh maksimal hingga 4 meter dengan berat tubuh maksimal 600 kg serta dapat hidup hingga 40 tahun.

Parade Bedug "Rame-rame"


Sampoerna Hijau akan kembali menggelar parade bedug yang melintasi berbagai kota di Indonesia. Sedikitnya 19 kota dengan total jarak 10.000 KM menjadi perlintasan parade musik terpanjang ini.
Rencananya pesta rakyat melalui rute Pulau Jawa dan Pulau Sumatera tersebut mencatatkan rekor jarah tempuh terpanjang pada Museum Rekor Indonesia (MURI).
“Penyelenggaraan ini sudah yang kesebelas kali diadakan, mengingat kegiatan ini digelar tahunan dan terjadi hanya pada bulan Ramadhan. Tahun ini kami hadir dengan dua rute yang berbeda,” ungkap Brand Manager Sampoerna Hijau dan selaku Ketua Panitia Parade Beduk Suminto Alexander Hermawanto kepada, Senin (8/9).
Dalam parade bedug yang juga akan melintasi Provinsi Banten yaitu Kota Serang hingga Kota/Kabupaten Tangerang ditujukan untuk pelestarian budaya lokal Indonesia yang dilakukan hanya pada bulan Ramadhan.
Parade bedug yang mengambil tema “Budaya milik rame-rame” akan diawali dari Sumenep (P. Jawa) dan rute Sumatra bertolak dari Padang dan berakhir di Jakarta yaitu Depok pada, Minggu (21/9). Acara tersebut juga dimeriahkan para artis Ibukota antara lain, Nidji, Gigi, Andra and The Backbone, Ungu, Ari Laso, Pingkan Mambo, Agnita dan D’massive.

Minggu, 24 Agustus 2008

Tangerang di Bawah Bendera Multi Budaya


Di tengah pudarnya identitas kesenian dan kebudayaan yang tidak lagi menjadi kebanggaan masyarakat Tangerang, kehadiran pementasan seni dan budaya yang dilakukan selama 36 jam nonstop sudah sepatutnya menjadi tonggak membangkitkan kembali pudarnya identitas.
Pagelaran 16 macam seni dan budaya yang di antaranya menampilkan adat perkawinan China Benteng, barongsai dan long, rampak bedug, kabaret, calung, topeng poles putra tolay, angklung, sendra tari perjuangan Nyi Mas Ageng Serang, degung, gambang kromong, qasidah, pop dangdut, lenong, pagelaran nassyid dan tari jaipongan telah berhasil memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) yang ke-3.441.
Digelarnya pagelaran seni dan budaya yang mulai pudar di tengah masyarakat Tangerang merupakan era kebangkitan seni dan budaya. Selain dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan (HUT) Republik Indonesia yang ke-63. Seni budaya yang digelar merupakan suatu wahana untuk mempertahankan dan menunjukan begitu beragam dan indahnya seni budaya yang ada di Kabupaten Tangerang. Juga sebagai bahan pelajaran untuk mengetahui makna dari setiap kesenian maupun budaya yang ditampilkan.
Selama pertunjukan dilangsungkan mulai 22-24 Agustus itu dipantau MURI. Untuk menilainya pun terus dijaga secara bergiliran, karena perolehan gelar MURI harus sesuai dengan kesepakatan pihak penyelenggara dan pelaksanaannya pun harus konsisten dengan apa yang telah ditetapkan.
“Bila kesepakatannya selama 36 jam ditampilkannya kesenian dan kebudayaan itu, ya harus seperti yang disepakati dan dilakukan tanpa ada jeda. Para pemantau pun harus tetap memantau dan tidak sampai terlewatkan walau sedetik,” ujar salah satu pemantau MURI Ig Awang Rahargo kepada Tangerang Tribun disela-sela pemantauannya, Minggu (24/8).
Pagelarang dari 16 jenis kesenian dan kebudayaan yang berada di wilayah Kabupaten Tangerang dikemas dalam 2 panggung dengan ukuran yang sama. Panggung tersebut berada tepat pada sebelahnya.
Kesenian dan kebudayaan yang pertama kali digelar adalah perkawinan cina benteng dengan durasi penampilan selama satu jam. Kemudian disusul penampilan barongsai dan wayang kulit. Dalam penyelenggaraan acara pagelaran seni budaya 36 jam non stop tersebut mampu menjaring 3.000 penonton setiap harinya.
“Tidak semua pagelaran yang ditampilkan berdurasi satu jam, tetapi bervaruatif sesuai dengan jenis kesenian dan kebudayaan itu sendiri,” paparnya.
Ketua Panitia Penyelenggara Acara 36 Jam Nonstop Rekor MURI Dauri Darma Budiman mengatakan, acara pagelaran rekor Muri seni budaya 36 jam non stop mendapat dukungan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) dan berbagai organisasi kepemudaan yang konsen dalam seni budaya. Kesenian dan kebudayaan yang mendapat sorotan dan atusias dari para pemantau adalah adat pernikahan China Benteng dan topeng poles putra tolay. Penampilan terakhir yang disuguhkan sebagai penutup adalah penampilan pagelaran seni tari jaipongan. “Topeng putra tolay disuguhkan dengan budaya yang sangat kental dan disuguhi dengan unsur yang humoris,” pungkasnya.(Sumber: Tangerang Tribun, Foto: M Jakwan/Tribun)

Minggu, 27 Juli 2008

Ke Karawaci, Tengok Rumah Sang Saudagar


Tangerang dengan segala persoalan kekinian tetap menarik sebagai sebuah kota yang sarat menyimpan sejarah. Bangunan kuno, kelenteng, vihara dan bangunan peninggalan sejarah lain masih bisa dijumpai di kota yang juga dijuluki sebagai Kota Benteng ini.

Salah satu peninggalan sejarah yang bisa dijumpai di Tangerang adalah rumah tua yang terletak di
Kampung Karawaci Baru, RT 04/03 Kecamatan Karawaci, Kota Tangerang. Rumah dengan arsitektur perpaduan Tiongkok dan Belanda (Eropa) itu ditengarai sudah berusia lebih dari 400 tahun. Keistimewaan bangunan sangat terlihat pada bagian depan rumah utama, dimana desain bangunannya pada model atap rumah yang menjulang tinggi serta terdapatnya dua patung singa di pintu depan. Pada bagian belakang rumah, desain bangunannya kental dengan gaya Eropa. Selain banyak tiang penyangga beton ukuran besar, daun jendela yang digunakan pun berbentuk panjang menyerupai pintu khas bangunan Eropa.
Meski sudah sangat tua, namun bangunan ini masih berdiri kokoh di atas lahan seluas 2,5 hektar dengan luas bangunan 1 hektar (konon dahulu mencapai 3 hektar). Bagian depan terbuat dari kayu jati berwarna coklat. Di kiri kanan terdapat dua patung singa barong yang masih terpelihara dan utuh.
Di sekeliling bangunan itu berdiri rumah-rumah kopel atau asrama mantan tentara Komando Distrik Militer (Kodim) 203 Arya Kamuning. Mereka ditugasi menjaga keamanan kebun karet dan kelapa di wilayah sekitar rumah tua itu.
Dulu, rumah itu konon dimiliki oleh Jho Peng, seorang saudagar karet, atau awalnya menjadi mandor keturunan Cina yang mendapatkan kepercayaan penuh mengurusi pabrik dan kebun karet oleh pemerintah kolonial. Rumah itu kini dihuni oleh empat keluarga keturunan Jho Peng.
“Saya tidak mengetahui sejarah dan siapa pemilik asli dari rumah ini. Saya hanya seorang cucu generasi ketiga dari mandor kebun karet kepercayaan bos,” tutur Harry Masduki, seorang kepala keluarga yang menghuni rumah bergaya Cina itu.
Menurut Kasbullah (73), mantan tentara berpangkat Sertu yang dulu mendapat tugas menjaga sekitar wilayah itu, menuturkan, di areal rumah itu dulu adalah perkebunan karet dan kepala yang cukup luas. Di sekitar itu pula terdapat pabrik pengolahan getah karet dan kelapa dengan ratusan pekerja. “Tetapi tahun 1965, pabrik itu bangkrut karena ulah pekerjanya sendiri yang siangnya menyadap getah karet, malam menebang pohonnya untuk dijual,” terangnya.
Tangerang adalah salah satu wilayah penting pada zaman penjajahan karena memiliki kekayaan alam melimpah. Tetapi Tangerang juga dijadikan sebagai tempat menetap orang-orang keturunan yang tersingkir dari berbagai daerah, sehingga kemudian dikenal dengan sebutan Cina Benteng.

Syukuran Nelayan Cituis

Siang itu, Matahari terasa membakar kulit. Iskandar (23), nelayan Cituis, Kecamatan Pakuhaji, Kabupaten Tangerang bersama puluhan nelayan lainnya terus berusaha keras menggapai perahu berisi sesaji berisi bekakak ayam, ikan, telur serta lauk pauk lainnya di tengah laut lepas Laut Jawa. Meski harus berpeluh, Iskandar dan juga sejumlah nelayan lainnya berhasil meraih sesaji yang diyakini dapat memberikan keselamatan dan keberuntungan ketika nelayan sedang melaut.

Upacara ritual melarung kepala kerbau dan beraneka sesaji merupakan simbol ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan karunia hasil laut dan keselamatan masyarakat pesisir utara Kabupaten Tangerang, tepatnya di pantai Surya Bahari, Desa Surya Bahari, Kecamatan Pakuhaji, yang digelar secara tidak menentu.
Tahun ini, Pesta Laut kembali digelar pada Minggu (27/7). Mulai pukul 08.00 WIB hingga hampir pukul 14.00 WIB, berbagai macam sesaji yang dibawa satu perahu dengan berbagai interior dikawal para pendekar yang dituakan oleh warga sekitar. Sementara puluhan perahu nelayan lainnya yang ambil bagian dan mengikuti perahu yang mengangkut sesaji dan kepala kerbau yang akan dilepas di tengah laut bergerombol mengikuti untuk memperebutkan sesaji sebanyak mungkin. Sebelum kapal-kapal diberangkatkan, para nelayan tak lupa menyiramkan kapal mereka dengan air laut di sana. Sebagai simbol kapal yang akan mereka pakai untuk melaut dapat hasil tangkapan yang berlimpah dan dilindungi dari mara bahaya.
Dengan acara selamatan dan syukuran ini bagi para nelayan dan masyarakat luas, secara batin memberikan rasa tenang ketika mereka melaut untuk mencari nafkah. Namun dibalik itu semua, tidak ada kesan sakral dalam pelarungan atau upacara adat yang dilangsungkan di pesisir utara. Bahkan, oleh nelayan pelarungan lebih mirip pesta dan ungkapan rasa syukur semata.
Pesta Laut 2008 tersebut adalah pesta yang ke delapan sejak pertama kali diadakan tahun 2000 lalu. Tidak ada waktu yang khusus dalam pelaksanaan Pesta Nelayan di Desa Cituis, atau tepatnya di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Cituis ini. Namun pada pesta Nelayan 14, 26 hingga 29 Juli 2008 nanti, dirayakan dengan beraneka kegiatan. Mulai dari acara hiburan sampai aksi bakti sosial bagi warga usia lanjut dan anak yatim piatu. Setiap malam diselenggarakan pagelaran seni dan budaya, khusus acara hiburan disajikan musik dangdut. Ada pula pertunjukan budaya berupa wayang golek dan beragam seni budaya lainnya.
"Pada tanggal 14 kemarin, kami melaksanakan lomba rancang bangun perahu dan tanggal 26, kami mengadakan kegiatan menanam 1.000 pohon bakau di pesisir pantai, dekat Sekolah Pelayaran," kata Penanggung Jawab kegiatan Pesta Nelayan yang juga Ketua KUD Mina Samudra Cituis, Muhamad Nasyirudin kepada Tengerang Tribun di ruang kerjanya, kemarin seraya mengatakan, puncak acara Pesta Laut ini dilangsungkan pada tanggal 29 Juli 2008.
Ketua Panitia Pesta Laut, Sukma Jaya SE mengatakan, terselenggaranya kegiatan tersebut merupakan salah satu upaya masyarakat nelayan yang tergabung di TPI Cituis. Tidak ada bantuan sedikit pun dari pemerintah.
"Biaya ini dari para nelayan yang jumlahnya hampir ribuan orang ini. Mereka rela mengeluarkan biaya karena beraggapan pesta atau larung laut merupakan salah satu kewajiban sebagai rasa syukur nelayan kepada laut," paparnya.(Tangerang Tribun)

Vanesa Duta Banten untuk Putri Indonesia


Setelah melewati sejumlah rintangan dan menjalani massa karantina, Vanesa Ariesca Setiawan akhirnya lolos sebagai Finalis Putri Indonesia asal Banten. Gadis berparas cantik berusia 19 tahun itu meraih predikat membanggakan untuk mewakili Provinsi Banten ke pentas nasional dalam ajang Pemilihan Putri Indonesia 2008.
Vanesa dinobatkan sebagai Putri Indonesia asal Banten ditandai dengan disematkannya mahkota oleh Putri Pariwisata Indonesia tahun 2007, Ika Vionda Putri, Sabtu (27/7) malam, di Hotel Le Dian, Serang.
Gubernur Banten Hj Ratu Atut Chosiyah secara resmi menyematkan selendang berwaran ungu bertuliskan putri Indonesia 2008, sekaligus dengan pemberian piala Gubernur kepada Vanesa. Sementara posisi runner up 1, Rieke Caroline , runner up 2 Wulan Apridita. Sedangkan predikat harapan 1 Endah Arie Cakrawati dan Ludwina Marselindar meriah predikat harapan 2 serta Putri Favorit Indonesia Banten 2008 jatuh kepada Indri Damayanti dan Putri Persahabatan 2008 disematkan kepada Laura Veronica.
Dalam sambutanya, Ratu Atut menyatakan, Putri Indonesia Banten diharapkan berhasil meraih target menjadi Putri Indonesia 2008. Menurut Atut, Putri Indonesia Banten diharapkan bisa mempromosikan potensi Banten yang melimpah ruah. Sebagai duta Banten, Putri juga diharuskan menjaga nama baik Banten.(Banten Tribun)

Senin, 14 Juli 2008

Berwisata ke Pandeglang Pasti Seru


Wilayah Kabupaten Pandeglang letaknya sebelah selatan Ibu Kota Provinsi Banten, Serang. Wilayah ini berbatasan dengan Kabupaten Lebak dan Kabutapaten Serang. Namun jika dibandingkan dengan daerah lainnya di Provinsi Banten, Sumber Daya Alam (SDA) Kabupaten Pandeglang terbilang cukup berlimpah, terlebih potensi obyek wisata alam.
Betapa tidak, jika dilihat dari geografis, wilayah Pandeglang diapit oleh tiga pegunungan yang memancarkan air melalui sumber-sumber mata air yang dijadikan lokasi pemandiaan alam air pegunungan, seperti Cikoromoy dan Cisolong dan air terjun Curug Putri dan Curug Gendang. Tiga gunung yang menghembuskan hawa sejuk kesetiap penjuru wilayah Pandeglang itu dikenal dengan sebutan Akarsari (Gunung Aseupan, Karang dan Pulosari). Dari ketiga gunung tersebut, Gunung Karang memiliki ketinggian 1.778 meter di atas permukaan laut. Sedangkan ketinggian Gunung Pulosari 1.346 dan Gunung Aseupan 1.174 di atas permukaan laut.
Di bagian selatan dan barat Pandeglang terdapat hamparan pasir putih, mulai laut Pantai Carita hingga Pantai Sumur-Ujung Kulon. Bahkan soal wisata bahari dan hutan, Pandeglanglah yang lebih asik untuk dikunjungi. Sebab selain pantainya bersih di lautan lepas di bagian utara, dan ada gugusan pegunungan di sebelah selatan yang dipercantik oleh pulau-pulau kecil yang menggoda untuk dikunjungi oleh para wisatawan, baik lokal maupun mancanegara.
Dari belasan pulau yang itu, ada diantaranya yang mudah dikunjungi, yakni Pulau Umang, Peucang, Panaitan dan Pulau Deli serta banyak pulau-pulau kecil lainnya. Di pulau-pulau kecil itu dilengkapi hotel atau penginapan dan restoran yang setiap saat siap melayani para wisatawan yang berkunjung.
Di sebelah barat Pandeglang, tepatnya di pesisir Pantai Carita yang berbatasan dengan Kabupaten Serang, membentang tempat wisata pantai pasir putih yang cukup menarik untuk dikunjungi. Wisatawan yang berkunjung ke Pantai Carita todak sekedar menikmati panorama laut dan ombak bersih yang tak henti-hentinya menjilati kaki, wisatawan juga bisa bebas menikmati keagungan ciptaan Tuhan berupa air terjun Curug Gendang yang memancarkan keindahan alam.
Lokasi wisata alam lain yang menjadi kekayaan sekaligus kebanggaan Pandeglang, adalah wisata alam Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK). Dengan ciri khas satwa langka Badak Cula Satu (Rhinoceros Sondaicus) juga masih menyimpan satwa langka lainnya. Dan keanekaragaman hayati baik flora maupun fauna TNUK menjadi sebuah kawasan pelestarian alam terpenting di Indonesia. TNUK juga merupakan perwakilan ekosistem hutan tropis daratan rendah yang tersisa dan terluas di dunia.
Taman Nasional Ujung Kulon yang berada di Kecamatan Sumur Kabupaten Pandeglang memiliki tiga tipe ekosistem yaitu perairan laut, pesisir pantai dan daratan. Selain itu TNUK juga memiliki keanekaragaman hayati yang berlimpah. Terdapat 700 jenis flora, 57 diantaranya termasuk langka. Faunanya terdiri dari 35 jenis mamalia, 5 jenis primata, 59 juenis reptilia, 22 jenis ambphibian, 240 jenis aves, 72 jenis insecta, 142 jenis fisces dan 33 jenis terumbu karang.
Pemerintah daerah memasukan seluruh obyek wisata itu ke dalam kawasan pengembangan dengan pola terarah melalui Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW). Upaya mengangkat wisata Pandeglang terus dilakukan Pemkab Pandeglang melalui berbagai cara, misalnya saja penyebaran brosur dan pengiklanan diberbagai media massa dan lainnya.
Potensi pariwisata itu dapat menciptakan multiply effec baik untuk masyarakat maupun pemerintah daerah sendiri melalui Pendapatan Asli Daerah (PAD). Meski demikian, kondisi pariwisata di Pandeglang tidak jauh berbeda dengan daerah lainnnya di Indonesia yang terus mengalami turun naik karena sangat terkait dengan kondisi ekonomi dunia.
Berdasarkan data dari Dinas Pariwisata Kabupaten Pandeglang, jumlah wisatawan yang masuk ke Pandeglang tahun 1997 atau sebelum krisis ekonomi, jumlah wisatawan bisa mencapai 2 juta dan 6.000 diantaranya adalah wisatawan mancanegara. Setalah badai krisis ekonomi menerpa Indonesia, jumlah wisatawan menurun drastis menjadi 30.000 wisatawan, tapi pada saat bersamaan terdapat kenaikan dari jumlah wisatawan manca negara sebanyak 10.000.
Pariwisata di Pandeglang baru kembali bergairah pada tahun 2000 dan kembali menurun untuk pariwista pantai saat tsunami yang melanda Aceh. Tapi secara perlahan kepercayaan wisatawan terhadap obyek wisata di Pandeglang kembali pulih. "Kondisi wisatawan jika dihitung untuk tahun 2006 jumlahnya mencapai 718.923. Tapi jumlah wisatawan mencanegara menurun menjadi 1.614," kata Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Pandeglang, Drs Suwito.