Tampilkan postingan dengan label Wisata Banten. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata Banten. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 Februari 2009

Street Circuit Lippo Resmi Dioperasikan


Sirkuit Internasional Jalan Raya di Lippo Karawaci, Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang dioperasikan secara resmi, Minggu (8/2).
Peresmian sarana olahraga otomotif bernilai US$ 15 Juta ini dilakukan Menteri Pemuda dan Olah Raga Adhyaksa Dault di tengah acara The Lippo Village Indonesian GT Championships Serie 1.
Sirkuit Lippo Karawaci sendiri merupakan sirkuit jalan raya pertama di Indonesia dengan standar internasional dan dirancang untuk menggelar even balapan dunia seperti AI Grand Prix dan Formula 1.
Peta desain sirkuit Lippo Karawaci dibuat seorang ahli sirkuit balap Herman Tilke yang memiliki panjang 3,2 km dan 12 tikungan searah jarum jam. Kondisi ini dapat memungkinkan para pembalap memacu kendaraan hingga mencapai kecepatan tertinggi 300 kilometer/jam.
Sedangkan fasilitas di dalam arena diantaranya tersedia tribun dengan kapasitas 6.000 penonton, hotel berbintang lima, Rumah Sakit Internasional, perkantoran, sarana helikopter, sarana parkir, restoran dan pusat makanan atau jajanan serta gerai A1 Gren Prix.
"Saya mewakili pemerintah merasa bangga. Event ini dapat menjadi sebuah titik tolak untuk kembali menghidupkan rasa nasionalisme kita," kata Adhyaksa saat memberikan sambutan dalam peresmian itu.
Lebih lanjut, Adhyaksa menilai PT Lippo Karawaci Tbk berhasil membuktikan bangsa Indonesia turut berpartisipasi memajukan dunia olahraga otomotif. “Dengan sarana ini F1 nantinya dapat diselenggarakan di Indonesia,” kata Adhyaksa didampingi pendiri Lippo Grup James Riady, Ketua Ikatan Motor Indonesia Ari Batubara, Ketua Komisi II DPR RI Theo L Sambuaga, Jenderal TNI (purn.) Agum Gumelar, Gubernur Banten Hj Ratu Atut Chosiyah dan Wakil Bupati Tangerang H Rano Karno.
Dalam peresmian itu disamping mobil yang mengikuti even balapan GT Championships Serie 1, ratusan kendaraan dari klub otomotif serta ribuan penonton memadati area sirkuit. Berbagai acara digelar, sehingga memeriahkan peresmian sarana yang diprediksi akan menggantikan Sirkuit Sentul ini.

Ratusan Mobil Klub Konvoi ke Supermal


Sejumlah klub otomotif yang tergabung dalam Forum Komunikasi Klub & komunitas Otomotif (FK3O) mengerahkan para anggotanya untuk berkonvoi ke sekitar area Supermal Lippo Karawaci, Minggu (8/2).
Dengan berkekuatan sedikitnya mencapai 550 mobil klub, mereka beramai-ramai mendatangi sekaligus memeriahkan acara Peresmian Sirkuit Jalan Raya Lippo Village yang diresmikan oleh Menpora Adyaksa Dault.
Sedangkan titik sentral penumpukan kendaraan klub menuju Karawaci berada di Stopan Km 13,5, Tol Jakarta-Tangerang. Dari arah Tol BSD, dimulai dari The Green BSD City, BSD. Sementara dari arah Kabupaten Tangerang dan sekitarnya starnya dimulai dari Taman Parkir Universitas Multi Media, Gading Serpong.
Sejumlah klub otomotif ini datang dari berbagai daerah, terutama berasal dari Jabodetabek dan Banten serta luar Jawa.
Kedatangan mereka tetap akan merayakan peresmian Sirkuit Jalanan Lippo yang semula direncanakan sebagai ajang bergengsi internasional A1 GP. Balapan A1GP ini batal dikarenakan tidak mendapat izin dari Federasi Automobil Internasional. Namun demikian pihak panitia, menggantinya dengan menggelar Seri I GT Championships di sirkuit jalan raya Lippo Village tersebut.
Ajang atas kerjasama dengan IMI ini berlanjut seri I pada 20-22 Februari dan seri III pada Nopember 2009 sebagai pendukung balapan A1 GP pada November 2009.
Menurut Principal A1 Team Indonesia, pihaknya dalam kesempatan peresmian Sirkuit Lippo telah siap dengan mobil display dan menjual berbagai merchandise edisi khusus. "Ini pertama kali A1 Team Indonesia akan jualan merchandise," kata PR A1 Team Indonesia, Indra.

Selasa, 20 Januari 2009

Salsa Food City, Alternatif Wisata Kuliner


Acara makan malam bersama biasa dijadikan momentum bagi sekelompok orang untuk mempererat ikatan emosional baik dalam bentuk kekeluargaan maupun persahabatan. Alternatif pencarian lokasi yang kondusif, nyaman dan mendukung terkadang cukup membingungkan.
Di Jogjakarta pasangan muda-mudi, sekelompok remaja atau pemuda, bahkan sekumpulan anggota keluarga biasa memanfaatkan suasana malam untuk mempererat tali persahabatan dan kekeluargaan dengan makan malam di warung-warung lesehan terbuka dengan menu makanan khas Jogja.
Aneka jajanan malam yang menawarkan suasana khas di Jogjakarta terbilang relatif banyak dan bervarisi. Sehingga tidak terlalu sulit untuk menentukan lokasi untuk menghabiskan malam bersama keluarga, kerabat, atau sahabat. Lalu bagaimana dengan kita yang tinggal di wilayah Tangerang?
Pusat jajanan malam di kota ‘Seribu Industri’ ini bisa terbilang jarang dan sulit untuk ditemukan. Namun, bukan berarti Tangerang tidak memiliki lokasi menarik dan unik untuk dijadikan ajang temu kangen dan merekatkan tali persaudaraan antara keluarga, sahabat, bahkan teman dekat.
Serpong, yang akrab di telinga masyarakat Tangerang dengan sebutan ‘Kota Nuansa’ ternyata menyimpan sebuah alternatif lokasi makan malam dengan nuansa santai penuh keromantisan yang ditunjang dengan menu makanan yang beraneka ragam dan bervariasi.
Salsa Food City (SFC) yang akrab dikenal dengan Family Food Court memiliki sebuah differensiasi menu dan nuansa yang ditawarkan sebagai pusat jajanan malam di selatan Kota Tangerang. Dengan luas area 3000 meter persegi SFC menghidangkan aneka variasi makanan yang sangat lengkap karena ditunjang dengan kumpulan restoran-restoran ternama baik internasional maupun lokal.
“Ada lebih dari 50 aneka menu makanan yang ada di SFC, seperti Seafood, Sate, Sop Kambing, Mie Ayam, DJ Steak, Sari Laut, Warung Betawi Ayam Bakar Taliwang, Sate Khas Tangerang, Batavia Steak, Kantin Murah, Es Duren, Martabak Mini and Coffee 777. Harganya relatif murah kok,” kata Cut Meutia, General Manager Of Coorporate Communication PT. Summarecon Agung.
Nuansa SFC sendiri menampilkan design bangunan yang menarik, unik dan berkesan sangat santai cocok bagi pengunjung yang ingin bersantai untuk menikmati makanan dan minuman bersama teman dan keluarga.
“SFC memang sengaja dikonsep dalam bentuk rumah makan di ruang terbuka, sehingga pandangan ke arah tidak terhalangi. Di malam hari menjadi sangat mengesankan,” ujarnya.
Selain menu makanan dan nuansa malam yang mengesankan pengunjung SFC akan dimanjakan dengan beragam fasilitas pendukung selain menu makanan yang variatif dan beragam, seperti 40 meja dan 180 kursi, wastafel, toilet umum, tempat parkir, meja dan kursi. “Yang berbeda di sini adalah acara Live Musik setiap malam di Panggung Salsa,” imbuh Meutia.
Dalam acara Live Musik di Panggung Salsa pengunjung dimanjakan dengan kebebasan untuk merequest lagu-lagu yang akan dibawakan oleh beberapa orang artis megapolitan, dan tidak jarang artis-artis ibu kota tampil mengiringi makan malam para pengunjung.
“Konsep musiknya sendiri kita arahkan kepada jenis musik latin untuk menambah suasana harmonis dan familiar,” imbuhnya lagi.
Amel, salah seorang pengunjung warga keturunan yang hadir saat Tangerang Tribun meliput pusat jajanan malam ini mengaku kepincut dengan hidangan Seafood dan Es Duren yang tersedia di SFC. Dirinya juga mengaku sering berkunjung ke SFC, karena terkesan dengan nuansa dan suasana malam di SFC.
“Saya biasa ke sini bersama teman-teman, keluarga juga sering saya ajak ke sini. Awalnya sih saya tau SFC dari soulmate saya,” ujarnya sambil asik menyantap hidangan seafood SFC.
Pusat jajanan malam yang diresmikan sejak 23 September 2004 ini, juga menyediakan tempat khusus untuk acara-acara seperti ulang tahun, gathering, arisan, dll. “untuk acara keluarga kita fasilitasi maximal untuk 100 orang dengan biaya penyewaan Rp. 200.000 per acara. Kita fasilitasi dengan 25 buah meja, 100 kursi dan panggung,” ungkap Meutia.

Minggu, 16 November 2008

Dari Banten, Krakatau Memesona


Sabtu (15/11) kemarin, “delegasi turis” dari Pemprov Banten yang dinahkodai Gubernur Atut Chosiyah, berlayar ke tengah perairan Selat Sunda. Dari atas Kapal Roll on Roll Out (Roro) itu, mereka terus mendekati Gunung Krakatau yang tampak masih mengeluarkan asap putih nan menawan.
Bukannya khawatir bila sewaktu-waktu bisa meledak atau menyemburkan lahar panas, Gunung Krakatau itu justru didekati oleh para turis asal Pemprov Banten ini hingga beberapa meter saja.
“Lihat tuh, keindahan alamnya luar biasa,” kata Gubernur Atut sembari menunjuk ke arah Krakatau dihadapan tamu undangan yang khusus diberangkatkan untuk mengikuti kegiatan Wisata Krakatau 2008.
Diantara “turis Pemprov” yang ikut merasakan keindahan Gunung Krakatau dari dekat tampak Wakil Gubernur HM Masduki dan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata H Ranta Suharta. Sementara tamu undangan dari manca negara seperti Belanda, Jerman dan negara Eropa lainnya urung datang lantaran Cuaca Selat Sunda sepengetahuan mereka masih tak menentu.
Perjalanan mengarungi Selat Sunda ini sengaja digelar Pemprov Banten untuk membuktikan pesona Gunung Anak Karakatau dari arah bagian barat terujung Pulau Jawa, yakni Provinsi Banten.
Selama sekitar empat jam, mereka tanpa henti mengagumi fenomena keindahan Gunung Anak Krakatau dari atas kapal Roro yang jaraknya beberapa kilometer saja. Sesekali, sebagian diantara mereka mempergunakan kamera yang dibawanya bak fotografer untuk mengabadikan suasana di sekitar Gunung Krakatau. Tak jarang, Gubernur Atut yang terpesona sejak awal datang atas keelokan Krakatau ini tersenyum seolah ingin menggambarkan keindahan yang tengah dirasakannya tanpa bisa diucapkan dengan kata-kata.
Menurutnya, Gunung Krakatau sangat istimewa dan memiliki keunggulan tersendiri dibanding potensi wisata lainnya. Apalagi fenomena alamnya sudah terkenal dan tercatat dalam sejarahnya yang panjang. "Meski lokasinya berada di wilayah Lampung, tapi itu bisa dijadikan salah satu lokasi obyek wisata yang ditawarkan oleh Pemprov Banten. Terlebih Banten dan Lampung telah menjalin kerjasama,” ungkap Atut sekaligus menegaskan keinginannya untuk mengembangkan wisata Gunung Krakatau.
Lebih lanjut, dia mengajak pelaku usaha pariwisata seperti jasa perjalanan untuk memasukkan Gunung Krakatau sebagai salah satu obyek yang ditawarkan di Banten disamping 204 obyek wisata lainnya yang tengah dikembangkan pihaknya.

Rabu, 15 Oktober 2008

Asti: Mengembangkan Usaha dengan Hati


(Pengelola wisata Situ Gintung)

Ketika sang ayah menyerahkan usaha yang tengah dirintis kepada dirinya, Asti Anugrawati Permana tanpa bisa berpikir panjang dan langsung menyatakan kesiapannya.
Bagi dirinya kepercayaan dari sang ayah ini adalah anugerah yang merupakan tantangan terbesar dalam perjalanan kehidupannya untuk kemudian mampu bertahan serta lebih prospektif.
Ia bermitra dengan dua orang adiknya yaitu Asih Anugrawati dan Astrit Anugrawati untuk mengelola suatu usaha yang bergerak di bidang wisata dan restouran di kawasan Situ Gintung, Kelurahan Pisangan Barat, Kecamatan Ciputat Timur, Kabupaten Tangerang.
Saat diserahkan Asti baru saja menikah dengan seorang suami yang bekerja sebagai wirasuasta. Ketika pertama kali mengelola bisnis pariwisata ini, dia merasa canggung untuk mengawali, karena tindakan dan keputusan yang harus dia tempuh harus memiliki efek bisnis.
Walaupun Asti telah dibekali “nasihat” dan ilmu yang berasal dari sebuah institusi pendidikan, rasa kebingungannya tidak kunjung membuatnya percaya diri untuk mengelola usaha yang telah sang ayah yang kian berkembang dan mulai maju itu.
Tuntutan dan dukungan keluarga dan sang suami yang membuatnya kian yakin dalam mengelola sebuah bisnis di bidang pariwisata air dan restoran yang kini makin maju dan terkenal bukan hanya diwilayah Kecamatan Ciputat Timur tetapi sudah sampai keluar daerah seperti DKI Jakarta, Bekasi, Bogor, Sukabumi dan Karawang.
Dengan dibantu oleh kedua orang adik-adiknya akhirnya Asti dapat seutuhnya percaya diri sebagai Manager Pengelola Kawasan Wisata Pulau Situ Gintung yang membawahi puluhan karyawannya. “Saya berhasil mengembangkan usaha yang diwariskan oleh ayahanda berkat kerjasama yang baik antara saya dan kedua adik-adik saya. Tidak lupa saya juga masih sering meminta pendapat kepada ayah dan juga suami,” papar Asti.
Selama 3 tahun dipercayakan menggeluti bisnis parawisata, kini telah bertambah maju dan kian banyak wahana-wahana yang dapat dinikmati oleh para pelanggan usahanya seperti di pusat wisata Situ Gintung dengan memberikan hiburan ataupun untuk bersantai.
Kesibukannya mengelola Taman wisata Pulau Situ Gintung tidak membuatnya lupa dengan tugasnya menjadi seorang istri dan sorang ibu untuk anak laki-lakinya yang baru saja berumur 2 tahun. “Sesibuk-sibuknya saya dalam mengelola usaha ini tetap saya tidak melupakan kodrat dan tugas saya sebagai seorang istri dan sekaligus seorang ibu,” tutur Asti.
Bertekadkan amanat, rasa sayang dan kepercayaan dari seorang ayah, agar ayahandanya dapat mejalani masa-masa tenang dalam hari tuanya karena tidak disibukan dan dipusingkan dengan urusan-urusan bisnis yang dirintis dan dikembangkannya dari mulai usia muda.Dalam hatinya semakin kuat untuk mempertahankan dan mempromosikan Taman wisata Pulau Situ Gintung kepada masyarkat luas sebagai kawasan wisata yang nyaman dan pantas sebagai temapat rekreasi, bermain dan belajar keluarga.
Niat yang tulus serta tekad yang iklas dalam kesehariannya Asti harus terus bisa membuat item-item baru dalam mengembangkan wahana-wahana yang telah ada agar fres dan tetap diminati dan juga tidak lupa memperketat sistim keamanannya kepada para pengunjung agar timbul rasa puas dan keinginan kembali berwisata kepada kawasan yang dikelolanya.
Kini hari-harinya semakin bermakna dan bermanfaat untuk dirinya sendiri dan juga keluarga. Tidak ada kejenuhan dalam dirinya walaupun dia seorang wanita yang kodratnya sebagai ibu dan istri dalam lingkungan rumah tangga.


Berbisnis untuk Bermanfaat

Keseriusan dalam bidang mengelola bisnis bagi dirinya salah satunya tergerak untuk lebih bermanfaat bagi orang lain. Hal ini dia buktikan dengan membuka lapangan pekerjaan untuk masyarakat di sekitar tempat usahanya.
Semakin bertambahnya wahana baru dan item-item yang ada di tempat usahanya seperti di taman Wisata Pulau Situ Gintung itu berarti kian bertambah semangatnya untuk mengkaryakan masyarakat sekitar sesuai dengan posisi yang dibutuhkan. “Mereka (masyarakat sekitar) dapat melamar pekerjaan sesuai dengan kemampuannya. Contohnya apabila tidak mempunyai keahlian apapun mereka dapat mengelola lahan parkir kendaraan untuk para pengunjung,” bebernya.
Ia bahkan terobsesi untuk semakin mengembangkan dan mempopulerkan bisnis pariwisata yang ditekuninya dan juga semakin dapat mengkaryakan para warga sekitar. “Bisnis pariwisata kita maju, semakin banyak juga kita menerima banyak pegawai lagi,” tukas seorang ibu beranak satu ini.
Dalam menjalankan pekerjaan, Asti juga tidak menganggap atasan dan bawahan.
Selain itu, ia juga bertekad menjadi pengayom bagi semua orang dan termasuk untuk kedua adiknya. Mengayomi dan menjadi figur teladan dalam bekerja keras adalah salah satu tekadnya. Karena dengan bekerja keras atau berjerih payah, setiap usaha akan menghasilkan hal manfaat lebih besar.
Sikap ini sudah diterapkan kepada kedua adiknya dan para pegawai.
Keteladan bekerja keras juga ditunjukkan dengan sikap, prilaku dan ketaatan terhadap Tuhan YME. Pelajaran yang sangat berharga dalam kehidupan walaupun posisi telah berada di atas, katanya, justru harus mengingat saat melalui perjalanan hidup di bawah. “Semakin tua semakin merunduk,” jelasnya.

Rabu, 08 Oktober 2008

Bunga Bangkai Tumbuh di Cimarga


Warga Kampung Cilaki, Desa Margayaja, Kecamatan Cimarga, Kabupaten Lebak digegerkan oleh penemuan sebuah tumbuhan “aneh” yang tumbuh di area pemakaman desa setempat, Rabu (1/10) pekan lalu.
Ditengarai tumbuhan itu sejenis bunga bangkai, karena mengeluarkan bau tidak sedap dan ukurannya seperti pohon Suweg Raksasa (Amorphophallus titanum Becc).
Sejak ditemukan, ribuan warga dari berbagai daerah terus berdatangan untuk menyaksikan secara langsung bunga langka tersebut. Bahkan oleh ahli waris keluarga pekuburan yang ditumbuhi bunga itu, telah melakukan pemagaran agar terjaga, bunga tidak rusak dan tetap bisa dikunjungi masyarakat. Sementara di sekitarnya banyak berdiri warung dadakan dan disediakan tempat parkir kendaraan bagi para pengunjung.
Menurut warga yang mengaku pertama kali menemukan bunga bangkai ini, Uung, sekitar pukul 07.30 WIB, Rabu (1/10) dirinya ziarah ke area pemakaman. Saat itu, ia melihat tumbuhan seperti bunga pada umumnya yaitu memiliki tingggi sekitar 5 centimeter, tetapi bentuknya cukup unik dan mengeluarkan bau tidak sedap. Keesokan harinya warna dan ukuran, dan tinggi bunga itu semakin berubah dan terlihat membesar serta mekar.
“Saya nggak bisa mastiin kalau bunga itu bunga bangkai. yang jelas mirip dengan bunga bangkai di sejumlah tempat,” kata Uung.

Senin, 06 Oktober 2008

Situ Gintung, Wisata Murah Meriah


Suasana lebaran masih terasa. Tempat wisata pun masih ramai dikunjungi warga. Salah satunya adalah taman wisata air dan zona petualangan Pulau Situ Gintung, Kelurahan Pisangan Barat, Kecamatan Ciputat Timur, Kabupaten Tangerang, Minggu (5/10) kemarin, rampai dipadati pengunjung. Sekitar 3000 pengunjung tumpah ruah disana.
“Pengunjung kami mencapai 3000 orang pada hari ini (kemarin). Sebelumnya kami menduga puncak liburan adalah H+2, ternyata ledakan pengunjung terjadi pada hari ini,” terang Manager Taman Wisata Pulau Situ Gintung, Asih Anugrawati kepada Tangerang Tribun.
Asih menjelaskan, para pengunjung tak hanya warga Kabupaten Tangerang, tapi banyak juga yang berasal dari luar Tangerang. “Ada yang berasal dari Bekasi, Depok, Bogor, Jakarta, Bandung bahkan Karawang. Tujuan mereka selain untuk liburan juga melakukan halal bihalal bersama keluarga,”jelasnya.
Wahana yang paling disukai oleh pengunjung adalah outbond dan kolam renang. Dua wahana ini menjadi unggulan Taman Wisata Pulau Situ Gintung. Dari sekitar 3000 pengunjung, 80 persen diantaranya memilih wahana water boom dan flying fox.
Pengunjung tak perlu khawatir mengenai keselamatan. Pihak pengelola sudah menyiapkan pengamanan bagi pengunjung.Pihak Pengelola Taman Wisata Situ Gintung yang luasnya mencapai 2,5 hektar tersebut menerjunkan 150 orang pemandu. “Setiap 15 orang pengunjung akan dibantu 1 orang pemandu agar para pengunjung dapat menikmati liburan dengan nyaman dan aman,” paparnya.
Salah satu pengunjung yang berasal dari Cipete Utara, Jakarta Selatan Ida Farida mengatakan, Taman Wisata Situ Gintung menjadi pilihan keluarga dikarenakan jaraknya dekat, lengkap dan murah. “Kami disini bisa memilih semua permainan tanpa harus membayar lagi, cukup membeli tiket sekali kita semua dapat menikmati semua wahana yang ada di taman wisata ini,” bebernya.

Wisatawan Banjiri Situ Bulakan


Sejumlah anak tampak riang mengayuh sepeda air. Gelak canda sembari mengelilingi Situ Bulakan tidak melelahkan bagi mereka dan yang ada hanya keceriaan. Di “danau tengah kota” itu, segurat wajah mereka seolah menunjukkan tak ingin permainan bersepeda air yang sedang asyik itu segera berakhir.
Sedikit kegembiraan ini juga dialami sebagian pengunjung atau wisatawan Situ Bulakan yang jumlahnya bertambah banyak seiring masa libur lebaran HR Idul Fitri 1429 H kemarin.
Beberapa tempat rekreasi ramai dipadati pengunjung. Tak ketinggalan Situ Bulakan yang terletak di Kelurahan Priuk, Kecataman Priuk, Kota Tangerang, inipun disesaki pengunjung untuk menghabiskan waktu bersama keluarga.
Mulai mengayuh bebek air, menaiki perahu roket hingga menikmati suasana angin semilir menjadi pengobat penghilang penat bagi para pengunjung.
Minggu (5/10), aktivitas di sekitar Situ kian ramai, karena merupakan alternatif obyek wisata yang memiliki daya pikat tersendiri. Dengan kedalaman Situ yang kurang lebih 1,5M dan luas 300.000 M, pemandangan danau yang indah dengan air yang tenang membuat para pengunjungnya dapat menikmati liburan.
Para pengunjung yang datang ke Situ ini tidak harus merogoh kocek terlalu dalam. Hanya dengan membeli tiket Rp.10.000,- pengunjung dapat menikmati 30 menit mengelilingi Situ Bulakan dengan mengayuh bebek air, untuk 2 orang dewasa dan 2 anak-anak. Apabila pengunjung tidak mau menguras energi dengan mengayuh, maka dapat menggunakan fasilitas perahu roket dengan biaya Rp 3000 perorang maka, pengunjung akan diajak mengelilingi dan menikmati pemandangan Situ.
Pengelola Situ Bulakan mempersiapkan 20 bebek air dan 1 perahu roket untuk dipergunakan para pengunjung, wahana wisata air yang dibuka dari jam 8.00 pagi hingga 18.00 ini, kini dipadati oleh pengunjung, lonjakan pengunjung dirasakan pengelola sejak 5 hari satelah lebaran “Kami kurang lebih menjual 300 tiket untuk bebek air dan pengunjung setiap harinya sekitar 1000 orang,” ujar Ima Suryani, Penjaga Situ Bulakan.
Padatnya pengunjung ternyata tidak menyurutkan keinginan pengunjung untuk mencoba wahana yang ada, mereka rela mengantri giliran. “Walaupun tadi sempat antre sampai setengah jam untuk naik bebek, tapi kami senang sekali, besokkan sudah mulai kerja kami pilih situ ini karena jalan-jalan kesini lumayan murah dan kebetukan tidak jauh dari rumah,” terang Salimah, pengunjung dari Perumahan Pondok Sukatani.
Sementara itu Situ Bulakan yang dijadikan wisata air juga dijadikan tempat memancing bagi sebagian orang, dengan beralaskan alang-alang dan beratapkan langit, para penikmat pancing menghabiskan waktu berjam-jam untuk mendapatkan tangkapan yang diharapkan. Suasana situ yang sejuk, damai dan tenang menambah suasana hati menjadi lebih Rileks.(adn/rz)

Kamis, 18 September 2008

Gunung Krakatau Tetap Mempesona


Bersama Ujung Kulon, Sunset di Selat Sunda, Pulau Sanghyang, Pulau Sebesi, Suku Baduy dan Situs Arkeologi Banten Lama, Gunung Krakatau dijuluki sebagai Seven Wonders of Banten. Ya, Krakatau menjadi sesuatu yang menarik namun mengerikan. Krakatau menarik dengan keindahan yang ditampakannya saat ini, namun sangat mengerikan jika kita mendengar atau membaca cerita kedahsyatannya saat mengamuk dan melantakkan daratan Banten dan Lampung.

Pada musim kemarau, antara Mei hingga September, gelombang dan arus laut tidak begitu liar. Cuaca juga bersih benderang. Perjalanan dengan kapal di Selat Sunda menjadi nyaman. Dari kejauhan, keanggunan gunung yang pernah menggemparkan dunia karena letusannya pada 27 Agustus 1883 itu juga sudah kelihatan.
Apalagi bila perjalanan dilakukan sesaat sebelum matahari tenggelam. Aneka warna sinar yang tercurah membuat suasana benar-benar berubah. Sangat menyentuh perasaan. Selain berpanorama indah, di sekitar Krakatau juga dimungkinkan untuk melakukan berbagai kegiatan rekreasi. Selam, renang, snorkling bisa dilakukan sambil menikmati matahari terbenam.
Secara administratif, pulau bergunung api di Selat Sunda ini sebenarnya masuk dalam wilayah Provinsi Lampung. Gunung ini telah dikenal dengan baik dan tercatat dalam sejarah sejak abad 16. Saat itu Selat Sunda telah menjadi jalur lalulintas bisnis yang ramai dari Eropa menuju Hindia Barat (Indonesia). Kini Selat Sunda juga memegang peranan penting sebagai jalur lalu lintas bisnis dan lapangan penelitian ilmu geologi dan kelautan.
Krakatau, dulu diperkirakan memiliki ketinggian 2.000 meter dengan radius 9 km2. Ledakan dahsyat pernah terjadi pada tahun 416, sebagaimana tercatat dalam buku jawa kuno Pustaka Raja, dan menyisakan 3 buah pulau yakni pulau Rakata, Sertung dan Panjang.
Dalam perkembangannya Rakata memunculkan puncak-puncak Danan dan Perbuatan. Ledakan yang lebih dahsyat pada tangal 27 Agustus 1883 telah menghancurkan 3/4 bagian tubuhnya dan menyebabkan gelombang besar dengan ketinggian 40 meter.
Konon sebuah bagian kapal di Pelabuhan Teluk Betung sampai terlempar sejauh 2,5 km akibat letusan itu. Hujan abu dan batunya mencapai areal seluas 483 km2 dalam radius 150 km2. Pada waktu itu Jakarta dan daerah sekitar Selat Sunda, seperti Anyer, Merak, Labuan, Kalianda, Teluk Betung dan Kota Agung menjadi gelap gulita. Suara ledakannya terdengar dari Pilipina hingga Madagaskar. Kekuatan ledakannya diperkirakan mencapai 21.547,6 kali ledakan bom atom.
Lalu setelah beristirahat selama 44 tahun, Anak Krakatau muncul pada Bulan Desember 1927 dan terus berkembang hingga kini. Saat ini, Anda bisa menapakkan kaki di anak gunung itu untuk melakukan penelitian ilmiah atau pun sekedar rekreasi.
Perjalanan rekreasi bisa Anda mulai dengan mendirikan tenda di kaki gunung Anak Krakatau atau biasa pula disebut pulau Rakata. Dari situ Anda bila memili kegiatan di laut seperti berenang, menyelam atau snorkeling. Sementara untuk kegiatan darat, Anda bisa melakukan tracking mengelilingi pulau Rakata.
Untuk kegiatan tracking ini sebaiknya dilakukan jangan sampai melewati matahari terbenam. Ini semata untuk menghindari air pasang sehingga Anda tidak terjebak di suatu tempat dan tidak bisa kembali ke tempat Anda mendirikan tenda. Karena sangat berbahaya, bila Anda memilih acara pendakian menuju puncak Krakatau, Anda perlu ijin khusus dari Dirjen Perlindungan dan Pelestarian Alam (PPA), Departemen Kehutanan, supaya bisa mendapatkan pendamping dan penunjuk jalan yang bisa diandalkan.
Sekarang, Anak Krakatau telah mencapai ketinggian 200 meter di atas permukaan laut dengan diameter 2 km. Untuk mengunjunginya Anda bisa berangkat dari Pelabuhan Tanjung Priuk dengan naik Jet-Foil atau Kapal Phinisi Nusantara. Jalur kedua adalah dari Pelabuhan Labuan, Banten. Dari sini Anda dapat menyewa kapal motor atau kapal nelayan yang berkapasitas antara 5 sampai 20 orang.
Jalur ketiga bisa ditempuh melalui Pelabuhan Canti, Kalianda-Lampung. Di pelabuhan ini Anda juga dapat menyewa kapal motor atau kapal nelayan yang akan menempuh Krakatau melalui P. Sebuku dan P. Sebesi. Pada bulan Juli saat Pemda Provinsi Lampung menggelar Festival Krakatau, Anda bahkan bisa ikut menyeberang ke pulau itu. Sedang dari kawasan Anyer dan Carita, sejumlah hotel juga punya paket mengunjungi Krakatau. Silakan pilih cara sesuai kemampuan.(lim/berbagai sumber)

Senin, 15 September 2008

Pementasan Teater Perempuan Gerabah


"Teror Menakutkan dari Sang Tanah Liat… "

Suasana lengang yang sudah berlangsung selama kira-kira 15 menit, tiba-tiba pecah menjadi histeris, atau persisnya setengah menjerit, yang keluar dari ratusan mulut yang tengah menyaksikan pementasan teater dengan lakon Perempuan Gerabah.
Dari atas panggung, empat aktor yang hanya mengenakan kain putih untuk menutupi sebatas pinggang hingga paha dan seorang aktris, berpakaian bak pendekar dalam film silat, terus bergerak nyaris tanpa henti. Mereka meliuk, meloncat, berlari, berputar, merangkak, merunduk, menjengking, dalam ritme yang teratur satu sama lain, hingga sampai pada tahap seperti ekstase atau mungkin juga lelah.
Para aktor yang kelelahan itu terjuntai di bibir panggung. Tubuh telanjang para aktor yang sudah dipenuhi peluh itu kemudian satu-persatu dibaluri menggunakan tanah liat encer nyaris seperti lumpur tadi oleh sang aktris. Gerakan seniwati nampak artistik bahkan mungkin nyaris erotis.
Bagaimana tidak, tubuh telanjang para aktor itu disusuri oleh telapak tangan lembut sang aktris yang memegang lumpur, sejak kepala, turun ke leher, dada, punggung hingga pinggang, untuk kemudian meloncat menyusuri bagian kaki.
Pertunjukan sepanjang satu setengah jam dalam temaram sinar lampu itu diakhiri dengan naiknya seorang perempuan tua ke atas panggung yang dalam hitungan menit berhasil membuat gerabah dari tanah liat, setinggi 15 Cm.
Kedua tangan tuanya yang tampak sibuk mengarahkan gerak naik lumpur, kaki sebelah kirinya juga tak kalah sibuknya memancal alat tradisional pembuat gerabah agar terus berputar tanpa berhenti. Bila pemancal itu berhenti, berarti harus menanggung resiko.
Perempuan tua itu berdiri dan mengusung gerabah hasil karyanya yang masih basah. Dia Nampak bangga dengan gerabah hasil karyanya. Dia memutar-mutar gerabah itu mengelilingi panggung. Tepuk tangan penontonpun membahana.
Beberapa penonton bahkan bangkit dari duduknya dan pindah mencari tempat duduk lain yang lebih aman. Beberapa lagi tampak berusaha melindungi wajah atau badan mereka dari cipratan lumpur yang tengah dilempar-bantingkan para seniman di atas panggung.
Teror tanah liat liat tidak berhenti sampai di situ. Pada bagian berikutnya, para seniman teater bermanuver dengan mengusung masing-masing satu buah gerabah di tangan. Gerabah atau benda yang biasa digunakan sebagai peralatan dapur dari tanah liat itu diputar-putar, dilempar untuk kemudian ditabrakan satu sama lain dan braaak! Pecah berantakan.
Jeritan penonton semakin menjadi. Pecahan-pecahan gerabah yang berserakan di lantai panggung itu lalu diraup oleh para aktor untuk kemudian dihambur-hamburkan. Tak pelak meski tidak banyak, ada juga pecahan-pecahan gerbah itu yang berhasil menerjang penonton.
Konstruksi panggung kayu berbentuk bundar setinggi setengah meter itu memang hanya berjarak tidak lebih dari satu meter dari tempat duduk penonton terdepan yang sengaja dibuat melingkari panggung.
Bagi penonton yang berada dibelakang tempat duduk terdepan diposisikan lebih tinggi, dan begitu seterusnya sehingga berundak-undak layaknya menonton di istana olahraga (Istora). Tapi tentu saja, ukurannya jauh lebih kecil. Kapasitasnya pun paling banter cuma akan bisa menampung kurang dari seratus penonton.
Layaknya pementasan teater genre visual yang tidak menghadirkan dialog verbal dalam kisahnya, pementasan Perempuan Gerabah karya Sutradara Nandang Aradea di Cafe Oregano, Serang, malam itu juga nyaris tanpa kata. Yang ada hanya gerakan tubuh empat aktor bertelanjang dada dan seorang aktris berbusana ala pendekar silat yang berpendar ditimpa redup sinar lampu panggung.
Bunyi-bunyian hanya yang berasal dari derap kaki aktor dan aktris saat menjejak papan lantai panggung atau dari ditabrakannya gerabah-gerabah hingga pecah berantakan. Bagi penonton awam, teater bukan pertunjukan menarik, diantaranya pulang dengan menyisakan kebingungan.
Namun bagi yang gandrung teater, pertunjukan gerak tubuh itu pun berakhir menyisakan pesan. Nandang menyebut, masyarakat Desa Bumijaya, Kecamatan Ciruas yang umumnya bermatapencaharian pengrajin gerabah selama puluhan tahun, hingga hari ini tetap miskin dan terbelakang.
"Saya yakin penonton teater kita sudah pada cerdas. Mereka memang tidak perlu memiliki pemahaman tentang apa yang ditontonnya. Biarkan menyimpukan sendiri. Saya ingin penonton pulang membawa ingatan tentang bagaimana mereka begitu terteror sepanjang pertunjukan," kata Nandang.(Banten Tribun)

Jumat, 12 September 2008

Komunitas Sepeda Jalur Pipa Gas


Mungkin ini salah satu jalur cukup menantang dan tepat bagi penggemar sepeda gunung. Bergabunglah di Jalur Pipa Gas (JPG), Serpong, Kabupaten Tangerang. Sebuah komunitas para penggila sepeda gunung yang banyak digemari orang.
Asal-usul nama Jalur Pipa Gas atau disingkat menjadi JPG itu bermula dari trek yang dilalui para penggila sepeda ini dalam mengayuh sepedanya memang berada di jalur pipa gas antara Merak hingga Balongan Cirebon. Khusus untuk JPG di Serpong yang terletak di wilayah Lengkong Gudang Timur jalur pipa gasnya hanya sepanjang 500 m saja.
Komunitas JPG itu sendiri awalnya terdiri dari beberapa komunitas sepeda lainnya, seperti Explorer, Kencana Bike, Bintaro, Guest Trust dan sebagainya. Sedangkan yang bertahan hingga kini hanya sekitar tiga komunitas saja, Explorer, MTB Rockers dan PJMI. Hanya saja yang menjadi founder dari Komunitas Sepeda Gunung JPG ini adalah komunitas seperti Explorer, Bintaro dan Kencana Bike.
Hingga kini jumlah anggota dari Komunitas Sepeda Gunung JPG mencapai lebih dari 500 personil, mulai dari usia 8 hingga 83 tahun. Serta terdiri dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar, pengusaha, dokter, pengacara hingga birokrat.
Setiap Sabtu dan Minggu, para anggota JPG ini sering berkumpul dan menjalankan hobinya mulai pukul 07.00 hingga 12.00 WIB. Selain itu hari-hari biasanya juga banyak yang menikmati trek sepeda gunung yang terdapat di Lengkong Gudang Timur itu.
Di lokasi tersebut memang cukup mengasikan. Terdiri dari 34 persen climbing/tanjakan, 32 persen desending/turunan, 34 persen flat/medan datar serta dua jalur 94 persen single track/jalur sempit dan 6 persen wide track/jalur lebar.
“Awalnya saya hanya berpetualang seperti biasanya saja, lalu berdasarkan feeling untuk bisa membuat track di sini karena banyak handicapnya, ya jadinya seperti hingga sekarang ini,” kata Indarwanto, salah satu sesepuh yang juga pencetus Komunitas Sepeda Gunung JPG.
Merintis JPG di wilayah ini Indarmanto tidak sendiri, dirinya bersama dengan delapan hingga sepuluh rekannya tertarik menjadikan jalur tersebut sebagai JPG. Dimana kawasannya terletak diantara Sektor 9 Bintaro hingga Sektor 14 BSD.
Track bersepeda gunung yang pernah dijadikan sebagai medan untuk kejuaraan JPG MTB Series yang bertaraf tingkat nasional ini, memiliki tiga variasi jalur, jalur wisata, jalur JPG I dan jalur JPG II.
Jalur wisata adalah jalur yang kebanyakan dilalui oleh serombongan keluarga lantaran medan yang dilalui tidak terlalu ekstrem sebagai jalur santai. Sedangkan untuk jalur JPG I dan II adalah sebutan untuk trek bersepeda gunung yang sebenarnya. Hanya saja perbedaannya ada pada panjang jalur di kedua trek tersebut, jalur JPG I memilki panjang 5 Km dan jalur JPG II memiliki panjang 6,5 KM. Namun untuk jalur JPG II sudah jarang dilalui, karena sulitnya melakukan perawatan track yang dinilai cukup memakan pendanaan.
Jalur Sepeda Gunung JPG ini sebenarnya memiliki kans besar sebagai salah satu objek wisata yang menarik di Kabupaten Tangerang. Hanya saja beberapa pihak salah satunya pihak Pemerintah Daerah Kabupaten Tangerang belum terketuk niatnya untuk bisa melintasi jalur yang mengasikan ini jika dilalui pada pagi hari. Meskipun di dalamnya ada beberapa birokrat yang ambil bagian dalam keanggotaan tersebut.
Namun berdasarkan asal usul terkenalnya JPG ini hingga keluar wilayah Banten, yang berawal dari pembicaraan secara estafet dari ‘mulut ke mulut’, beberapa birokrat yang ada ingin mengajak sejawatnya untuk bisa menikmati jalur sepeda gunung yang berada di wilayah sektoral yang meliputi Lengkong Gudang Timur dan Parigi ini.
“Kalau saya pertama kalinya diajak oleh teman-teman saat masih sebagai Camat Pondok Aren, karena masyarakat di sana banyak juga yang gemar bersepeda, apalagi karena saya juga senang berolahraga. Melihat bagusnya kawasan ini, saya ingin bisa mengajak teman-teman birokrat yang lain untuk bisa bersepeda gunung di sini, terutama Camat Serpong, sebagai yang punya wilayah,” papar Yusuf Herawan, Camat Cisauk.
Kabarnya salah satu sponsor yakni, perusahaan produk sepeda gunung asal Taiwan, Giant tertarik mendirikan counter di dekat wilayah trek JPG, karena banyaknya komunitas bersepeda gunung yang menggunakan trek terbesar dan menarik di wilayah Jakarta-Tangerang ini.
Jalur bersepeda gunung JPG ini juga sempat menjadi medan untuk demo test drive bagi perusahaan sepeda, saat ingin meluncurkan produk sepeda keluaran terbarunya. Bahkan saking terkenalnya bukan saja masyarakat lokal yang ikutserta bermain di sini, warga negara asing yang bekerja di Jakarta ataupun di luarnya ternyata juga pernah merasakan kawasan yang memiliki beberapa treck yang memiliki nama unik, semisal jet coaster, tanjakan ngehe, turunan kuburan, tanjakan sumur, turunan kambing, turunan leter S dan sebagainya.
Adapun kegiatan yang dilakukan oleh komunitas ini bukan saja bersepeda atau sekedar melakukan turing. Kegiatan seperti kerja bakti ataupun bakti sosial di kawasan tersebut juga pernah dilakukannya. Hanya saja segala kegiatan tersebut tetap dilakukan secara spontanitas.
“Ya biasanya komunitas di sini hanya turing saja, seperti pergi ke Gunung Halimun, Gunung Mas dan tempat-tempat lainnya. Tapi itu semua juga tergantung momen atau moodnya,” tambah Yochi Hartono, pentolan yang juga sebagai Guide and Track Maintenance Komunitas Sepeda Gunung JPG.(Tangerang Tribun)

Menengok Kandank(g) Doank(g)


Di sore saat jalan-jalan, tanpa sengaja melihat bangunan aneh nun hijau yang oleh beberapa orang tetangga dikatakan sebagai sebuah “kandang” miliki Dik Doank (presenter dan pekerja seni).
Tepatnya di kawasan Ciputat, Kompleks Pondok Sawah Indah Kabupaten Tangerang, diatas lahan seluas 2.000 meter persegi itu, Dik Doank tinggal. Dengan penasaran, ingin sekali masuk dan melihat detil bangunan rumah sang selebritis yang sedang concern di bidang pendidikan anak ini.
“Kok kandang?”, pertanyaan awal yang terbesit. Namun setelah masuk didalamnya tak terlihat gajah, harimau, kerbau atau binatang peliharaan lain layaknya kandang.
Saat ditanyakan kepada si empunya rumah, Dik Doank hanya tersenyum sembari mengatakan “kandang” lebih pada falsafah hidup yang membiarkan kebebasan hewan (makhluk bernyawa) keluar-masuk di “hutan” miliknya ini.
Lebih dari itu, Dik Doank membebaskan anak-anak di lingkungan rumahnya, bahkan anak-anak dari tempat lain, untuk bermain dan berkegiatan di rumahnya.
Berbagai fasilitas ia sediakan untuk anak-anak, mulai dari lapangan sepak bola mini, lapangan basket, lapangan badminton, perpustakaan, areal outbond, panggung terbuka, panggung pertunjukan, dan taman bermain. Sejak pagi, terutama sore hari, anak-anak berbagai usia selalu mengisi halaman rumah.
Di “kandang”-nya itu, Dik Doank juga membangun rumah-rumah kayu, sebagian berbentuk rumah panggung, untuk bermacam fungsi. Ada studio musik, warung makan, tempat leyeh-leyeh (beristirahat), juga ruang kerja pribadi yang hanya bisa dimasuki oleh Dik Doank yang diberi nama Rumah Induk Semang.
Rumah Induk Semang ini letaknya di atas. Untuk naik hanya ada tangga kayu sempit tanpa pegangan. Rumah ini ukurannya hanya sekitar 2 x 3 meter. Dari atas, pemandangannya luar biasa: sawah terbentang luas dengan semilir angin menyejukkan. Kadang kala, jika sedang beruntung dan langit tidak mendung, kata Dik Doank, ia bisa menikmati matahari terbenam dari ruang kerjanya itu.
Di sudut halaman lain, ada lima bangunan rumah yang belum selesai dibangun. Bangunan itu adalah rumah pintar yang nantinya akan digunakan untuk ruang pamer, kantor, perpustakaan dewasa dan anak-anak, serta ruang multimedia.
Di Kandank Jurank Doank, Dik Doank mendidik sekitar 2.500 anak untuk belajar mencari ilmu. Anak-anak diajak bermain dan didorong untuk mencipta. Pelajaran utamanya adalah menggambar. “Bahagia adalah bisa berbagi apa yang kita miliki dengan orang lain,” jawab Dik Doank ketika berniat membangun dan memfungsikan rumah ini.
Orang-orang yang datang ke rumah Dik Doank sering kali salah. Ketika turun dari kendaraan, biasanya mereka menuju ke sebuah rumah cukup besar dan mewah. “Itu bukan rumah saya, ini rumah saya,” tutur Dik Doank sambil menunjuk sebuah rumah sederhana, yang luasnya sekitar 120 meter persegi, di sebelah rumah besar itu.
Bangunan rumah yang menjadi tempat berteduh Dik Doank benar-benar teduh. Tanaman merambat dibiarkan naik sampai ke atas atap. Sebagian batang tanaman dibiarkan menjulur dari atap terasnya. Tidak takut ada ular? “Ular teman Tarzan,” tutur pria yang bernama lengkap RM Rizki Mulyawan Kertanegara Hayang Denda Kusuma ini.
Rumah sederhana itu seperti museum bagi Dik Doank. Segala benda yang menandai perjalanan hidupnya ia pajang di dalam rumah. Bahkan, sebuah kloset pun mendapat tempat di ruang tamu. Kloset yang terbuat dari kayu itu merupakan imitasi dari kloset aslinya yang tentu saja ada di kamar mandi.
“Aku menciptakan karya-karya musik di kloset ini,” kata lulusan Fakultas Seni Rupa Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Ketika pertama kali kloset itu dipajang di ruang tamu, salah satu anak Dik Doang mengencingi kloset itu karena dianggap kloset betulan.
Masih di ruang tamu itu, kalau kita mendongak ke atas ada meja bilyar yang tertancap di langit-langit. Meja bilyar itu bukan tanpa arti. Menurut Dik Doank, bilyar adalah salah satu permainan yang dekat dengan judi. Dengan menggantungnya di langit-langit, Dik Doank berharap segala bentuk kemaksiatan menjauhi dirinya.
Dengan segala materi yang dimiliki, Dik Doank mencoba hidup bersahaja. Ia bahkan tidak lagi memiliki mobil pribadi. Sebuah mobil kecil berwarna kuning yang terparkir di garasi adalah milik istrinya.
“Saya tidak punya mobil lagi. Kalau ada acara, saya selalu minta dijemput oleh penyelenggara,” ujar Dik Doank. Dari “kandang” itulah, Dik Doank membebaskan dirinya dan juga membebaskan anak-anak didik yang dicintainya untuk berekspresi.(aen/rz)

Minggu, 07 September 2008

Ziarah Masjid Seribu Pintu


Masjid Nurul Yakin atau lebih dikenal dengan sebutan masjid Sewu (seribu) memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan masjid lain di Banten. Selain memiliki seribu pintu, tasbih berukuran raksasa terpajang di salah satu sudut ruangan. Tak ada keterangan tertulis, apa makna dibalik aristektur bangunan itu.

Terletak di RT 01/03, Kampung Bayur, Priuk, Kota Tangerang. Pendiri masjid adalah seorang penyebar Islam kelahiran Arab bernama Alfakir Syekh Mahdi Hasan Alqudrotillah Almuqoddam. Salah satu keunikan masjid ini adalah ruangannya yang disekat-sekat hingga membentuk ruangan seperti mushola. Setiap ruangan (mushola) diberi nama. Ada mushola Fathulqorib, Tanbihul-Alqofilin, Durojatun Annasikin, Safinatu-Jannah, Fatimah hingga mushola Ratu Ayu. Masing-masing luas area mushola sekitar 4 meter.
Selain mushola, keunikan lain adalah tasbih berukuran raksasa terpajang di dalam ruangan. Memiliki 99 butir berdiameter 10 centimeter. Setiap butir bertuliskan nama Asma’ul-Husna. Konon, tasbih itu merupakan terbesar di Indonesia. Awalnya, masjid ini kurang begitu populer karena digerus zaman. Akan tetapi, setelah mulai dipublikasikan media, masjid itu kemudian banyak dikunjungi masyarakat dari berbagai penjuru, bukan saja nasional tapi masyarakat internasional.
Supandi S, seorang pengurus masjid bagian publikasi menuturkan, hingga sekarang belum diketahui makna yang terkandung di balik arsitektur masjid yang memiliki seribu pintu itu. Tak ada keterangan tertulis dari pendiri masjid.
Kini, mushola di dalam masjid digunakan untuk aktifitas pesantren, seperti Tawasul, Dzikir hingga pengajian rutin.
Masjid seribu pintu diyakini sebagai salah satu tempat penyebaran Islam oleh pendirinya. Konon, penyebaran dilakukan dengan cara pembagian sembako untuk fakir miskin dan anak yatim piatu, “Sejarah di dalam masjid ini karena mempunyai pintu sebanyak seribu, selain itu cara penyebaran Islamnya dari beberapa generasi dengan cara pembagian sembako rutin setiap Jum’at,” ujar Supandi.
Menurutnya, masjid seribu ini menjadi salah satu tempat paling menarik bagi wisatawan. Tak hanya local tapi wisatawan asing. Seperti wisatawan dari negeri jiran (Malaysia), Brunai Darusalam, Tokyo hingga Singapura. Umumnya, mereka ingin mengetahui tasbih yang berukuran besar yang tertulis ayat-ayat Al Qur’an. “Mereka sangat kagum dengan tasbih itu,” katanya. Hanya saja, belum diketahui siapa pembuat dan sejak kapan tasbih itu dibuat. “Semuanya masih misteri,” pungkasnya.

Sabtu, 06 September 2008

Icip-Icip Ala Pasar Lama


Pasar Lama Kota Tangerang tidak hanya terkenal sebagai kawasan pecinan dengan kelenteng tuanya. Saat Ramadhan, kawasan ini menjadi Pasar Sore yang paling padat dikunjungi karena menawarkan rupa-rupa penganan khas. Sederet predikat seram yang disandang Tangerang akan kehilangan jejaknya di sini.

Bila Anda ingin berwisata kuliner saat bulan Ramadhan ini, Anda tak perlu jauh-jauh datang ke berbagai tempat taman jajan modern yang bertebaran di setiap arena mal. Anda cukup datang ke Pasar Lama Tangerang. Di sini, lidah Anda akan dibuat berdecak melihat sajian rupa-rupa penganan yang ditawarkan pedagang kaki lima.
Bermula dari tepi Jalan Kisamaun yang bisa diakses dari berbagai arah. Pasar Lama merupakan situs paling bersejarah karena di sinilah cikal bakal terbentuknya Tangerang. Bangunan berusia ratusan tahun berupa kelenteng besar Boen Tek Bio adalah salah satu bukti sejarah yang cukup fenomenal.
Konon, di wilayah ini pula masyarakat Tionghoa atau dikenal dengan Cina Benteng pertama kali datang lalu membangun tempat tinggal dan kemudian membentuk perkampungan. Seiring perkembangan zaman, kawasan ini lambat laun berubah menjadi kawasan niaga dengan tetap mempertahankan kultur budaya.
Pasar Lama melingkupi dua jalan (Jalan Kisamaun dan Kiasnawi). Keramaian setelah waktu siang hari, sebenarnya tak hanya terjadi pada saat Ramadhan. Ini juga terjadi pada bulan lain. Keberadaan pedagang kaki lima yang terkonsentrasi di ujung jalan dengan menawarkan beragam makanan khas menjadi daya tarik tersendiri. Hanya saja, saat Ramadhan, pengunjung akan berkalilipat memburu makanan.
Menyusuri Tangerang tidak klop bila tidak singgah di Pasar Lama. Bila Anda melaju di Tol Tangerang-Jakarta, Anda tinggal keluar Tol Kebon Nanas bila berniat ngabuburit ke Pasar Lama. Setelah melewati Jalan MH Thamrin dan sampai di Cikokol, Anda tinggal lurus terus melalui Jalan Perintis Kemerdekaan. Di sini, Anda akan melihat sejumput taman hijau nan rimbun berlatar gedung perkantoran. Kemudian dilanjutkan menyusuri tepian sungai Cisadane disisi kiri dengan taman bermain yang hijau dan asri.
Setelah melalui gedung PDAM Tirta Kertaraharja, Anda dihadapkan pada dua pilihan sulit. Karena ada dua akses jalan yang menanti kunjungan Anda. Yang satu Jalan Kisamaun menuju ke arah Pasar Lama dan satunya lagi jalan Kali Pasir. Dua-duanya sama pentingnya. Menyusuri Jalan Kali Pasir, Anda akan disuguhi pemandangan taman kota di sepanjang pinggir sungai Cisadane. Dahulu, kawasan ini adalah kawasan kumuh. Namun perlahan tapi pasti berubah menjadi kawasan hijau dan sejuk. Pasar Lama seolah menjadi simbol keseragaman budaya. Kota terkotor versi Adipura, kota tertinggi angka kriminalitasnya, kota penjara dan sebutan seram lain untuk Tangerang, akan kehilangan jejaknya ketika Anda mencicipi penganan di kawasan ini.

Minggu, 24 Agustus 2008

Pesta Kembang Api Merah Putih


Langit kawasan Summarecon di Pondok Hijau Lapangan Golf Serpong, Kabupaten Tangerang, Sabtu (23/8) malam bergemerlap terang. Selama 15 menit, sekitar 15.000 kembang api dilontarkan bak menyusul bintang-bintang.
Ribuan masyarakat yang sejak sore hari memadati area tersebut, termasuk di seantero nusantara (disiarkan secara langsung oleh salah satu televisi) menyambut gembira seiring dentuman-dentuman kembang api terdengar keras.
Peluncuran kembang api dimulai suara gemuruh helikopter, selanjutnya suara nada-nada musik kian bersautan.
”Kembang api ini dimainkan berdasarkan nada lagu. Dengan jarak luncur sampai 300 meter dan 15 ribu tembakan, maka lebih leluasa untuk memadukan irama lagu dengan bentuk-bentuk kembang api,” ungkap Direktur NoLimits Donny Rochyadi, perwakilan event organizer yang menangani pesta kembang api tersebut.
Suasana meriah dalam pesta bertajuk “Musical Fire Work Gebyar Merah Putih” ini tak akan mudah dilupakan, maklum saja lantaran pesta kembang api itu digarap oleh sebuah perusahaan terkenal dari Singapura bernama Explomo yang telah memiliki pengalaman menangani berbagai acara besar seperti SEA Games tahun 1993, American Independence Day Celebration and New Year tahun 2007, serta Doha International Fireworks Festival tahun 2003.
Lebih dari itu, even yang diklaim oleh pihak pengembang Summarecon sebagai pesta kembang api terbesar di Indonesia ini ikut menampilkan sejumlah artis dan musisi seperti Jelly Tobing, Rosa, Samsons, Ada Band, Desy Ratnasari, Eko Patrio, Melanie Putria dan Novia Angie.

Rangkain pesta ini, menurut penyelenggara, didekasikan untuk memperingati HUT RI ke-63 serta mendukung Tahun Kunjungan Wisata atau Visit Indonesia Year Tahun 2008.

Jumat, 22 Agustus 2008

Tantangan Arung Jeram Sungai Ciberang


Siapa sangka, di ujung timur Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, atau 20 kilometer dari pusat kota Rangkasbitung, terdapat lokasi wisata alam arung jeram di sungai Ciberang. Pemandangan alam perbukitan di sepanjang perjalanan menuju lokasi wisata ternyata menjadi daya tarik tersendiri bagi penyuka tantangan rifting.
Rasa letih menyusuri jalan menuju lokasi arung jeram sungai Ciberang yang terletak di Kampung Muhara, Desa Ciladaeun, Kecamatan Lebakgedong, hanya butuh waktu sekitar satu jam dari pusat kota Rangkasbitung. Jalan beraspal mulus, menyusuri jalan di antara perbukitan serta pemandangan gugusan bukit Gunung Salak di Kabupaten Bogor dan Gunung Bongkok serta hamparan sawah yang sudah dipanen menambah perjalanan makin mengasyikan.
Yang perlu diketahui juga, untuk menuju ke lokasi arung jeram sungai Ciberang dapat diakses melalui Leuwiliang-Jasinga-Tenjo di Kabupaten Bogor, lalu melewati Tigaraksa melewati Jalan Lingkar Selatan atau tinggal pilih melewati Parung Panjang, Bogor lalu ke Legok dan selanjutnya memasuki kawasan BSD, Serpong, Kabupaten Tangerang. Alternatif jalan lain itu diperkirakan memakan waktu sekitar 3 jam. Meski jalannya rusak, tapi sebagian besar sudah beraspal mulus. Kendati masih minim petunjuk jalan, namun untuk menuju ke lokasi arung jeram tidak akan sulit meski harus banyak bertanya ke penduduk di sepanjang jalan. Akses untuk menuju ke Cipanas dapat menggunakan bus dari Leuwiliang-Cipanas maupun bus seperempat Pandeglang-Rangkasbitung-Jasinga.
Sampai di pertigaan Cipanas untuk menuju lokasi arung jeram, masih sekitar lima kilometer dengan melintasi trek perbukitan yang terjal dan curam. Untuk ke sana pun, ada angkutan omprengan atau mau pilih ojek pun tersedia.
Sesampainya di kawasan Wisata Arung Jeram Sungai Ciberang yang beberapa waktu lalu sempat diresmikan Gubernur Banten Hj Ratu Atut Chosiyah, Anda dapat langsung mendaftarkan diri atau lebih dahulu booking. Namun sayang, sebagai lokasi wisata, belum banyak muncul gerai-gerai yang menjual makanan atau pun produk yang dihasilkan dari masyarakat setempat. Tapi di sekitar lokasi wisata arung jeram banyak tersedia warung-warung kelontong yang menjual aneka makanan dan minuman.
“Ke depan, kita akan kembangkan menjadi tempat wisata pilihan di Lebak maupun Banten,” ujar pengelola Wisata Arung Jeram Ciberang, Andi Sofyan kepada rombongan Tangerang Tribun, Sabtu (16/8).

Masih Alami
Rombongan Tangerang Tribun yang berarung jeram di sungai Ciberang dipandu oleh skiper pada setiap perahu yang dipakai. Bagi Anda yang pemula, akan diberikan beberapa pengetahuan dasar tentang berarung jeram. Dan perahu yang ditumpangi pemula, per satu perahu terdapat empat orang. Setelah diberikan pengetahuan dasar, perjalanan menyusuri sungai Ciberang yang membelah Kabupaten Lebak dan merupakan salah satu anak hulu sungai Ciujung dimulai. Lintasan yang dipakai untuk arung jeram hanya sekitar 10 kilometer.
Menyusuri lintasan arung jeram sungai Ciberang yang penuh bebatuan dan airnya masih jernih seperti melintasi hutan yang belum tersentuh praktek pembalakan liar. Kendati harus diakui, beberapa perbukitan yang dipenuhi rimbunan pepohonan besar yang tumbuh secara alami telah ditebangi oleh masyarakat dan hasilnya akan dijual ke sejumlah kota di Serang, Tangerang, Bogor maupun Jakarta.
Terik matahari menyengat tubuh tidak terasa karena perjalanan Anda selama berarung jeram terasa lepas dan penuh dengan kejutan. Menyusuri sungai Ciberang berakhir diujung bendungan yang sudah tidak terpakai lagi. Oleh pengelola arung jeram, telah disediakan angkutan umum untuk mengangkut kembali ke lokasi peristirahatan. Setelah puas melihat pemandangan alam Lebak Gedong, perjalanan darat menyusuri jalan-jalan yang sudah mulus pun dimulai lagi. Bagi penyuka tantangan dan keindahan alam, Wisata Arung Jeram Ciberang jadi pilihan untuk berlibur di Provinsi Banten yang memiliki berjuta potensi wisata.(Tangerang Tribun)

Senin, 21 Juli 2008

Dewi Kwan Im "Kunjungi" Banten Lama


Memasuki Vihara Avalokitesvara, Komplek Banten Lama, Kota Serang, Minggu (20/7/2008) tak ubahnya berada diatas panggung pergelaran musik rock yang dipenuhi oleh asap berwarna putih. Bedanya asap di panggung pergelaran musik rock berbau bahan kimia sintetik dan tidak membuat mata pedih, tapi asap yang satu ini justru membuat pedih bagi yang tidak terbiasa dan berbau cukup wangi.
Maklum asap tersebut berasal dari pembakaran hio, alat bantu berdoa masyarakat Tionghoa beragama Budha, yang terbuat dari serbuk kayu gergajian dan dipadukan dengan bubuk lem kayu.
Meski begitu, alih-alih membuat tidak betah, para pengunjung bertanbah khidmat memanjatkan doa di depan patung-patung perlambang dewa yang diletakan didalam altarnya masing-masing. Sebetulnya ruangan vihara yang terletak tepat dibelakang Benteng Portugis di Kawasan Banten Lama itu cukup luas, tapi terlihat sempit lantaran banyaknya pengunjung memadati vihara.
“Bulan ini bertepatan dengan bulan keenam lunar kalender Imlek. Dibulan inilah, Dewi Kwan Im mencapai kesempurnaanya. Para penganut budha terutama dari kalangan tionghoa hari ini merayakan kesempurnaan dewi kwan im tersebut,” kata Humas Vihara Avolkestisvara, Asaji.
Diungkapkan Asaji pengunjung yang akan memperingati bulan kesempurnaan dewi cinta kasih ini, hingga tengah hari kemarin sudah tercatat sekitar 6.000 orang. Mereka bukan hanya berasal dari Banten tapi juga dari luar Banten seperti Jakarta, Bogor, tangerang dan bekasi. Bahkan, ada juga yang berasal dari daerah jawa barat dan sumatera.
Perayaan besar-besaran ini, akan mencapai puncaknya pada tengah malam dengan ritual berupa diperebutkannya kueh onde. Etnis tionghoa penganut agama budha meyakini mendapatkan kueh onde dalam puncak perayaan tersebut akan membuat hidup mereka dilingkupi kebahagaian dan kemakmuran sepanjang tahun berikutnya.
Perayaan ini sebenarnya baru permulaan. Karena pada bulan berikutnya kembali akan diperingati kelahiran dewi kwan im untuk kemudian akan kembali dirayakan bulan kematian dewi kwan im pada sembilan bulan setelah itu.
Fernando (29), pengusaha onderdil kendaraan bermotor asal Jakarta pusat mengaku selalu menyempatkan diri untuk memperingati perayaan-perayaan tersebut. Ia bahkan mengajak sanak keluarganya untuk itu. "Saya sama ibu, istri dan anak-anak. Sengaja ingin berdoa disaat-saat ada upacara seperti ini. Lebih berkah," katanya.(photo blog & sumber: idham/Tangerang Tribun)

Pesta Nelayan, Tradisi Doa Kemakmuran


Masyarakat pesisir Pakidulan, Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Banten, Minggu (20/7/2008), menggelar pesta nelayan di pesisir pantai Bayah dengan berbagai ritual seperti menyembelih 2 ekor Kerbau jantan. Daging Kerbau itu langsung dibagikan kepada warga sekitar yang tidak mampu. Ritual kembali dilanjutkan dengan membacakan doa bersama dibarengi dengan melakukan tabur benih ikan mas dan nila sebanyak 5 kwintal di sungai Cimadur yang lokasinya hanya puluhan meter dari pesisir pantai Bayah.
Warga setempat, Latief Wimboaji mengatakan, digelarnya pesta nelayan tersebut sebagai tanda syukur, sekaligus berharap kepada yang maha kuasa, agar hasil tangkapan ikan para nelayan kian hari kian melimpah.
“Syukuran ini tidak lain agar aktivitas nelayan dalam melakukan penangkapan ikan, selalu diberikan keselamatan serta rizki yang melimpah,” kata Ketua Forum Pemuda Pakidulan ini.
Selain itu, pesta nelayan ditujukan sebagai bagian dari budaya yang harus dijaga kelestariannya. Untuk itu, Latief berharap, Pemkab bisa lebih mendukung kegiatan tersebut. Pasalnya, selama kegiatan pesta nelayan ini berlangsung Pemkab dinilainya kurang merespon.
“Tentunya kegiatan pesta nelayan ini memerlukan biaya yang tak sedikit. Namun, sayangnya dalam kegiatan ini Pemkab hanya memberikan bantuan sebesar Rp 2 juta. Padahal, Sukabumi memberikan bantuan hingga mencapai puluhan juta untuk mendukung kegiatan ini,” tukasnya.
Sementara itu, AM Erwin Komara Sukma, salah seorang tokoh nelayan, yang sekaligus Kepala Desa Sawarna, Kecamatan Bayah mengatakan, tradisi pesta laut, tentunya bukan merupakan aksi hura-hura yang dilakukan para nelayan di Bayah, melainkan kiriman doa, agar usaha nelayan dapat menguntungkan serta mensejahterakan nelayan.
“Memang acara ini sempat tidak dilakukan tahun-tahun sebelumnya. Namun, saya berharap agar agenda ini bisa menjadi agenda rutin tahunan,” katanya.
Sementara itu, Sekda Lebak Ruswan Effendi, mengatakan, pesta laut sebagai ajang rasa syukur yang dilakukan para nelayan, hal yang sangat baik dilakukan. Karena selain berharap agar nelayan diberikan keselamatan dan kesejahteraan, acara inipun salah satu aset budaya daerah yang harus dilestarikan.
“Tentunya saya selaku pribadi, serta atas nama pemkab sangat bangga terhadap para nelayan di Bayah, karena dalam upacara ini mereka memiliki perhatian pula untuk menaburkan benih ikan sebanyak 5 kwintal di Sungai Cimadur,” tukasnya. (Banten Tribun)

Selasa, 15 Juli 2008

Badak Bercula Satu Terancam Punah


Badak Jawa di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), Pandeglang, Banten, merupakan spesies langka yang patut dilindungi seluruh pihak. Populasi Rhinoceros sondaicus yang hanya tersisa di penghujung Pulau Jawa ini sudah terancam punah, karena dari jumlah 60 ekor sejak 20 tahun terakhir tak kunjung bertambah dan bahkan mulai mengkhawatirkan.
Keberadaan “Badak Bercula Satu”, demikian lebih dikenal, pada hutan lindung seluas 120 hektare itu harus berebut makanan dengan Banteng liar yang jumlahnya mencapai ribuan ekor.
Selain terancam dengan habitat Banteng liar, Badak Jawa yang menjadi icon daerah Kabupaten Pandeglang ini, juga tergeser dengan keberadaan hewan lain yang berkembang cukup banyak seperti babi hutan dan rusa. Kesemua hewan tersebut memiliki konsumsi makanan yang sama dengan badak yakni tumbuh-tumbuhan.
"Ini tak seimbang. Jenis makanannya sama tumbuh-tumbuhan, sedang arealnya tak bertambah, badak sering mengalah," kata Kepala Taman Nasional Ujung Kulon, Agus Priambudi didampingi Project Leader World Wide Foundation (WWF) Indonesia, Adhi Rachmat Hariyadi dan Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Provinsi Banten, Yanuar saat acara Workshop Jejaring Kerja Peduli Ujung Kulon di Serang, Selasa (15/7).

Selasa, 08 Juli 2008

Situ Cipondoh Wisata Primadona dalam Kota


Situ Cipondoh menjadi tempat alternatif tujuan wisata masyarakat Tangerang. Situ yang sempat menjadi sengketa itu kini menjadi primadona di tengah ketiadaan objek wisata alam di Kota Tangerang.


Situ yang awalnya menjadi tempat berkembang biak eceng gondok dan tumbuhan liar lain, kini sudah disulap menjadi tempat rekreasi keluarga.
Memiliki luas sekitar 127 hektar yang meliputi dua kecamatan, yaitu Kecamatan Cipondoh dan Kecamatan Pinang, Situ itu digarap secara menjadi sarana rekreasi oleh warga secara swadaya sejak tahun 2006 lalu. Kini, warga banyak berdatangan untuk melihat keindahan Situ sambil melepas penat setelah sibuk oleh rutinitas kota. Ada yang sekadar duduk-duduk di pinggiran Situ, ada yang mencicipi makanan yang tersedia di beberapa rumah makan di sekitar, ada juga yang bermaksud memancing.
Ketua RW 02, Nurdin yang juga sebagai salah seorang pengurus Forum Masyarakat Pelestarian dan Pengembangan Situ Cipondoh menuturkan, pengembangan dan pembenahan Situ Cipondoh murni hasil swadaya masyarakat. Baik tenaga, pikiran maupun dana. “Juga hasil dari pengunjung,” katanya. Saat ini, Situ Cipondoh terus berbenah diri dan melengkapi sarana mulai dari halaman parkir, pembuatan tempat bersantai, sarana umum seperti toilet umum, dan penataan tempat berjualan.
Situ Cipondoh kini dijadikan tempat alternatif berlibur masyarakat. Selain tempatnya mudah dijangkau, fasilitasnya cukup murah juga kebersihan dan keindahan danau ini tidak diragukan lagi.
Pada musim liburan sekolah seperti sekarang ini, pengunjung melonjak naik. Rata-rata setiap minggunya mencapai 3 ribu orang. Padahal ju,lah pengunjung sebelumnya tidak mencapai angka itu.
Pengunjung hanya diwajibkan membayar parkir bagi yang membawa kendaraan sebesar Rp 2 ribu untuk sepeda motor dan kendaraan roda empat. Sedangkan bagi pengunjung yang ingin menikmati keindahan danau dengan menggunakan sepeda air hanya dikenakan biaya Rp 12 ribu per 30 menit, arena bermain anak dikenakan biaya Rp 2 ribu untuk anak di atas 5 tahun, sedangkan untuk anak di bawah 5 tahun tidak dipungut biaya.
Sally (20), seorang pengunjung mengaku senang berwisata di Situ Cipondoh. “Fasilitasnya hampir memadai dengan tempat wisata lain,” katanya.
Anggota Komisi D DPRD Kota Tangerang Abdul Syukur menjelaskan, Situ Cipondoh merupakan aset Pemkot Tangerang namun pengelolaannya ditangani oleh masyarakat melalui forum. Ini bertujuan untuk memperdayakan masyarakat baik dibidang kepariwisataan maupun dibidang ekonomi. “Situ ini dipugar berdasarkan hasil swadaya masyarakat sekitar,” tuturnya.(Tangerang Tribun)