Tampilkan postingan dengan label Sejarah Tangerang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Tangerang. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 September 2008

Ziarah Masjid Seribu Pintu


Masjid Nurul Yakin atau lebih dikenal dengan sebutan masjid Sewu (seribu) memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan masjid lain di Banten. Selain memiliki seribu pintu, tasbih berukuran raksasa terpajang di salah satu sudut ruangan. Tak ada keterangan tertulis, apa makna dibalik aristektur bangunan itu.

Terletak di RT 01/03, Kampung Bayur, Priuk, Kota Tangerang. Pendiri masjid adalah seorang penyebar Islam kelahiran Arab bernama Alfakir Syekh Mahdi Hasan Alqudrotillah Almuqoddam. Salah satu keunikan masjid ini adalah ruangannya yang disekat-sekat hingga membentuk ruangan seperti mushola. Setiap ruangan (mushola) diberi nama. Ada mushola Fathulqorib, Tanbihul-Alqofilin, Durojatun Annasikin, Safinatu-Jannah, Fatimah hingga mushola Ratu Ayu. Masing-masing luas area mushola sekitar 4 meter.
Selain mushola, keunikan lain adalah tasbih berukuran raksasa terpajang di dalam ruangan. Memiliki 99 butir berdiameter 10 centimeter. Setiap butir bertuliskan nama Asma’ul-Husna. Konon, tasbih itu merupakan terbesar di Indonesia. Awalnya, masjid ini kurang begitu populer karena digerus zaman. Akan tetapi, setelah mulai dipublikasikan media, masjid itu kemudian banyak dikunjungi masyarakat dari berbagai penjuru, bukan saja nasional tapi masyarakat internasional.
Supandi S, seorang pengurus masjid bagian publikasi menuturkan, hingga sekarang belum diketahui makna yang terkandung di balik arsitektur masjid yang memiliki seribu pintu itu. Tak ada keterangan tertulis dari pendiri masjid.
Kini, mushola di dalam masjid digunakan untuk aktifitas pesantren, seperti Tawasul, Dzikir hingga pengajian rutin.
Masjid seribu pintu diyakini sebagai salah satu tempat penyebaran Islam oleh pendirinya. Konon, penyebaran dilakukan dengan cara pembagian sembako untuk fakir miskin dan anak yatim piatu, “Sejarah di dalam masjid ini karena mempunyai pintu sebanyak seribu, selain itu cara penyebaran Islamnya dari beberapa generasi dengan cara pembagian sembako rutin setiap Jum’at,” ujar Supandi.
Menurutnya, masjid seribu ini menjadi salah satu tempat paling menarik bagi wisatawan. Tak hanya local tapi wisatawan asing. Seperti wisatawan dari negeri jiran (Malaysia), Brunai Darusalam, Tokyo hingga Singapura. Umumnya, mereka ingin mengetahui tasbih yang berukuran besar yang tertulis ayat-ayat Al Qur’an. “Mereka sangat kagum dengan tasbih itu,” katanya. Hanya saja, belum diketahui siapa pembuat dan sejak kapan tasbih itu dibuat. “Semuanya masih misteri,” pungkasnya.

Senin, 18 Agustus 2008

Mengenang Perjuangan Taruna di Tangerang

Peristiwa Lengkong yang terjadi pada tahun 1946 silam menjadi bagian sejarah penting bangsa Indonesia. Banyak Taruna bangsa yang jatuh berguguran oleh tentara Jepang dalam pertempuran yang tidak seimbang. Inilah pertempuran terdahsyat di Banten sejak diproklamirkannya Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945.
Taman Makam Pahlawan (TMP) Taruna yang terletak di Kota Tangerang menjadi saksi perjuangan para pahlawan yang sebagian besar taruna muda dalam mempertahankan kemerdekaan. Akademi Militer (AM) di Tangerang, lahir setelah proklamasi Kemerdekaan Indonesia 1945. Di sini, para taruna mendapat pendidikan dan gemblengan dari Perwira Peta yang sudah melepaskan diri dari para pendidiknya perwira-perwira Jepang.
Mereka ketika itu lebih memilih mendidik kader dari bangsa sendiri untuk menjadi pejuang yang tangguh serta mempunyai tanggungjawab moril dalam meneruskan perjuangan. Akademi Militer ini dipimpin oleh Mayor Daan Mogot.
Suatu ketika, para taruna negeri tergerak untuk menguasai (melucuti) senjata Jepang yang tersimpan di gudang yang lokasinya di daerah Lengkong Wetan, Kecamatan Serpong, Tangerang. Keinginan merebut senjata Jepang itu dipicu peristiwa 10 November 1945 di Surabaya dan adanya indikasi bila Belanda akan menjajah lagi.
Maka disusunlah suatu skenario untuk dapat menguasai senjata-senjata Jepang tanpa pertempuran.
Setelah skenario ini disepakati, berangkatlah dua seksi (atau sekitar 70 orang) dari Akademi Militer di bawah pimpinan Komandan Mayor Daan Mogot dan
Letnan I Soebianto Djojohadikoesoemo dan Letnan Soetopo selaku Polisi Tentara Resimen IV, ke Lengkong Wetan, Kecamatan Serpong, Tangerang.
Mayor Daan Mogot dengan rombongannya dibawa menghadap ke pimpinan Jepang, sedang para pengikutnya dari Akademi Militer menunggu di luar, menunggu hasil dari perundingan. Saat itulah, pertempuran yang tak pernah diduga meletus. Sebagian besar taruna berikut Mayor Daan Mogot gugur menjadi bunga bangsa. Dari 70 anggota Akademi Militer, 41 di antaranya gugur termasuk Mayor Daan Mogot, Letnan I Soebianto Djojohadikoesoemo dan Letnan Soetopo selaku Polisi Tentara Resimen IV.
Selain tiga nama besar itu, 34 Taruna Akademi Militer Tangerang turut gugur dalam pertempuran. Mereka kemudian dimakamkan di lokasi sama di Tangerang yang kini disebut Taman Makam Pahlawan (TMP) Taruna. Total pahlawan yang dimakamkan di TMP ini berjumlah 42 orang.
Kini, TMP itu dikelola oleh Yayasan 45 atau biasa disebut Kantor Veteran. TMP itu kini menjadi bukti sejarah perjuangan anak bangsa. Hanya saja, tempat ini berubah seiring dengan perkembangan zaman. TMP sekarang banyak sudah digunakan untuk beraktivitas berbagai kalangan, khususnya para purnawirawan dan para istri purnawirawan yang sering mengadakan kegiatan, baik kegiatan keorganisasian maupun kemasyarakatn.
Sekretaris Dewan Pengurus Harian Cabang Angkatan 1945, Drs H D Wikianda di Sekretariat DPHC Tangerang menuturkan, TMP Taruna sering dikunjungi oleh berbagai macam kalangan seperti anggota Kodim, anggota TNI maupun anggota polisi baik dari Wilayah Tangerang maupun dari luar Tangerang terutama pada momen-momen penting seperti menjelang peringatan HUT RI.(Tangerang Tribun)