Tampilkan postingan dengan label potensi daerah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label potensi daerah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Januari 2009

Salsa Food City, Alternatif Wisata Kuliner


Acara makan malam bersama biasa dijadikan momentum bagi sekelompok orang untuk mempererat ikatan emosional baik dalam bentuk kekeluargaan maupun persahabatan. Alternatif pencarian lokasi yang kondusif, nyaman dan mendukung terkadang cukup membingungkan.
Di Jogjakarta pasangan muda-mudi, sekelompok remaja atau pemuda, bahkan sekumpulan anggota keluarga biasa memanfaatkan suasana malam untuk mempererat tali persahabatan dan kekeluargaan dengan makan malam di warung-warung lesehan terbuka dengan menu makanan khas Jogja.
Aneka jajanan malam yang menawarkan suasana khas di Jogjakarta terbilang relatif banyak dan bervarisi. Sehingga tidak terlalu sulit untuk menentukan lokasi untuk menghabiskan malam bersama keluarga, kerabat, atau sahabat. Lalu bagaimana dengan kita yang tinggal di wilayah Tangerang?
Pusat jajanan malam di kota ‘Seribu Industri’ ini bisa terbilang jarang dan sulit untuk ditemukan. Namun, bukan berarti Tangerang tidak memiliki lokasi menarik dan unik untuk dijadikan ajang temu kangen dan merekatkan tali persaudaraan antara keluarga, sahabat, bahkan teman dekat.
Serpong, yang akrab di telinga masyarakat Tangerang dengan sebutan ‘Kota Nuansa’ ternyata menyimpan sebuah alternatif lokasi makan malam dengan nuansa santai penuh keromantisan yang ditunjang dengan menu makanan yang beraneka ragam dan bervariasi.
Salsa Food City (SFC) yang akrab dikenal dengan Family Food Court memiliki sebuah differensiasi menu dan nuansa yang ditawarkan sebagai pusat jajanan malam di selatan Kota Tangerang. Dengan luas area 3000 meter persegi SFC menghidangkan aneka variasi makanan yang sangat lengkap karena ditunjang dengan kumpulan restoran-restoran ternama baik internasional maupun lokal.
“Ada lebih dari 50 aneka menu makanan yang ada di SFC, seperti Seafood, Sate, Sop Kambing, Mie Ayam, DJ Steak, Sari Laut, Warung Betawi Ayam Bakar Taliwang, Sate Khas Tangerang, Batavia Steak, Kantin Murah, Es Duren, Martabak Mini and Coffee 777. Harganya relatif murah kok,” kata Cut Meutia, General Manager Of Coorporate Communication PT. Summarecon Agung.
Nuansa SFC sendiri menampilkan design bangunan yang menarik, unik dan berkesan sangat santai cocok bagi pengunjung yang ingin bersantai untuk menikmati makanan dan minuman bersama teman dan keluarga.
“SFC memang sengaja dikonsep dalam bentuk rumah makan di ruang terbuka, sehingga pandangan ke arah tidak terhalangi. Di malam hari menjadi sangat mengesankan,” ujarnya.
Selain menu makanan dan nuansa malam yang mengesankan pengunjung SFC akan dimanjakan dengan beragam fasilitas pendukung selain menu makanan yang variatif dan beragam, seperti 40 meja dan 180 kursi, wastafel, toilet umum, tempat parkir, meja dan kursi. “Yang berbeda di sini adalah acara Live Musik setiap malam di Panggung Salsa,” imbuh Meutia.
Dalam acara Live Musik di Panggung Salsa pengunjung dimanjakan dengan kebebasan untuk merequest lagu-lagu yang akan dibawakan oleh beberapa orang artis megapolitan, dan tidak jarang artis-artis ibu kota tampil mengiringi makan malam para pengunjung.
“Konsep musiknya sendiri kita arahkan kepada jenis musik latin untuk menambah suasana harmonis dan familiar,” imbuhnya lagi.
Amel, salah seorang pengunjung warga keturunan yang hadir saat Tangerang Tribun meliput pusat jajanan malam ini mengaku kepincut dengan hidangan Seafood dan Es Duren yang tersedia di SFC. Dirinya juga mengaku sering berkunjung ke SFC, karena terkesan dengan nuansa dan suasana malam di SFC.
“Saya biasa ke sini bersama teman-teman, keluarga juga sering saya ajak ke sini. Awalnya sih saya tau SFC dari soulmate saya,” ujarnya sambil asik menyantap hidangan seafood SFC.
Pusat jajanan malam yang diresmikan sejak 23 September 2004 ini, juga menyediakan tempat khusus untuk acara-acara seperti ulang tahun, gathering, arisan, dll. “untuk acara keluarga kita fasilitasi maximal untuk 100 orang dengan biaya penyewaan Rp. 200.000 per acara. Kita fasilitasi dengan 25 buah meja, 100 kursi dan panggung,” ungkap Meutia.

Emas Gunung Halimun akan Dieksplorasi

Pemerintah Kabupaten Lebak sedang mengajukan penguasaan 1.000 hektar lahan di Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) yang akan dijadikan lokasi pertambangan emas.
Kepada Tangerang Tribun, Bupati Lebak Mulyadi Jayabaya mengatakan, untuk memuluskan rencana itu Wakil Bupati Lebak Amir Hamzah dan Kepala Dinas Pertambangan Sopyan sedang melakukan lobi agar usulan tersebut disetujui Menteri Kehutanan (Menhut) MS Kaban. Bupati menjelaskan, lahan di kawasan Gunung Halimun seluas 1.000 hektar yang masuk ke wilayah Kecamatan Cibeber, Lebak Gedong, serta Kecamatan Cirinten mengandung kadar emas dan kadar jenis tambang lainnya.
“Kami berharap disetujui pak Menteri,” ujarnya.
Menurutnya, bila hal itu disetujui Departeman Kehutanan, maka kekayaan alam di lokasi setempat, akan semakin mendongkrak pendapatan daerah Kabupaten Lebak. Saat kawasan TNGHS yang termasuk dalam hutan yang dilindungi negara itu dikelola Dephut.
“Saya optimis permintaan kita akan dikabulkan, karena alasannya lokasi Gunung Halimun tersebut berada di dalam wilayah Kabupaten Lebak,” ujarnya.
Dijelaskannya, bila nantinya disetujui, maka pengelolaannya akan dilakukan oleh pemerintah daerah, sehingga akan menghasilkan pendapatan sebesar Rp 50 miliar pertahun. Selain itu, dengan adanya penambangan emas di lokasi tersebut, dengan sendirinya akan dapat meningkatkan perekonomian masyarakat di sekitar lahan tersebut.
“Selain dapat menyerap tenaga kerja, masyarakat setempat yang bermukim di sekitar lahan dapat memanfatkannya untuk bercocok tanam dan lain sebagainya dan ini akan meningkatkan taraf ekonomi masyarakat,” tukasnya.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Lebak Robert Chandra mengatakan, bahwa saat ini para ahli eksplorasi kandungan bawah tanah sedang menyelidiki potensi emas yang ada di Gunung Halimun. Namun seberapa besarnya kandungan emasnya belum dapat diketahui secara pasti.
“Tetapi telah diketahui bahwa di lahan tersebut ada kandungan emasnya, sehingga Pemkab akan berupaya untuk menjadikan hutan tersebut sebagai tambang lokasi emas," pungkasnya.
Sementara Ketua Keluarga Mahasiswa Lebak (Kumala) Wandi S mengatakan, Pemkab Lebak seharusnya memikirkan dampak negatif yang ditimbulkan. Apakah nilai manfaatnya lebih besar atau sedikit bagi masyarakat.
“Pemkab harus memikirkan dampak yang ditimbulkan akibat lokasi tambang emas tersebut bagi masyarakat sekitar nantinya,” tukasnya.
Menurut Wandi, pendapatan daerah tidak hanya dihasilkan dari tambang saja, sebab masih banyak lahan lain yang bisa dijadikan proritas bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Pasalnya, dampak kerusakan yang akan dihasilkan akan lebih banyak seperti resapan air , satwa, ekosistem dan lain sebagainya.
“Sedangkan manfaatnya belum tentu dirasakan oleh masyarakat Lebak,” tukasnya.

Rabu, 15 Oktober 2008

Pencari Kerja di Tangerang Tinggi


KOTA,TRIBUN-Jumlah pencari kerja di Kota Tangerang membludak pasca Lebaran. Dinas Ketenagakerjaan mencatat ada 3.554 pencari kerja yang membuat kartu kuning hingga Selasa (14/10).
179 pencari kerja di antaranya tidak memiliki KTP Kota Tangerang. Pencari kerja yang tidak memiliki KTP Tangerang ini ditengarai sebagai pendatang yang baru tiba di Tangerang.
Kepala Seksi Penempatan Tenaga Kerja Dinas Tenaga Kerja Kota Tangerang Apendi ketika ditemui Tangerang Tribun menuturkan, jumlah pemohon kartu kuning setiap hari pasca Lebaran terus meningkat.
Pembuatan kartu kuning atau kartu pencari kerja setiap harinya dibuka sejak pukul 08.00 WIB hingga pukul 13.00 WIB. Sejak dibuka, antrean masyarakat pembuat kartu kuning tidak pernah kosong. Pada Senin (13/10) lalu saja, Disnaker mencatat 926 orang pembuat kartu kuning.
Menurut Apendi, dari sekian banyak pencari kerja yang terdaftar di Disnaker, 90 persen berpendidikan D.III dan S1. Hal ini terjadi akibat adanya beberapa lowongan yang dibuka di instansi pemerintah, baik pusat maupun daerah yang mengambil batas pendidikan D.III untuk mengisi formasi-formasi yang ada.
Kepala Bagian Tata Usaha, Iman Bastaman ketika ditemui Tangerang Tribun diruang kerjanya menuturkan, pihaknya akan terus meningkatkan pelayanan terhadap masyarakat yang membutuhkan kartu pencari kerja atau kartu kuning.
Saat ini pihaknya mengantisipasi lonjakan pembuat kartu kuning dengan memperbantukan tenaga tata usaha ke bagian pencatatan kartu kuning, karena pegawai yang ada sudah cukup keteteran melayani pencari kerja yang membuat kartu kuning ini.
Pihaknya hanya menghimbau kepada perusahaan maupun instansi pemerintah yang berada di lingkungan Dinas Ketenagakerjaan Kota Tangerang agar melaporkan setiap pembukaan lowongan kerja, karena sesuai keputusan pemerintah No 4 tahun 1980 bahwa setiap perusahaan yang akan membuka lowongan pekerjaan diwajibkan melapor ke Dinas Tenaga kerja untuk didata. Sejak Januari-September 2008 tercatat 5.902 lowongan pekerjaan. Sedangkan untuk pencari kerja yang tercatat mencapai 15.645 orang.(Tangerang Tribun)

Sabtu, 06 September 2008

38.000 Petani Sekadar Penggarap

Kamsari (53), petani dari Desa Tigarasa, Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, itu baru saja kembali dari menggarap sawahnya di Desa Tipar Raya, Kecamatan Tigaraksa. Dengan membawa seutas tambang dan satu buah karung, siang kemarin ia kembali ke rumahnya untuk sekadar mengistirahatkan tubuhnya dari peluh setelah hampir setengah hari ia habiskan waktunya di sawah kampung tetangga.


Di rumah berukuran 10 x 12 meter beratapkan rumbia dan berdinding bilik itu, Kamsari sudah hampir 7 tahun menjadi petani di sawah yang sebenarnya bukan miliknya. Ia menggarap sawah milik PT BCA Bank di Desa Tipar Raya Kecamatan Tigaraksa, Ibukota Kabupaten Tangerang.
“Saya diperbolehkan menggarap tanah itu oleh perusahaan. Yah, lumayan buat bantu-bantu ekonomi keluarga,” kata Jamsari saat ditemui, Minggu (7/9) di rumahnya yang reot itu.
Suami dari Umihani yang memiliki dua anak ini, Laila (16) dan Sali (9) mengaku, sebelumnya tanah itu merupakan milik warga sekitar yang juga digarap olehnya. Namun, sudah hampir empat tahun ini sawah itu telah berpindah tangan ke PT BCA Bank.
“Alhamdulilahnya, saya masih diperbolehkan memanfaatkan lahan tersebut untuk digarap,” jelasnya.
Belakangan ini, ia kembali bingung dengan rencana PT BCA yang akan segera membangun lahan miliknya. “Bingung, mau kerja apa lagi kalau lahan itu betul-betul dibangun,” tambahnya.
Diceritakan lelaki yang merupakan penduduk asli Desa Tipar Raya, Kecamatan Tigaraksa itu, sebelum menjadi petani, ia memiliki usaha warung sembako. Namun karena persaingan semakin ketat dan dirinya tidak memiliki modal yang cukup untuk bersaing, akhirnya usahanya itu bangkrut. Sekadar untuk menutupi kebutuhan sehari-hari keluarganya saja, ia kerap menjual sisa dagangannya.
“Akhirnya saya banting stir dengan menjadi petani di sawah milik H Tabrani, orang kampung sebelah,” paparnya.
Ditanyakan tentang petani sekitar, ia mengatakan hampir dari 100 petani di Kecamatan Tigaraksa menggarap sawah milik perorangan atau sekadar memanfaatkan lahan tidur atau milik perusahaan.
“Memang tidak ada pajak, namun sewaktu-waktu mereka gunakan, ekonomi kami pun ikut terancam,” keluhnya seraya menambahkan kalau pemerintah menyediakan lapangan kerja sebagai petani dirinya siap menjadi pekerjanya.
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Tangerang, Deden Soemantri mengatakan, hampir 70.000 petani yang tersebar di Kabupaten Tangerang, 70 persennya atau hampir dari 38.000 petani menggarap sawah yang bukan miliknya.
“Hal ini kami ketahui ketika melakukan pelatihan melakukan penanaman yang efektif terhadap padi dan jenis tanaman lain,” ungkap Deden dan menambahkan selebihnya merupakan pemilik lahan.
Ia memperkirakan, para petani yang menggarap sawah milik perusahaan atau pengembang terjadi di sejumlah daerah seperti Kecamatan Pagedangan, Kecamatan Rajeg, Kecamatan Tigaraksa dan sejumlah daerah lainnya.
“Soal kepemilikan lahan secara detailnya kami tidak melakukan pendataan,” tandasnya.

Jumat, 05 September 2008

Lahan Pertanian Terus Menyusut

TANGERANG TRIBUN – Alih fungsi lahan pertanian menjadi kawasan industri, perumahan dan sentra perdagangan semakin tidak terkendali. Konsistensi pemerintah daerah untuk menerapkan Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) sebagai sentra pertanian kerap terabaikan karena alasan untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi dan investasi.
Kabupaten dan Kota Tangerang merupakan daerah di Banten yang lahan pertaniannya mengalami penyusutan sedemikian cepat. Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Tangerang sensus dari tahun 2000 hingga 2005, dari total 310.000 hektar lahan pertanian yang tersebar di wilayah utara dan barat menyusut sampai 10.000 hektar. Kecamatan Rajeg, Tigaraksa, Panongan dan Pagedangan merupakan daerah dengan keberadaan lahan pertanian yang telah beralih fungsi menjadi kawasan perumahan, kawasan industri besar maupun sedang serta tidak ditanami padi lagi.
Di Kota Tangerang, lahan pertanian juga mengalami nasib yang sama. Menurut catatan Dinas Pertanian Kota Tangerang, dari total 18.000 lahan pertanian yang tersebar di Kecamatan Neglasari, Benda, Priuk, Cipondoh dan Karawaci, kini hanya tinggal 757 hektar saja. Terus menyusutnya lahan pertanian lebih banyak telah beralih menjadi industri, perumahan serta perluasan Bandara Soekarno-Hatta, khusus untuk di Kecamatan Neglasari.
Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Tangerang menjamin, dengan keberadaan lahan sawah Kabupaten Tangerang yang kini hanya menyisakan sekitar seluas 300.000 hektar dapat memenuhi stok pangan di Kabupaten Tangerang.
“Karena satu hektar sawah saja hasil produksi mencapai 5 hingga delapan ton, dikali saja dengan luas seluruhnya areal sawah. Dengan capaian itu, sebenarnya Kabupaten Tangerang masih dapat memenuhi kebutuhan pangan masyarakat 1,3 juta jiwa selama hampir setengah tahun,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Tangerang Deden Soemantri, Kamis (4/9).
Ia menjelaskan, alih fungsi lahan pertanian banyak terjadi di Kecamatan Teluk Naga dan Rajeg. Karena Kecamatan Rajeg yang juga salah satu daerah pertanian, kini sudah banyak berdiri kawasan perumahan yang lebih banyak memanfaatkan lahan pertanian.
“Di Rajeg, kira-kira lebih dari 500 hektar sawah sudah berdiri perumahan,” jelasnya lagi.
Dihubungi terpisah, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Tangerang, Kris Marta menjelaskan, dari data tahun 2000 hingga 2005, tercatat peralihan lahan pertanian menjadi industri dan perumahan mencapai hingga 10.000 hektar. Di antaranya terjadi di Kecamatan Rajeg, Tigaraksa, Panongan Pagedangan.
“Kecenderungan peralihan ini terjadi di empat daerah ini. Salah satu tandanya dengan berubahnya tingkat ekonomi masyarakat,” kata Kris.
Lebih jauh ia mengatakan, perubahan lahan pada areal sawah cenderung tidak terjadi di bagian utara Kabupaten Tangerang. Seperti di Kecamatan Kronjo, Pakuhaji, Sepatan, Sukadiri dan bagian utara lainnya yang merupakan sentra pertanian.
“Ini merupakan salah satu dampak dari pembangunan yang belum menyentuh secara merata ke bagian utara Kabupaten Tangerang,” ujarnya.
Kepala Dinas Tata Ruang Kabupaten Tangerang Didin Samsudin menyebutkan, penataan wilayah yang terus diperbaharui karena dampak penanaman investasi di bidang industri dan perumahan sedikitnya mempengaruhi keberadaan lahan areal sawah di Kabupaten Tangerang.
“Ya, ini kan dampak dari pembangunan dan kemajuan Tangerang. Namun penataan ini kami juga mempertimbangkan sektor unggulan di sebuah wilayah. Hanya barangkali perubahannya tidak ekstrem,” pungkasnya.
Tingkatkan Produktivitas
Menanggapi banyaknya areal lahan sawah yang telah beralih fungsi menjadi perumahan dan industri, Ketua Komisi C DPRD Kabupaten Tangerang, Togu Perdamean Tobing menyatakan, hal itu terjadi karena salah satu konsekuwensi pembangunan di Kabupaten Tangerang. Namun ia mendesak, harus ada langkah kongkrit dari pemerintah daerah dengan cara membuat kebijakan untuk menggantinya dengan cara peningkatan produktivitas pertanian.
“Daerah kita kan merupakan penyangga Ibukota, konsekuwensinya adalah peningkatan pembangunan. Tapi harus ada upaya pemerintah daerah untuk menggantinya dengan menjaga ketahanan pangan masyarakat,” kata politisi PDIP ini.
Meski demikian ia mengaku kecewa dngan banyaknya areal persawahan yang telah beralih fungsi tersebut. Bahkan ia menilai hingga kini pemerintah daerah belum melakukan upaya untuk melakukan peningkatan produktivitas padi. “Janganlah kita berbicara lagi lahan yang sedikit, karena cepat atau lambat Kabupaten Tangerang akan diserbu oleh banyaknya perumahan dan industri. Tapi kita harus konsisten untuk memanfaatkan lahan yang produktif agar mampu menjaga ketahanan pangan kita,” tandasnya seraya menambahkan mekanisasi petani menggarap sawah, mesinisasi, mutu padi dan sebagainya merupakan satu hal penting yang harus dipikirkan oleh pemerintah daerah.
Diganti Produk Unggul
Terus menyusutnya lahan pertanian di Kota Tangerang pada tahun lalu sekitar 1.101 hektar dan kini hanya tersisa 757 hektar harus diubah pola tanam pertanian yang mengandalkan produk unggulan.
Kasubdin Pertanian Dinas Pertanian Kota Tangerang, Sunarto, Kamis (4/9), menuturkan, telah beralih fungsinya lahan pertanian di Kota Tangerang menjadi perumahan bahkan industri hanya akan memanfaatkan lahan yang ada sebagai lahan pertanian. Karena sekarang ini, pertanian di kota sudah beralih kepada pertanian yang sifatnya tidak terlalu membutuhkan banyak lahan tidak seperti pengembangan pertanian dengan cara tradisional. Karenanya petani di sana akan dibekali keahlian dalam hal pengembangan tanam hias.(Tangerang Tribun)

Minggu, 20 Juli 2008

Pandeglang Kaya Sumber Energi Alternatif

Pandeglang merupakan pemerintahan daerah tingkat kabupaten yang masuk ke dalam wilayah Provinsi Banten. secara geografis, Kabupaten Pandeglang terletak antara 6021i-"C 7010i- LS dan 1050 15i-1060 11i-BT. Luas Kabupaten Pandeglang mencapai 274.689,1 Ha, dengan posisi di ujung barat pusat pemerintahan Provinsi Banten. Sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Serang, bagian Selatan berbatasan langsung dengan Samudera Hindia, sebelah Barat Selat Sunda dan sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Lebak.
Sebagai daerah yang memiliki kelas kemiringan lereng dari datar sampai terjal , dari miring sampai curam untuk beberapa wilayah di sebelah selatan. Dari gambaran itu, Pandeglang sudah bisa dibayangkan memiliki potensi sumber daya alam (SDA), baik yang tersimpan di perut bumi maupun yang nampak di permukaan. Misalnya, sumber daya air, potensi minyak dan gas, potensi bahan galian dan potensi energi alternatif.
Potensi sumber daya air Kabupaten Pandeglang dipengaruhi fisiografi, iklim dan hidrologi. Iklim Kabupaten Pandeglang adalah tropis yang dicirikan dengan udara lembab dan hangat. Curah hujan tinggi dan kecepatan angin rendah, rata-rata dari 3000 mm bagian timur air dan sepanjang pantai selatan. Meningkat menjadi 4000 mm di kawsan Pegunungan Pulosari dan Aseupan di utara. Cibaliung-Cigeulis di bagian tenggara suhu rata-rata berkisar 26.80c. Perbatasan temperatur ditentukan elevasi atau ketinggian permukaan air laut.
Sungai-sungai utama meliputi Sungai Cikeusik dan Cibaliung di bagian selatan mengalir menuju Samudera Hindia, Sungai Ciseukeut, Sungai Ciliman dan Sungai Cibungur, mengalir ke Selat Sunda. Aliran sungai Cilemer dari bagian barat kaki Gunung Karang mengalir ke selatan dan bergelok mengarah barat Bojong dan menuju Muara Cibungur yang selanjutnya ke Selat Sunda.
Sementara potensi mata air terdapat di Kaki Gunung Karang Mentarap 1778 meter dari permukaan laut (DPL) dan Gunung Pulosari 1346 meter DPL, sekitar 65% mata air Kabupaten Pandeglang terdapat di kawasan ini. Mata air ini tersebar pada elevasi 200-400 meter DPL. Potensi air itu terletak hampir di setiap wilayah di 33 Kecamatan, diantaranya Kecamatan Cadasari yakni Cibulakan Desa Cadasari, Cilembur Desa Tanagara, Cisahayu desa Ciinjuk.
Kecamatan Karangtanjung meliputi Cilembur dan Citaman di Kelurahan Pagadungan. Kecamatan Pandeglang, meliputi Ciwasiat Kelurahan Pandeglang, Cijolok, Cigayam Kelurahan Sukaratu. Dan belasan kecamatan lainnya termasuk mata air yang menjadi lokasi wisata Alam Pemandian Cikoromoy di Desa Kadu Bungbang, Kecamatan Cimanuk.
Potensi Minyak dan Gas
Potensi sumber daya alam lainnya yang dimiliki Pandeglang adalah kandungan minyak dan gas. Potensi perut bumi Pandeglang itu tersimpan di pulau-pulau kecil yang menyebar di Perairan Selat Sunda dan Samudera Hindia. Pulau-pulau penyimpan potensi alam tersebut antara lain Pulau Panaitan, Pulau Peucang, Pulau Handeuleum, Pulau Boboko, Pulau Oar, Pulau Sumur, Pulau Umang, Pulau Liwungan, Pulau Popole, Pulau Tinjil dan Pulau Deli.
Kandungan minyak dan gas yang dimiliki Pandeglang salah satunya tersimpan di Pulau Deli di Samudera Hindia. Menurut data Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral Direktoral Jenderal Migas Tahun 2004, kandungan potensi Migas berlokasi di Blok Ujung Kulon itu memiliki luas sekitar 370.647 Ha.
Potensi Bahan Galian
Emas dan Perak
Potensi bahan galian boleh jadi potensi alam yang membanggakan bagi Kabupaten Pandeglang. Potensi ini tidak dimiliki daerah lainnya di Banten. Potensi dimaksud adalah emas dan perak. Kekayaan alam yang terkandung dalam perut bumi ini, berada di tenggara Kabupaten Pandeglang, yaitu di Kecamatan Cimanggu dan Cibaliung. Kekayaan alam berupa emas dan perak ini dibuktikan dengan pengangkatan dan penurunan yang berawal dari moisen awal sampai sekarang.
Di dua wilayah itu ditemukan sesar normal dan mendatar dengan arah barat laut-tenggara, timur laut-barat daya dan utara-selatan. Sesar tersebut saling berpotongan yang menyebabkan lokasi tersebut menjadi lemah sehingga memungkinkan terjadinya mineralisasi, khususnya emas yang mencapai 12 ppm pada urat kuarsa dengan batuan tufa dasitik dan tufa breksi.
Galian Golongan C
Andesit-Basal potensi alam jenis bahan galian C. Bahan galian ini terdapat di bagian utara Kabupaten Pandeglang dengan sebaran cukup luas. Andesit-Basal sebagai lava dan bongkah terdapat di banyak lokasi, antara lain, Kampung Bangangah, Desa Kondang, Kecamatan Mandalawangi. Kecamatan Cadasari Pasir Murugul Kampung Nyarenang Desa Ciinjuk, Pasir Gumapak Kampung Parakanpanjang Desa Cadasari. Di Kecamatan Pandeglang, Kampung Pagerbatu dan Pasir Angin dan banyak lagi lokasi galian C hingga paling ujung Pandeglang yakni di Kecamatan Sumur.
Sementara bahan galian C jenis pasir banyak dijumpai di beberapa lokasi. Berdasarkan letak potensi pasir dibagi menjadi tiga, yaitu pasir sungai, darat dan pantai. Pasir sungai sebagaian terdapat sebagai sirtu yang terendapkan pada bagian hulu sungai. Pasir darat berasal dari vulkanik, pasir pada sungai-sungai atau lembah purba yang sudah terkonsolidasi atau masih lepas. Pasir pantai dapat dijumpai di sepanjang pantai pada endapan pantai.
Pasir sungai darat dijumpai di beberapa lokasi seperti: Desa Sukadame, Desa Bama, Desa Menes, Desa Perdana, Kecamatan Sukaresmi, Kecamatan Saketi, Kecamatan Bojong dan Kecamatan Mandalawangi. Pasir darat dapat dijumpai di Kampung Lebak Seureuh, Kecamatan Karangtanjung. Pasir laut dapat dijumpai di Kecamatan Carita dan Labuan.
Begitupun potensi galian pasir batu atau Sirtu. Potensi hasil rombakan batuan yang telah ditransportasi air sungai dan diendapkan bila sungai sudah tidak mampu lagi mengangkut. Berdasarkan ukuran, sirtu yang dijumpai terdiri dari kerikil, kerakal dan bongkahan berbentuk membundar sebagai akibat jarak gerusan cukup jauh. Sirtu didominasi bongkah dan kerakal dari batuan gunung api yang terdiri endesit-basal. Endapat sirtu terdiri dari pasir, kerikil, kerakal dan bongkah dengan berbagai ukuran.
Feidspar, batu pasir kuarsa da persir besi. Potensi endapan feidspar terdapat pada formasi Cipacar merupakan tufa batu apung irolit berwarna putih higga afak kelabu, berbutir kasar hingga sedang, tidak terlalu padat dan mudah dipecahkan. Feidspar dijumpai di Kampung Cibiuk Desa Cibodas Kecamat Banjar. Endapan baru pasir kuarsa dan pasir besi terdapat pada batuan undak pantai. Pasir besi dapat dijumpai di Desa Rancapinang dan Batuhideung, Kecamatan Cimanggu sera Desa Sukawaris, Kecmatan Cikeusik.
Masih sederet lainnya potensi galian di Kabupate Pandeglang, yaitu Bentonil, kalsedan dan belerang. Endapan bentonit diduga terjadi dari proses devitrefikasi yaitu trasfortasi batuan tufa kaca yang terendapkan dalam lingkungan rawa. Bentonit berwarna kuning kecoklatan sampai keabuan menunjukan kilap lilin dengan ketebalan 0,5 "C 1,2 meter, ditutupi lapisan lempung tufaan relatif tebal lebih dari 3 meter.
Bentonit dapat dijumpai di Kampung Telasari Desa/Kecamatan Cigeulis. Desa Cikondang, Kecamatan Cikeusik dan Kampung Ciupas, Desa Sukadame, Kecamatan Pagelaran. Bongkahan Kolsedan berukuran 5-30 cm dijumpai pada sungai kecil di Kampung Sompok dan Kali Cilancar Kampung Cibiuk Desa Cibodas Kecamatan Banjar. Belerang alam dapat dijumpai di sekitar Gunung Pulosari termasuk Kampung Pamengker Desa Cilentung, Kecamatan Saketi.
Potensi Energi Alternatif
Kabupaten Pandeglang yang terletak di bagian paling barat Provinsi Banten memiliki wilayah kompleks dan lengkap, seperti pegunungan, pesawahan hutan dan pantai. Pada wilayah kompleks ini, ternyata sangat memungkinkan menyimpan kandungan potensi energi alternatif seperti energi biomassa, biogas, geothermal energi surya, gelombang laut dan microhyaro.