Tampilkan postingan dengan label Lingkungan Hijau. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lingkungan Hijau. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 Februari 2009

Pengikisan Pantai Tangerang Mencemaskan


Tingkat pengikisan pantai atau abrasi di sepanjang pantai laut utara, terutama di Kecamatan Sukadiri sudah sangat mengkhawatirkan. Dua desa yakni Desa Karang Serang dan Desa Tanjung Kait terancam tergenang menjadi lautan.
Dari tahun lalu, semula abrasi melanda pesisir sekitar 30 kilometer panjangnya dan sekitar ratusan meter dari garis pantai. Namun saat ini daratan yang digerus ombak menjadi lautan bertambah 2 sampai 3 kilometer pada pesisir sepanjang 50 kilometer.
“Saya takut rumah saya abis dimakan laut,” keluh seorang warga, Mahfuni (39).
Oleh karena itu, ia meminta pemerintah segera bertindak cepat terkait masalah abrasi itu sebelum meluasnya abrasi laut itu benar-benar terjadi. “Kita mah cuma pengen enak tidur, tidak dibayangi ketakutan-ketakutan rumah kami ambruk akibat abrasi yang bisa datang-datang seketika,” keluhnya.
Senada juga diungkapkan Madsani (30) tokoh muda sekitar, ia mengatakan, sebelumnya pihak desa berpenduduk 12.700 KK itu sudah meminta pada pemerintah setempat agar dibangun tanggul untuk menahan tingginya gelombang air pasang. Namun hingga kini baik pemerintah Desa, kecamatan hingga pemerintah Kabupaten Tangerang tidak merespon usaha tersebut, tetapi sebaliknya terkesan menutup mata. “Biasa pemerintah mah begitu, kalau belum ada korban masih tenang saja, karena mereka hingga kinipun mereka tidak menggubris,” kata Madsani.
Dia mengungkapkan, setiap hari tanah yang tergerus ombak terus meluas menjorok ke darat. Akibat peristiwa ini, masyarakat sekitar pesisir merasa cemas dan khawatir menjadi korban abrasi.
Dengan meluasnya abrasi di dua desa di Kecamatan Sukadiri ini, ratusan rumah terancam terkikis.
Informasi yang dihimpun menyebutkan, pemerintah daerah sebelumnya telah menyediakan lahan ditanami pohon bakau (mangrove), tetapi ditebangi warga setempat untuk keperluan bahan kayu. Selain itu, juga tekah dibangun turab yang terbuat dari bambu. Turab tersebut rusak, karena tidak kuat menahan ombak.
Dibagian lain, ketika ditanyakan permintaan membangun tanggul permanen di dua desa itu, Kepala Dinas PU Binamarga, Dedi Sutardi mengatakan, pihaknya akan melakukan koordinasi dengan Dinas Perikanan dan Kelautan (DPK) dan sebelumnya harus dilakukan kajian terlebih dahulu atas pembangunan tanggul itu. “Mesti dikaji dulu. Mendesak atau tidak?,” kata Dedi.

Rabu, 21 Januari 2009

Istri Menteri Buat Lubang Biopori

Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu (SIKIB) melibatkan ratusan siswa Sekolah Dasar Negeri 3 dan 5 Sepatan, Kabupaten Tangerang, untuk membuat lubang biopori. Lubang biopori merupakan salah satu langkah untuk mengantisipasi banjir,” kata Ketua SIKIB, Murniati Widodo AS di Tangerang, Selasa (20/01).
Istri Menteri Koordinator Polkam ini menjelaskan, pihaknya sengaja mengajak siswa SD dengan tujuan untuk merangsang dan memberikan pengetahuan langkah mengantisipasi banjir sejak dini. Bagaimana biopori yang merupakan tekonologi sederhana untuk konservasi lahan dapat difungsikan mencegah longsor dan banjir. “Kami akan membuat lubang biopori dengan ukuran diameter sekitar 10 sentimeter dan berkedalaman antara 80 hingga 100 sentimeter,” ujarnya.
Dalam pemberian pengetahuan Biopori, ratusan siswa SD tersebut diperkenankan membuat lubang biopori sebanyak 125 titik dilokasi di sekitar halaman SDN 3 dan 5 Sepatan.
Selain memberikan pemahaman pentingnya pencegahan banjir sejak dini. Dalam kegaiatan tersebut, SIKIB juga menanam ratusan bibit tumbuhan hidroponik, sejenis tanaman yang dapat bertahan hidup tanpa tanah dengan tujuan untuk mengurangi jentik nyamuk selain itu memperkenalkan tujuh mobil pintar yang berfungsi sebagai perpustakaan jalan. “Tumbuhan hidroponik harus kita tanam di kolam atau lokasi penampungan air, untuk mencegah perkembangbiakan jentik nyamuk yang berpotensi menimbulkan wabah Demam Berdarah Dengue (DBD),” bebernya.
Salah satu kendaraan operasionalnya akan ditempatkan di wilayah Kampung Melayu Timur, Kecamatan Teluknaga, Kabupaten Tangerang.
Mobil pintar tersebut akan disebarkan di sekitar sekolah yang berada di pedesaan sehingga jauh dari perkotaan dan tidak memiliki fasilitas perpustakaan.
Kepala Dinas Pendidikan, H Ahmad Suwandhi SH yang menemani Istri Pejabat SIKIB RI itu mengatakan, kegiatan yang diadakan oleh SIKIB cukup membantu program pemerintah Kabupaten Tangerang. Pasalnya kedatangan SIKIB di tempat yang sama, SDN 3 dan 5 Sepatan ini merupakan ketiga kalinya setelah beberapa bulan tahun 2008 lalu yang juga melakukan pembangunan MCK di sekolah-sekolah itu. Dan kini berbagai program human interes seperti lingkungan, kesehatan dan pendidikan melalui penerapan biopori, penanaman pohon hiodroponik dan juga mobil pintar akan menggugah pengetahuan masyarakat utara yang cenderung tertinggal dari masyarakat Selatan atau Barat. “Ini program ketiga kalinya, bukan hanya mendukung kami berterima kasih dengan adanya kegiatan tersebut,” ujar Suwandhi.

Selasa, 20 Januari 2009

Emas Gunung Halimun akan Dieksplorasi

Pemerintah Kabupaten Lebak sedang mengajukan penguasaan 1.000 hektar lahan di Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) yang akan dijadikan lokasi pertambangan emas.
Kepada Tangerang Tribun, Bupati Lebak Mulyadi Jayabaya mengatakan, untuk memuluskan rencana itu Wakil Bupati Lebak Amir Hamzah dan Kepala Dinas Pertambangan Sopyan sedang melakukan lobi agar usulan tersebut disetujui Menteri Kehutanan (Menhut) MS Kaban. Bupati menjelaskan, lahan di kawasan Gunung Halimun seluas 1.000 hektar yang masuk ke wilayah Kecamatan Cibeber, Lebak Gedong, serta Kecamatan Cirinten mengandung kadar emas dan kadar jenis tambang lainnya.
“Kami berharap disetujui pak Menteri,” ujarnya.
Menurutnya, bila hal itu disetujui Departeman Kehutanan, maka kekayaan alam di lokasi setempat, akan semakin mendongkrak pendapatan daerah Kabupaten Lebak. Saat kawasan TNGHS yang termasuk dalam hutan yang dilindungi negara itu dikelola Dephut.
“Saya optimis permintaan kita akan dikabulkan, karena alasannya lokasi Gunung Halimun tersebut berada di dalam wilayah Kabupaten Lebak,” ujarnya.
Dijelaskannya, bila nantinya disetujui, maka pengelolaannya akan dilakukan oleh pemerintah daerah, sehingga akan menghasilkan pendapatan sebesar Rp 50 miliar pertahun. Selain itu, dengan adanya penambangan emas di lokasi tersebut, dengan sendirinya akan dapat meningkatkan perekonomian masyarakat di sekitar lahan tersebut.
“Selain dapat menyerap tenaga kerja, masyarakat setempat yang bermukim di sekitar lahan dapat memanfatkannya untuk bercocok tanam dan lain sebagainya dan ini akan meningkatkan taraf ekonomi masyarakat,” tukasnya.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Lebak Robert Chandra mengatakan, bahwa saat ini para ahli eksplorasi kandungan bawah tanah sedang menyelidiki potensi emas yang ada di Gunung Halimun. Namun seberapa besarnya kandungan emasnya belum dapat diketahui secara pasti.
“Tetapi telah diketahui bahwa di lahan tersebut ada kandungan emasnya, sehingga Pemkab akan berupaya untuk menjadikan hutan tersebut sebagai tambang lokasi emas," pungkasnya.
Sementara Ketua Keluarga Mahasiswa Lebak (Kumala) Wandi S mengatakan, Pemkab Lebak seharusnya memikirkan dampak negatif yang ditimbulkan. Apakah nilai manfaatnya lebih besar atau sedikit bagi masyarakat.
“Pemkab harus memikirkan dampak yang ditimbulkan akibat lokasi tambang emas tersebut bagi masyarakat sekitar nantinya,” tukasnya.
Menurut Wandi, pendapatan daerah tidak hanya dihasilkan dari tambang saja, sebab masih banyak lahan lain yang bisa dijadikan proritas bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Pasalnya, dampak kerusakan yang akan dihasilkan akan lebih banyak seperti resapan air , satwa, ekosistem dan lain sebagainya.
“Sedangkan manfaatnya belum tentu dirasakan oleh masyarakat Lebak,” tukasnya.

Selasa, 08 Juli 2008

Situ Cipondoh Wisata Primadona dalam Kota


Situ Cipondoh menjadi tempat alternatif tujuan wisata masyarakat Tangerang. Situ yang sempat menjadi sengketa itu kini menjadi primadona di tengah ketiadaan objek wisata alam di Kota Tangerang.


Situ yang awalnya menjadi tempat berkembang biak eceng gondok dan tumbuhan liar lain, kini sudah disulap menjadi tempat rekreasi keluarga.
Memiliki luas sekitar 127 hektar yang meliputi dua kecamatan, yaitu Kecamatan Cipondoh dan Kecamatan Pinang, Situ itu digarap secara menjadi sarana rekreasi oleh warga secara swadaya sejak tahun 2006 lalu. Kini, warga banyak berdatangan untuk melihat keindahan Situ sambil melepas penat setelah sibuk oleh rutinitas kota. Ada yang sekadar duduk-duduk di pinggiran Situ, ada yang mencicipi makanan yang tersedia di beberapa rumah makan di sekitar, ada juga yang bermaksud memancing.
Ketua RW 02, Nurdin yang juga sebagai salah seorang pengurus Forum Masyarakat Pelestarian dan Pengembangan Situ Cipondoh menuturkan, pengembangan dan pembenahan Situ Cipondoh murni hasil swadaya masyarakat. Baik tenaga, pikiran maupun dana. “Juga hasil dari pengunjung,” katanya. Saat ini, Situ Cipondoh terus berbenah diri dan melengkapi sarana mulai dari halaman parkir, pembuatan tempat bersantai, sarana umum seperti toilet umum, dan penataan tempat berjualan.
Situ Cipondoh kini dijadikan tempat alternatif berlibur masyarakat. Selain tempatnya mudah dijangkau, fasilitasnya cukup murah juga kebersihan dan keindahan danau ini tidak diragukan lagi.
Pada musim liburan sekolah seperti sekarang ini, pengunjung melonjak naik. Rata-rata setiap minggunya mencapai 3 ribu orang. Padahal ju,lah pengunjung sebelumnya tidak mencapai angka itu.
Pengunjung hanya diwajibkan membayar parkir bagi yang membawa kendaraan sebesar Rp 2 ribu untuk sepeda motor dan kendaraan roda empat. Sedangkan bagi pengunjung yang ingin menikmati keindahan danau dengan menggunakan sepeda air hanya dikenakan biaya Rp 12 ribu per 30 menit, arena bermain anak dikenakan biaya Rp 2 ribu untuk anak di atas 5 tahun, sedangkan untuk anak di bawah 5 tahun tidak dipungut biaya.
Sally (20), seorang pengunjung mengaku senang berwisata di Situ Cipondoh. “Fasilitasnya hampir memadai dengan tempat wisata lain,” katanya.
Anggota Komisi D DPRD Kota Tangerang Abdul Syukur menjelaskan, Situ Cipondoh merupakan aset Pemkot Tangerang namun pengelolaannya ditangani oleh masyarakat melalui forum. Ini bertujuan untuk memperdayakan masyarakat baik dibidang kepariwisataan maupun dibidang ekonomi. “Situ ini dipugar berdasarkan hasil swadaya masyarakat sekitar,” tuturnya.(Tangerang Tribun)

Minggu, 22 Juni 2008

Puzzle Tanaman


Penghuni Perumahan Bintaro, Pondok Aren Kabupaten Tangerang, antusias mengkampanyekan lingkungan hijau. Mereka aktif terlibat dalam gerakan menanam pohon di lingkungan mereka tinggal.
Untuk meningkatkan kepedulian warga tersebut, Minggu (22/6), digelar kegiatan bertajuk menyusun tanaman malalui “Puzzle Tanaman”.
Lantaran melibatkan hampir seluruh warga setempat, puzzle tanaman yang membentuk tulisan “Bintaroku Hijau” ini memperoleh record MURI. Selamat ya!, Semoga gerakan Go Green warga Bintaro ini kian bermanfaat bagi masyarakat dan jadi percontohan.
(oia makasih buat M Jakwan/Tangerang Tribun atas potonya)