Tampilkan postingan dengan label agropolitan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label agropolitan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 September 2008

38.000 Petani Sekadar Penggarap

Kamsari (53), petani dari Desa Tigarasa, Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, itu baru saja kembali dari menggarap sawahnya di Desa Tipar Raya, Kecamatan Tigaraksa. Dengan membawa seutas tambang dan satu buah karung, siang kemarin ia kembali ke rumahnya untuk sekadar mengistirahatkan tubuhnya dari peluh setelah hampir setengah hari ia habiskan waktunya di sawah kampung tetangga.


Di rumah berukuran 10 x 12 meter beratapkan rumbia dan berdinding bilik itu, Kamsari sudah hampir 7 tahun menjadi petani di sawah yang sebenarnya bukan miliknya. Ia menggarap sawah milik PT BCA Bank di Desa Tipar Raya Kecamatan Tigaraksa, Ibukota Kabupaten Tangerang.
“Saya diperbolehkan menggarap tanah itu oleh perusahaan. Yah, lumayan buat bantu-bantu ekonomi keluarga,” kata Jamsari saat ditemui, Minggu (7/9) di rumahnya yang reot itu.
Suami dari Umihani yang memiliki dua anak ini, Laila (16) dan Sali (9) mengaku, sebelumnya tanah itu merupakan milik warga sekitar yang juga digarap olehnya. Namun, sudah hampir empat tahun ini sawah itu telah berpindah tangan ke PT BCA Bank.
“Alhamdulilahnya, saya masih diperbolehkan memanfaatkan lahan tersebut untuk digarap,” jelasnya.
Belakangan ini, ia kembali bingung dengan rencana PT BCA yang akan segera membangun lahan miliknya. “Bingung, mau kerja apa lagi kalau lahan itu betul-betul dibangun,” tambahnya.
Diceritakan lelaki yang merupakan penduduk asli Desa Tipar Raya, Kecamatan Tigaraksa itu, sebelum menjadi petani, ia memiliki usaha warung sembako. Namun karena persaingan semakin ketat dan dirinya tidak memiliki modal yang cukup untuk bersaing, akhirnya usahanya itu bangkrut. Sekadar untuk menutupi kebutuhan sehari-hari keluarganya saja, ia kerap menjual sisa dagangannya.
“Akhirnya saya banting stir dengan menjadi petani di sawah milik H Tabrani, orang kampung sebelah,” paparnya.
Ditanyakan tentang petani sekitar, ia mengatakan hampir dari 100 petani di Kecamatan Tigaraksa menggarap sawah milik perorangan atau sekadar memanfaatkan lahan tidur atau milik perusahaan.
“Memang tidak ada pajak, namun sewaktu-waktu mereka gunakan, ekonomi kami pun ikut terancam,” keluhnya seraya menambahkan kalau pemerintah menyediakan lapangan kerja sebagai petani dirinya siap menjadi pekerjanya.
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Tangerang, Deden Soemantri mengatakan, hampir 70.000 petani yang tersebar di Kabupaten Tangerang, 70 persennya atau hampir dari 38.000 petani menggarap sawah yang bukan miliknya.
“Hal ini kami ketahui ketika melakukan pelatihan melakukan penanaman yang efektif terhadap padi dan jenis tanaman lain,” ungkap Deden dan menambahkan selebihnya merupakan pemilik lahan.
Ia memperkirakan, para petani yang menggarap sawah milik perusahaan atau pengembang terjadi di sejumlah daerah seperti Kecamatan Pagedangan, Kecamatan Rajeg, Kecamatan Tigaraksa dan sejumlah daerah lainnya.
“Soal kepemilikan lahan secara detailnya kami tidak melakukan pendataan,” tandasnya.

Kamis, 26 Juni 2008

Petani Mancanegara Kagumi Mandalawangi


Pengurus serikat tani dari Filipina, India, Timor Leste, Thailand, Malaysia, Jepang, Korea Selatan, Amerika Serikat, Amerika Latin, Afrika, Tukri, Jerman, Spanyol dan Brazil mengunjungi lahan pertanian di Mandalawangi, Kabupaten Pandeglang, Banten, Rabu (26/6).
Menurut mereka, tidak ada alasan bagi para petani maupun pemerintah Indonesia untuk tidak meningkatkan hasil pangannya dan meningkatkan perekonomian para petani.
“Indonesia, khususnya Pandeglang sangat beruntung memiliki lahan pertanian yang sangat luas. Coba di Spanyol, lahan pertanian nyaris tidak ada karena telah berubah menjadi perumahan elti dan industri-industri,’’ kata Iratexe Airiola, serikat petani asal Spanyol.
Hal yang sama juga dikatakan Mangaliso Shadrack, anggota serikat petani dari Afrika. Mangaliso berpendapat, pemerintah daerah Pandeglang harus benar-benar memperhatikan pertanian di wilayahnya. Ia juga juga menghimbau kepada para petani agar terus bersatu dan memperjuangkan hak-hak para petani.
“Biarkan saja konflik di pemerintahan. Para petani harus terus berusaha bersatu, meningkatkan hasil pertaniannya. Karena hasil petani tidak bisa dipungkiri dirasakan juga oleh bupati, menteri, hingga presiden. Mereka harusnya sadar bahwa makanan yang mereka makan adalah hasil petani. Jadi jika pemerintah tidak memperhatikan petani, itu salah besar,’’ katanya.
Selain itu, sejumlah serikat petani dari luar negeri ini juga menyatakan salut kepada para pentani Indonsia yang masih menggunakan pupuk organik. “Saya sangat setuju jika pupuk yang digunakan oleh para petani adalah pupuk organik,’’ cetus Minung Park serikat petani dari Korea Selatan.
Pada kesempatan itu, para serikat petani luar negeri ini juga menyempatkan melihat kondisi area persawahan di Mandalawangi. Mereka mengaku kagum dengan area persawahan tersebut, meski wilayah itu selalu sering terhadang masalah langkanya air. “Pemerintah setempat seharusnya memberikan solusi, misalnya dengan membuat irigasi disejumlah mata air di wilayah ini,’’ kata Minung Park lagi.
Sementara itu Hendri Saragih, Ketua Umum Serikat Petani Indonesia (SPI) Banten mengatakan, digelarnya acara ini selain untuk meningkatkan wawasan para petani dalam melakukan kegiatannya juga sebagai awal untuk memperjuangkan hak azasi para petani. Karena sampai saat ini hak azasi para petani belum jelas. (Sumber: Banten Tribun)

Minggu, 25 Mei 2008

Atasi Kemiskinan, Sektor Pertanian jadi Primadona


Pakar kehutanan dari IPB Prof Dr Herman Haeruman mengungkapkan untuk mengatasi kemiskinan yang saat ini kian meningkat, pemerintah daerah bisa mendegepankan sektor pertanian. “Sektor Pertanian dianggap sektor yang paling efektif untuk menuntaskan kemiskinan, sebab orang yang tidak bisa apa-apa masih bisa hidup dengan pertanian dan pertanian tetap bertahan ketika sektor lainnya babak belur karena terkena krisis,” katanya saat menjadi pembicara pada pembukaan Musda I Himpunan Alumni IPB Provinsi Banten di Hotel Mahadria, Sabtu (24/5) Serang.
Menurut Guru besar IPB ini, seharusnya pertanian dijadikan sektor primadona yang strategis serta bergandengan dengan sektor lainnya dalam membangun jaringan perekonomian atau networking aproach agar bisa meningkatkan daya saing.
Ia meminta kepada seluruh Alumni IPB di Banten agar membangun dan mencerdaskan masyarakatnya dengan cara memecahkan permasalahan melalui sektor pertanian tersebut. Sektor pertanian agar lebih strategis, mempunyai kualitas produk yang bagus dan bisa bersaing dengan sektor lainnya.
Salah satu langkah yang harus dilakukan ialah dengan membentuk cluster Kawasan Ekonomi Khusus Pertanian (Agropolitan) di setiap daerah, tujuannya untuk meningkatkan daya saing pertanian dari beragam komoditas dengan proses yang dibangun dari cluster-cluster di daerah itu.
Ada tiga langkah atau strategis strategi pembangunan pertanian yaitu, pertama adalah basic base strategi yakni sumber daya alam (SDA) yang tidak dipunyai oleh orang lain termasuk bagaimana mengurus masalah-masalah pertanahan, kemudian market base strategi yakni bagaimana pemasaranya, peningkatan produksinya dan termasuk pelestarian ekosistemnya dan ketiga adalah institusional base strategi yaitu proses yang dibangun dari cluster-cluster di daerah bukan langsung dari departemen.
"Di Banten, tidak hanya sekedar dibangun Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Bojonegara, tapi bisa juga dibangun Kawasan Ekonomi Khusus Pertanian atau Agropolitan, sehingga sektor pertanian dapat menjadi primadona," imbuhnya. (Tangerang Tribun)