Senin, 05 Januari 2009
Sabtu, 03 Januari 2009
Benua Atlantis itu (Ternyata) Indonesia
Oleh Prof. Dr. H. PRIYATNA ABDURRASYID, Ph.D.
MUSIBAH alam beruntun dialami Indonesia. Mulai dari tsunami di Aceh hingga yang mutakhir semburan lumpur panas di Jawa Timur. Hal itu mengingatkan kita pada peristiwa serupa di wilayah yang dikenal sebagai Benua Atlantis. Apakah ada hubungan antara Indonesia dan Atlantis?
Plato (427 - 347 SM) menyatakan bahwa puluhan ribu tahun lalu terjadi berbagai letusan gunung berapi secara serentak, menimbulkan gempa, pencairan es, dan banjir. Peristiwa itu mengakibatkan sebagian permukaan bumi tenggelam. Bagian itulah yang disebutnya benua yang hilang atau Atlantis.
Penelitian mutakhir yang dilakukan oleh Aryso Santos, menegaskan bahwa Atlantis itu adalah wilayah yang sekarang disebut Indonesia. Setelah melakukan penelitian selama 30 tahun, ia menghasilkan buku Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitifve Localization of Plato's Lost Civilization (2005). Santos menampilkan 33 perbandingan, seperti luas wilayah, cuaca, kekayaan alam, gunung berapi, dan cara bertani, yang akhirnya menyimpulkan bahwa Atlantis itu adalah Indonesia. Sistem terasisasi sawah yang khas Indonesia, menurutnya, ialah bentuk yang diadopsi oleh Candi Borobudur, Piramida di Mesir, dan bangunan kuno Aztec di Meksiko.
Konteks Indonesia
Bukan kebetulan ketika Indonesia pada tahun 1958, atas gagasan Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja melalui UU no. 4 Perpu tahun 1960, mencetuskan Deklarasi Djoeanda. Isinya menyatakan bahwa negara Indonesia dengan pera iran pedalamannya merupakan kesatuan wilayah nusantara. Fakta itu kemudian diakui oleh Konvensi Hukum Laut Internasional 1982. Merujuk penelitian Santos, pada masa puluhan ribu tahun yang lalu wilayah negara Indonesia merupakan suatu benua yang menyatu. Tidak terpecah-pecah dalam puluhan ribu pulau seperti halnya sekarang.
Santos menetapkan bahwa pada masa lalu itu Atlantis merupakan benua yang membentang dari bagian selatan India, Sri Lanka, Sumatra, Jawa, Kalimantan, terus ke arah timur dengan Indonesia (yang sekarang) sebagai pusatnya. Di wilayah itu terdapat puluhan gunung berapi yang aktif dan dikelilingi oleh samudera yang menyatu bernama Orientale, terdiri dari Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.
Teori Plato menerangkan bahwa Atlantis merupakan benua yang hilang akibat letusan gunung berapi yang secara bersamaan meletus. Pada masa itu sebagian besar bagian dunia masih di liput oleh lapisan-lapisan es (era Pleistocene) . Dengan meletusnya berpuluh-puluh gunung berapi secara bersamaan yang sebagian besar terletak di wilayah Indonesia (dulu) itu, maka tenggelamlah sebagian benua dan diliput oleh air asal dari es yang mencair. Di antaranya letusan gunung Meru di India Selatan dan gunung Semeru/Sumeru/ Mahameru di Jawa Timur. Lalu letusan gunung berapi di Sumatera yang membentuk Danau Toba dengan pulau Somasir, yang merupakan puncak gunung yang meletus pada saat itu. Letusan yang paling dahsyat di kemudian hari adalah gunung Krakatau (Krakatoa) yang memecah bagian Sumatera dan Jawa dan lain-lainnya serta membentuk selat dataran Sunda.
Atlantis berasal dari bahasa Sanskrit Atala, yang berarti surga atau menara peninjauan (watch tower), Atalaia (Potugis), Atalaya (Spanyol). Plato menegaskan bahwa wilayah Atlantis pada saat itu merupakan pusat dari peradaban dunia dalam bentuk bu daya, kekayaan alam, ilmu/teknologi, dan lain-lainnya. Plato menetapkan bahwa letak Atlantis itu di Samudera Atlantik sekarang. Pada masanya, ia bersikukuh bahwa bumi ini datar dan dikelilingi oleh satu samudera (ocean) secara menyeluruh.
Ocean berasal dari kata Sanskrit ashayana yang berarti mengelilingi secara menyeluruh. Pendapat itu kemudian ditentang oleh ahli-ahli di kemudian hari seperti Copernicus, Galilei-Galileo, Einstein, dan Stephen Hawking. Santos berbeda dengan Plato mengenai lokasi Atlantis.
Ilmuwan Brazil itu berargumentasi, bahwa pada saat terjadinya letusan berbagai gunung berapi itu, menyebabkan lapisan es mencair dan mengalir ke samudera sehingga luasnya bertambah. Air dan lumpur berasal dari abu gunung berapi tersebut membebani samudera dan dasarnya, mengakibatkan tekanan luar biasa kepada kulit bumi di dasar samudera, terutama pada pantai benua. Tekanan ini mengakibatk an gempa. Gempa ini diperkuat lagi oleh gunung-gunung yang meletus kemudian secara beruntun dan menimbulkan gelombang tsunami yang dahsyat. Santos menamakannya Heinrich Events.
Dalam usaha mengemukakan pendapat mendasarkan kepada sejarah dunia, tampak Plato telah melakukan dua kekhilafan, pertama mengenai bentuk/posisi bumi yang katanya datar. Kedua, mengenai letak benua Atlantis yang katanya berada di Samudera Atlantik yang ditentang oleh Santos.
Penelitian militer Amerika Serikat di wilayah Atlantik terbukti tidak berhasil menemukan bekas-bekas benua yang hilang itu. Oleh karena itu tidaklah semena-mena ada peribahasa yang berkata, "Amicus Plato, sed magis amica veritas." Artinya,"Saya senang kepada Plato tetapi saya lebih senang kepada kebenaran."
Namun, ada beberapa keadaan masa kini yang antara Plato dan Santos sependapat. Yakni pertama, bahwa lokasi benua yang tenggelam itu adalah Atlantis dan oleh Santos dipastikan sebagai wilayah Republik Indonesia.
Kedua, jumlah atau panjangnya mata rantai gunung berapi di Indonesia. Di antaranya ialah Kerinci, Talang, Krakatoa, Malabar, Galunggung, Pangrango, Merapi, Merbabu, Semeru, Bromo, Agung, Rinjani. Sebagian dari gunung itu telah atau sedang aktif kembali.
Ketiga, soal semburan lumpur akibat letusan gunung berapi yang abunya tercampur air laut menjadi lumpur. Endapan lumpur di laut ini kemudian meresap ke dalam tanah di daratan. Lumpur panas ini tercampur dengan gas-gas alam yang merupakan impossible barrier of mud (hambatan lumpur yang tidak bisa dilalui), atau in navigable (tidak dapat dilalui), tidak bisa ditembus atau dimasuki. Dalam kasus di Sidoarjo, pernah dilakukan remote sensing, penginderaan jauh, yang menunjukkan adanya sistim kanalisasi di wilayah tersebut. Ada kemungkinan kanalisasi itu bekas penyaluran semburan lu mpur panas dari masa yang lampau.
Bahwa Indonesia adalah wilayah yang dianggap sebagai ahli waris Atlantis, tentu harus membuat kita bersyukur. Membuat kita tidak rendah diri di dalam pergaulan internasional, sebab Atlantis pada masanya ialah pusat peradaban dunia. Namun sebagai wilayah yang rawan bencana, sebagaimana telah dialami oleh Atlantis itu, sudah saatnya kita belajar dari sejarah dan memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan mutakhir untuk dapat mengatasinya. ***
Penulis, Direktur Kehormatan International Institute of Space Law (IISL), Paris-Prancis
MUSIBAH alam beruntun dialami Indonesia. Mulai dari tsunami di Aceh hingga yang mutakhir semburan lumpur panas di Jawa Timur. Hal itu mengingatkan kita pada peristiwa serupa di wilayah yang dikenal sebagai Benua Atlantis. Apakah ada hubungan antara Indonesia dan Atlantis?
Plato (427 - 347 SM) menyatakan bahwa puluhan ribu tahun lalu terjadi berbagai letusan gunung berapi secara serentak, menimbulkan gempa, pencairan es, dan banjir. Peristiwa itu mengakibatkan sebagian permukaan bumi tenggelam. Bagian itulah yang disebutnya benua yang hilang atau Atlantis.
Penelitian mutakhir yang dilakukan oleh Aryso Santos, menegaskan bahwa Atlantis itu adalah wilayah yang sekarang disebut Indonesia. Setelah melakukan penelitian selama 30 tahun, ia menghasilkan buku Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitifve Localization of Plato's Lost Civilization (2005). Santos menampilkan 33 perbandingan, seperti luas wilayah, cuaca, kekayaan alam, gunung berapi, dan cara bertani, yang akhirnya menyimpulkan bahwa Atlantis itu adalah Indonesia. Sistem terasisasi sawah yang khas Indonesia, menurutnya, ialah bentuk yang diadopsi oleh Candi Borobudur, Piramida di Mesir, dan bangunan kuno Aztec di Meksiko.
Konteks Indonesia
Bukan kebetulan ketika Indonesia pada tahun 1958, atas gagasan Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja melalui UU no. 4 Perpu tahun 1960, mencetuskan Deklarasi Djoeanda. Isinya menyatakan bahwa negara Indonesia dengan pera iran pedalamannya merupakan kesatuan wilayah nusantara. Fakta itu kemudian diakui oleh Konvensi Hukum Laut Internasional 1982. Merujuk penelitian Santos, pada masa puluhan ribu tahun yang lalu wilayah negara Indonesia merupakan suatu benua yang menyatu. Tidak terpecah-pecah dalam puluhan ribu pulau seperti halnya sekarang.
Santos menetapkan bahwa pada masa lalu itu Atlantis merupakan benua yang membentang dari bagian selatan India, Sri Lanka, Sumatra, Jawa, Kalimantan, terus ke arah timur dengan Indonesia (yang sekarang) sebagai pusatnya. Di wilayah itu terdapat puluhan gunung berapi yang aktif dan dikelilingi oleh samudera yang menyatu bernama Orientale, terdiri dari Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.
Teori Plato menerangkan bahwa Atlantis merupakan benua yang hilang akibat letusan gunung berapi yang secara bersamaan meletus. Pada masa itu sebagian besar bagian dunia masih di liput oleh lapisan-lapisan es (era Pleistocene) . Dengan meletusnya berpuluh-puluh gunung berapi secara bersamaan yang sebagian besar terletak di wilayah Indonesia (dulu) itu, maka tenggelamlah sebagian benua dan diliput oleh air asal dari es yang mencair. Di antaranya letusan gunung Meru di India Selatan dan gunung Semeru/Sumeru/ Mahameru di Jawa Timur. Lalu letusan gunung berapi di Sumatera yang membentuk Danau Toba dengan pulau Somasir, yang merupakan puncak gunung yang meletus pada saat itu. Letusan yang paling dahsyat di kemudian hari adalah gunung Krakatau (Krakatoa) yang memecah bagian Sumatera dan Jawa dan lain-lainnya serta membentuk selat dataran Sunda.
Atlantis berasal dari bahasa Sanskrit Atala, yang berarti surga atau menara peninjauan (watch tower), Atalaia (Potugis), Atalaya (Spanyol). Plato menegaskan bahwa wilayah Atlantis pada saat itu merupakan pusat dari peradaban dunia dalam bentuk bu daya, kekayaan alam, ilmu/teknologi, dan lain-lainnya. Plato menetapkan bahwa letak Atlantis itu di Samudera Atlantik sekarang. Pada masanya, ia bersikukuh bahwa bumi ini datar dan dikelilingi oleh satu samudera (ocean) secara menyeluruh.
Ocean berasal dari kata Sanskrit ashayana yang berarti mengelilingi secara menyeluruh. Pendapat itu kemudian ditentang oleh ahli-ahli di kemudian hari seperti Copernicus, Galilei-Galileo, Einstein, dan Stephen Hawking. Santos berbeda dengan Plato mengenai lokasi Atlantis.
Ilmuwan Brazil itu berargumentasi, bahwa pada saat terjadinya letusan berbagai gunung berapi itu, menyebabkan lapisan es mencair dan mengalir ke samudera sehingga luasnya bertambah. Air dan lumpur berasal dari abu gunung berapi tersebut membebani samudera dan dasarnya, mengakibatkan tekanan luar biasa kepada kulit bumi di dasar samudera, terutama pada pantai benua. Tekanan ini mengakibatk an gempa. Gempa ini diperkuat lagi oleh gunung-gunung yang meletus kemudian secara beruntun dan menimbulkan gelombang tsunami yang dahsyat. Santos menamakannya Heinrich Events.
Dalam usaha mengemukakan pendapat mendasarkan kepada sejarah dunia, tampak Plato telah melakukan dua kekhilafan, pertama mengenai bentuk/posisi bumi yang katanya datar. Kedua, mengenai letak benua Atlantis yang katanya berada di Samudera Atlantik yang ditentang oleh Santos.
Penelitian militer Amerika Serikat di wilayah Atlantik terbukti tidak berhasil menemukan bekas-bekas benua yang hilang itu. Oleh karena itu tidaklah semena-mena ada peribahasa yang berkata, "Amicus Plato, sed magis amica veritas." Artinya,"Saya senang kepada Plato tetapi saya lebih senang kepada kebenaran."
Namun, ada beberapa keadaan masa kini yang antara Plato dan Santos sependapat. Yakni pertama, bahwa lokasi benua yang tenggelam itu adalah Atlantis dan oleh Santos dipastikan sebagai wilayah Republik Indonesia.
Kedua, jumlah atau panjangnya mata rantai gunung berapi di Indonesia. Di antaranya ialah Kerinci, Talang, Krakatoa, Malabar, Galunggung, Pangrango, Merapi, Merbabu, Semeru, Bromo, Agung, Rinjani. Sebagian dari gunung itu telah atau sedang aktif kembali.
Ketiga, soal semburan lumpur akibat letusan gunung berapi yang abunya tercampur air laut menjadi lumpur. Endapan lumpur di laut ini kemudian meresap ke dalam tanah di daratan. Lumpur panas ini tercampur dengan gas-gas alam yang merupakan impossible barrier of mud (hambatan lumpur yang tidak bisa dilalui), atau in navigable (tidak dapat dilalui), tidak bisa ditembus atau dimasuki. Dalam kasus di Sidoarjo, pernah dilakukan remote sensing, penginderaan jauh, yang menunjukkan adanya sistim kanalisasi di wilayah tersebut. Ada kemungkinan kanalisasi itu bekas penyaluran semburan lu mpur panas dari masa yang lampau.
Bahwa Indonesia adalah wilayah yang dianggap sebagai ahli waris Atlantis, tentu harus membuat kita bersyukur. Membuat kita tidak rendah diri di dalam pergaulan internasional, sebab Atlantis pada masanya ialah pusat peradaban dunia. Namun sebagai wilayah yang rawan bencana, sebagaimana telah dialami oleh Atlantis itu, sudah saatnya kita belajar dari sejarah dan memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan mutakhir untuk dapat mengatasinya. ***
Penulis, Direktur Kehormatan International Institute of Space Law (IISL), Paris-Prancis
Kamis, 01 Januari 2009
Bajaj XCD 125 DTS-Si
Senin, 29 Desember 2008
Sirkuit A1 Lippo Siap Digunakan
Pembangunan sirkuit A1 di Jalan Raya Lippo Karawaci, Kecamatan Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang segera selesai. Selain progress report pembangunan lintasan ajang bergengsi tingkat dunia itu tinggal sekitar 25 persen lagi, akhir bulan Januari 2009 nanti harus bisa digunakan.
Manager Konstruksi Sirkuit, Josef Winardi, menyatakan konsentrasi pembangunan saat ini adalah pembangunan jalan yang akan digunakan untuk sirkuit balapan. "Aspalnya akan kami tambal sesuai dengan standar yang disyaratkan," ujar Josef usai konfrensi pers, akhir pekan kemarin.
Direncanakan, pembangunan sirkuit dapat selesai 100 persen pada dua pekan mendatang, sehingga tanggal 6-8 Februari 2009 sudah optimal digunakan. Sedangkan lintasan yang akan digunakan yaitu meliputi 40 persen jalan yang selama ini digunakan untuk lalulintas komplek Lippo Karawaci dengan panjang rute 3,2 kilo meter.
Seperti diketahui sebanyak 28 negara di dunia pada 6-8 Februri 2009 akan mengikuti sirkut A1 dengan menggunakan lintasan jalan raya di Lippo Karawaci. Even A1 dengan menggunakan jalan raya serupa diselenggarakan di Valensia. Dari 28 peserta tersebut nantinya akan mewakili negara masing-masing. Race kedua A1 dipastikan dilaksanakan di sirkuit jalan raya milik Lippo Karawaci sepanjang 3,2 kilo meter ini setelah race pertama yang diadakan di Selandia Baru.
Lebih lanjut Josef mengungkapkan, pembangunan sirkuit tinggal menambah aspal sesuai standar balapan yaitu mampu menahan suhu hingga 70 derajat celsius dan gesekan ban mobil yang lebih cepat. Sementara yang digunakan di jalan tol hanya menahan menahan suhu hingga 60 derajat celsius.
Beberapa sarana juga selesai dikerjakan, seperto Pit Stop di di sebelah kampus Universitas Pelita Harapan (UPH) Karawaci dan Tribun penonton yang diperkirakan mampu menampung hingga 200 ribu penonton masih dibangun di pinggiran lintasan.
Akses jalan juga dipastikan dialihkan demi perhelatan balap internasional ini. Panitia menyarankan bagi penonton untuk memanfaatkan shutle bus yang disediakan di beberapa titik di Jakarta untuk mengurangi kemacetan yang akan terjadi.
Menanggapi progres pembangunan sirkuit ini Team Principalnya A1 Team Indonesia Bagus Hermanto mengaku puas. Ia merasa yakin pembangunan sirkuit ini sesuai dengan rencana. Pihaknya sendiri sudah menyiapkan dua pembalap nasional Zahir Ali dan Satrio Hermanto untuk mengikuti balapan A1. Keduanya menurut Bagus akan segera dibiasakan dengan sirkuit dan aspal yang digunakan setelah sirkuit jadi. "Caranya mungkin dengan berjalan kaki atau naik sepeda karena aturan tidak membolehkan mencoba dengan mobil balap," kata Bagus.
Bagus mengaharapkan dukungan dari para penonton Indonesia, karena bisa menjadi sebuah dukungan yang cukup berarti bagi para pembalap.
Manager Konstruksi Sirkuit, Josef Winardi, menyatakan konsentrasi pembangunan saat ini adalah pembangunan jalan yang akan digunakan untuk sirkuit balapan. "Aspalnya akan kami tambal sesuai dengan standar yang disyaratkan," ujar Josef usai konfrensi pers, akhir pekan kemarin.
Direncanakan, pembangunan sirkuit dapat selesai 100 persen pada dua pekan mendatang, sehingga tanggal 6-8 Februari 2009 sudah optimal digunakan. Sedangkan lintasan yang akan digunakan yaitu meliputi 40 persen jalan yang selama ini digunakan untuk lalulintas komplek Lippo Karawaci dengan panjang rute 3,2 kilo meter.
Seperti diketahui sebanyak 28 negara di dunia pada 6-8 Februri 2009 akan mengikuti sirkut A1 dengan menggunakan lintasan jalan raya di Lippo Karawaci. Even A1 dengan menggunakan jalan raya serupa diselenggarakan di Valensia. Dari 28 peserta tersebut nantinya akan mewakili negara masing-masing. Race kedua A1 dipastikan dilaksanakan di sirkuit jalan raya milik Lippo Karawaci sepanjang 3,2 kilo meter ini setelah race pertama yang diadakan di Selandia Baru.
Lebih lanjut Josef mengungkapkan, pembangunan sirkuit tinggal menambah aspal sesuai standar balapan yaitu mampu menahan suhu hingga 70 derajat celsius dan gesekan ban mobil yang lebih cepat. Sementara yang digunakan di jalan tol hanya menahan menahan suhu hingga 60 derajat celsius.
Beberapa sarana juga selesai dikerjakan, seperto Pit Stop di di sebelah kampus Universitas Pelita Harapan (UPH) Karawaci dan Tribun penonton yang diperkirakan mampu menampung hingga 200 ribu penonton masih dibangun di pinggiran lintasan.
Akses jalan juga dipastikan dialihkan demi perhelatan balap internasional ini. Panitia menyarankan bagi penonton untuk memanfaatkan shutle bus yang disediakan di beberapa titik di Jakarta untuk mengurangi kemacetan yang akan terjadi.
Menanggapi progres pembangunan sirkuit ini Team Principalnya A1 Team Indonesia Bagus Hermanto mengaku puas. Ia merasa yakin pembangunan sirkuit ini sesuai dengan rencana. Pihaknya sendiri sudah menyiapkan dua pembalap nasional Zahir Ali dan Satrio Hermanto untuk mengikuti balapan A1. Keduanya menurut Bagus akan segera dibiasakan dengan sirkuit dan aspal yang digunakan setelah sirkuit jadi. "Caranya mungkin dengan berjalan kaki atau naik sepeda karena aturan tidak membolehkan mencoba dengan mobil balap," kata Bagus.
Bagus mengaharapkan dukungan dari para penonton Indonesia, karena bisa menjadi sebuah dukungan yang cukup berarti bagi para pembalap.
Minggu, 28 Desember 2008
Yamaha Jupiter MX Modifikasi

Di Indonesia, Yamaha Jupiter MX merupakan salah satu motor favorit anak muda. Dari searching sana-sini akhirnya dapat juga beberapa foto Yamaha Jupiter MX modifikasi yang keren-keren.






Langganan:
Komentar (Atom)


