Tampilkan postingan dengan label Kerajinan masyarakat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kerajinan masyarakat. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Oktober 2008

Kreasi Enceng Gondok Bertaraf Eropa

Kreativitas mengolah bahan yang semula dianggap tak berguna menjadi sesuatu yang bermanfaat, nampaknya membuahkan hasil. Salah satunya yaitu produk kerajinan berbahan baku eceng gondok.
Selain biasa dimanfaatkan sebagai bahan membuat tas, sandal, dan lain-lain, ternyata eceng gondok juga biasa dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan furniture. Bahkan, kini furniture eceng gondok laku di pasar ekspor.
Demikian diungkapkan Rachmatullah, pengusaha furniture yang salah satu bahan dasar pembuatannya adalah eceng gondok. Tanaman tersebut diolah menjadi berbagai produk furniture seperti sofa dan kursi, serta berbagai bahan kerajinan lain yang mempunyai nilai jual tinggi.
Tumbuhan eceng gondok yang banyak tumbuh di danau dan rawa oleh sebagian besar masyarakat dianggap musuh karena menimbulkan permasalahan lingkungan, terutama mengganggu aliran air. Akan tetapi bagi sebagian orang justru memiliki potensi luar biasa.
“Sebagian besar orang beranggapan eceng gondok adalah tanaman yang tak berguna, namun dengan sedikit kreativitas apa pun biasa dijadikan tambang emas,” ungkapnya.
Ada pun proses pembuatannya sebagai berikut. Pertama, eceng gondok diangkat dari danau atau telaga, kemudian dikerat menjadi seperti tali memanjang untuk selanjutnya dikeringkan dengan bantuan sinar matahari.
Setelah kering proses selanjutnya adalah merajut atau menganyam. Bahan dasar eceng gondok yang sudah kering ini kemudian dipadukan dengan bahan rotan atau besi sebagai rangka sebelum akhirnya divernis menjadi furniture.
Bahan baku pembuatan furniture eceng gondok ini, diakuinya, masih didatangkan dari daerah setempat. “Bahan baku kita ambil dari daerah Tangerang sendiri, para perajin di sini hanya tinggal merangkainya saja, kami sudah menerima eceng gondok dalam bentuk yang sudah dianyam,” ujarnya.
Lanjutnya, furniture dari eceng gondok tersebut juga diekspor ke Eropa. Kualitas produk furniture dari eceng gondok ini ternyata bisa bertahan lama asal tidak terkena air hujan.
Harga satu set sofa eceng gondok mencapai Rp 4,5 juta, sedangkan satu kursi makan antara Rp 300 ribu - Rp 400 ribu, dan tempat sampah antara Rp 200 ribu - Rp 250 ribu. Khusus untuk ekspor ditambah biaya lain-lain, sehingga kalau ditotal bisa tiga hingga empat kali lipat dari harga lokal.

Selasa, 01 Juli 2008

Batik Banten Simbol Perjuangan “Sang Bangsawan”


Dibuat dengan hasil tangan 100 persen, dan dikerjakan secara teliti dengan nama yang diambil dari daerah paling ujung Jawa bagian Barat, Batik Banten menandakan semangat kebantenan yang tidak pernah luntur untuk terus dikumandangkan hingga ke manca negara. Siapapun yang memakainya akan merasakan kebesaran Banten masa lalu.

Sejak ditetapkan menjadi satu-satunya batik nusantara yang benar-benar memiliki karakter unik. Batik Banten ini adalah batik paten pertama yang setiap motifnya menandakan garis-garis semangat kebantenan. Bahkan di manca negara, batik ini menjadi batik juara dari 52 negara peserta pameran batik di Malaysia tahun 2005 lalu.
Menurut si empunya produksi Batik Banten, Ir Uke Kurniawan, Batik Banten adalah batik yang selalu membanggakan masyarakat Banten dimanapun ia dibawa dan dipamerkan. Lihat saja, 12 nama motif yang ada, Surosowan, Mandalikan, Kawangsan, Pasulaman, Srimanganti, Sabakingking, Pamaranggen, Pancaniti, Pasepen dan Motif Panjanten. Dari nama saja si pemakainya akan diajak untuk mengingat nama-nama gelar kebangsawanan, keraton dan sejarah-sejarah masa lalu Banten.
Lain itu, batik yang seluruh motifnya diambil dari nama toponim desa-desa kuno, nama gelar dan nama tata ruang Keraton Kesultanan Banten ini sekilas sama dengan batik nusantara lainnya. Hanya saja, sebagai batik yang membawa nama daerah di mana batik ini berada, ada sesuatu yang membedakannya yakni nama "Banten". Di mana ketika disebutkan orang akan teringat Kejayaan masa lalunya.
"Saya benar-benar tidak menyangka, ketika kami menggelar pameran di beberapa negara, orang sangat mengenal Banten. Mengenal kebesarannya. Di sinilah semangat Banten dikenalkan untuk semua kalangan," kutip Tangerang Tribun dari pemilik Produksi Banten, Uke Kurniawan di rumah industrinya di Jln Bhayangkara Depan Masjid Kubil, No 5 Kecamatan Cipocok Jaya, Kota Serang.
Menurut penuturannya, dimulai sejak adanya Surat Keputusan Gubernur Banten pada Oktober 2003 tentang pembentukan panitia peneliti batik Banten, memicu batik ini untuk dibudidayakan. Telah dilakukan pengkajian motif telah dilakukan sejak tahun 2002. Hasil dari pengkajian motif tersebut kemudian dipresentasikan di depan para arkeolog nasional, budayawan, dan pemerintah Banten pada September 2004.
"Sumber daya arkeologi yang memiliki seni hias Banten belum banyak terungkap. Hal ini yang menjadi bahan pemikiran bersama. Di antara sumber daya arkeologi yang telah terungkap secara sistematik antara lain pada Artefak Terwengkal, hasil penggalian Pusat Penelitian Arkeologi Universitas Indonesia tahun 1976," kata Uke.
Transformasi motif dari Terwengkal ke suatu kain batik Banten merupakan upaya-upaya menghidupkan kembali seni hias Banten yang telah hilang sejak abad ke-17. Penyelamatan dan pelestarian potensi kekayaan intelektual masyarakat Banten yang telah hidup ratusan tahun itu telah diwujudkan ke dalam berbagai wahana, baik pada seni hias ornamental bangunan maupun pada seni hias kain yaitu batik.
Rekonstruksi seni hias yang dimunculkan melalui wahana keramik, gelasir, dan nongelasir telah diwujudkan oleh Yayasan Baluwarti pada tahun 1994. Tahun 2002 telah dimunculkan melalui ornamental bangunan-bangunan di kawasan Banten lama. Pada tahun 2004 seni hias Banten telah dimunculkan melalui wahana kain batik oleh PT Uthana Group.
"Ragam hias lokal genius yang berkesinambungan dari masa pra sejarah hingga ke masa Islam adalah ragam hias berbentuk tumpal atau pucuk rebung, yang berubah interpretasi pemaknaannya. Pada masa Islam diisi dengan makna mukernas yang artinya perukunan," kata Uke.
Berdasarkan penelitian para Arkeolog sebetulnya ditemukan 75 ragam hias fragmen kreweng Banten yang berbentuk tumpal dan belah ketupat sebagai motif batik. Namun, pada tahap sekarang dari 75 ragam itu hanya 12 motif yang akan diproduksi, yaitu Datulaya, Pamaranggen, Pasulaman, Kapurban, Pancaniti, Mandalikan, Pasepen, Surasowan, Kawangsan, Srimanganti, Sabakingking, Dan Pejantren.
Yang menjadi batik ini membawa simbol kebanggan dan semangat Banten yang menjadi ciri khas utama batik Banten adalah motif datulaya. Motif ini memiliki dasar belah ketupat berbentuk bunga dan lingkaran dalam figura sulur-sulur daun. Warna yang digunakan, motif dasar berwarna biru, variasi motif pada figura sulur-sulur daun berwarna abu-abu, pada dasar kain berwarna kuning.
"Selama ini suvenir dari Banten hanya golok. Kesannya terlalu kasar. Dengan batik Banten, saya harap masyarakat Banten bisa dikenal sebagai masyarakat yang lembut dan berbudaya tinggi," pungkasnya. (Sumber: Tangerang Tribun)

Foto-foto di blog ini diambil oleh Sanusi Pane/Banten Tribun